Imunisasi Lindungi Anak dari Campak, Jangan Termakan Isu Bayi Meninggal Setelah Vaksin

IDAI ingatkan pentingnya imunisasi campak di atas 95% untuk cegah KLB. Jangan termakan isu bayi meninggal setelah vaksin, imunisasi terbukti aman dan lindungi anak.

Diperbarui 28 Agustus 2025, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus kejadian luar biasa (KLB) campak kembali menjadi sorotan di Indonesia. Hingga saat ini, penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi tersebut sudah terdeteksi di 14 provinsi dengan 46 wilayah terdampak, termasuk di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. 

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Subsp.Kardio(K) menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, setiap kali muncul KLB, itu adalah bukti nyata adanya penurunan cakupan imunisasi.

"Campak jauh lebih menular daripada Covid-19, bahkan 4 sampai 5 kali lipat lebih mudah menular. Karena itu cakupan imunisasi campak atau MR harus di atas 95 persen agar terbentuk herd immunity," kata dr. Piprim.

Munculnya kembali wabah campak tidak lepas dari menurunnya cakupan imunisasi. dr. Piprim menegaskan, meskipun cakupan tidak turun sampai nol, wabah tetap bisa terjadi.

"Turun 60 persen saja sudah cukup memicu KLB di banyak daerah, karena penyakit ini sangat menular," ujar dokter Piprim. 

Dokter Piprim mengajak masyarakat untuk kembali percaya pada imunisasi dan tidak terpengaruh isu yang tidak terbukti.

"KLB bisa dicegah dengan mengedukasi masyarakat yang masih ragu. Ayo sama-sama kita sadarkan pentingnya imunisasi," tambahnya.

Jangan Terpengaruh Isu Bayi Meninggal Setelah Vaksin

Salah satu penyebab rendahnya kepercayaan publik terhadap imunisasi adalah maraknya isu bayi meninggal setelah divaksin. dr. Piprim menegaskan, hal ini seringkali tidak berdasar.

"Kadang ada berita bayi meninggal setelah imunisasi, lalu timbul galau massal. Padahal belum tentu kematiannya karena imunisasi. Ini yang harus kita luruskan bersama," katanya.

Sejalan dengan itu, Ketua UKK Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof DR Dr Edi Hartoyo, SpA, Subsp IPT(K) menekankan bahwa campak adalah salah satu penyakit menular yang paling berbahaya. 

"Campak adalah penyakit virus akut yang sangat menular. Satu-satunya cara pencegahan terbaik adalah imunisasi. Sayangnya, masih ada sebagian masyarakat yang tidak tahu atau enggan memberikan imunisasi pada anaknya," ujar Prof Edi. 

Campak disebabkan oleh virus measles yang menular melalui droplet atau kontak langsung. 

Komplikasinya bisa sangat berbahaya, mulai dari pneumonia, diare, infeksi telinga, hingga peradangan otak.

"Pada kondisi tertentu, campak dapat menyebabkan kematian," katanya. 

WHO juga mencatat, KLB campak masih sering terjadi di berbagai negara dengan cakupan imunisasi rendah, termasuk Bangladesh, India, Myanmar, Korea Utara, Thailand, Timor Leste, dan Indonesia.

Data dan Gejala Campak

Data Kementerian Kesehatan tahun 2023 mencatat 39.024 kasus campak di Indonesia, meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Meski pada 2024 jumlahnya menurun, Prof Edi mengingatkan risiko KLB tetap tinggi. "Status imunisasi kita masih belum optimal, sehingga risiko KLB campak tetap ada," ujarnya. Prof Edi, menjelaskan, campak memiliki perjalanan penyakit khas dalam tiga stadium:

  • Stadium prodromal: demam tinggi sulit turun, batuk, pilek, dan mata merah.
  • Stadium erupsi: hari ke-4 hingga ke-6 muncul ruam merah dari kepala lalu menyebar ke seluruh tubuh.
  • Stadium penyembuhan: panas menurun, ruam menghitam dan mengelupas jika tidak ada komplikasi.

"Gejala khas campak adalah demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam bertahap dari kepala ke seluruh tubuh. Inilah yang membedakan dengan penyakit lain," tambahnya.

Faktor Risiko Campak Berat

Beberapa kelompok anak lebih berisiko mengalami komplikasi campak berat, di antaranya:

  • Anak dengan gizi buruk atau malnutrisi
  • Anak dengan sistem imun rendah
  • Anak yang mendapat obat imunosupresif jangka panjang
  • Anak dengan kanker atau penyakit kronis
  • Anak yang bepergian ke daerah endemis tanpa imunisasi
  • Anak yang kekurangan vitamin A

Pada ibu hamil, infeksi campak juga bisa menimbulkan dampak serius bagi janin.

Imunisasi adalah Hak Anak dan Pencegah Stunting

Dokter Piprim menegaskan bahwa imunisasi merupakan hak dasar anak. Anak berhak hidup sehat dan terlindungi dari penyakit berbahaya seperti campak.

"Imunisasi adalah hak anak. Anak berhak sehat, terlindungi, dan tumbuh optimal tanpa ancaman penyakit berbahaya," katanya. 

Selain melindungi dari penyakit, imunisasi juga dapat mencegah stunting. "Salah satu penyebab stunting adalah infeksi kronis berulang. Dengan imunisasi lengkap, anak bisa terhindar dari gangguan pertumbuhan," tambahnya.

Dengan penyebaran KLB campak di berbagai daerah, para pakar IDAI menegaskan kembali bahwa vaksinasi rutin adalah langkah paling efektif. Cakupan imunisasi yang tinggi akan menjadi benteng utama perlindungan anak Indonesia. 

"Imunisasi terbukti aman dan menjadi investasi kesehatan anak bangsa. Jangan ragu, jangan galau, karena imunisasi adalah perlindungan terbaik bagi anak-anak kita," pungkas dokter Piprim.Â