Liputan6.com, Jakarta - Varian baru COVID 2025 dengan kode NB.1.8.1 atau dikenal sebagai varian Nimbus kini menjadi perhatian global.Â
Varian Nimbus COVID ini terdeteksi meluas di 13 negara bagian Amerika Serikat dan sudah dilaporkan oleh 22 negara ke database GISAID, menunjukkan peningkatan signifikan secara global dalam beberapa pekan terakhir.Â
Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per 7 Juni 2025, varian COVID Nimbus menyumbang sekitar 37 persen kasus COVID-19 di AS, menjadikannya varian terbanyak kedua setelah LP.8.1 yang mendominasi 38 persen kasus.Â
Advertisement
Kemunculan varian COVID Nimbus ini terjadi saat Amerika memasuki musim panas, yang sebelumnya juga dikenal sebagai periode lonjakan kasus, seperti dikutip dari TODAY pada Kamis, 12 Juni 2025.
Tersebar di 13 Negara Bagian AS
Sejak pertama kali terdeteksi lewat program skrining bandara akhir Maret lalu, varian COVID Nimbus telah menyebar di 13 negara bagian Amerika Serikat:
- Arizona
- California
- New Jersey
- New York
- Hawaii
- Illinois
- Maryland
- Massachusetts
- Ohio
- Rhode Island
- Vermont
- Virginia
- Washington
Mutasi yang terdapat pada varian COVID-19Â ini diduga membuatnya lebih mudah menular. Salah satu mutasi kunci terjadi pada bagian spike protein yang memengaruhi keterikatan virus dengan reseptor tubuh manusia.
Penjelasan Genomik Varian Nimbus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3359879/original/060568700_1611653880-20210126-KASUS-POSITIF-TEMBUS-1-JUTA-HERMAN-10.jpg)
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor di Griffith University, Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa secara genomik, varian NB.1.8.1 berkaitan dengan XDV.1.5.1 dan JN.1.Â
Dibandingkan dengan LP.8.1, varian Nimbus memiliki sejumlah mutasi spike, yaitu T22N, F59S, G184S, A435S, V445H, dan T478I.
"Mutasi pada posisi spike 445 meningkatkan keterikatan dengan reseptor hACE2, sehingga membuat varian ini lebih mudah menular," kata Prof. Tjandra kepada Health Liputan6.com, Rabu, 11 Juni 2025.Â
Dia menambahkan bahwa peningkatan transmisi ini kemungkinan berperan dalam naiknya kasus di berbagai negara.Â
Per 18 Mei 2025, sebanyak 518 sekuen NB.1.8.1 telah dilaporkan ke GISAID oleh 22 negara.
Data dari pekan epidemiologi ke-17 (21–27 April 2025) menunjukkan varian ini mencakup 10,7 persen dari data global, meningkat drastis dari 2,5 persen empat minggu sebelumnya.
Peningkatan signifikan ini terjadi di Asia, Eropa, dan Amerika. Prof. Tjandra menyarankan Indonesia perlu meningkatkan surveilans genomik untuk memantau penyebaran varian ini. Salah satu langkah yang dia rekomendasikan adalah:
"Melakukan tes COVID-19 pada seluruh kasus Severe Acute Respiratory Illness (SARI) yang dirawat, serta 5 persen dari kasus Influenza-Like Illness (ILI). Hasil positif kemudian dikirim untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing," ujarnya
Advertisement
Gejala dan Risiko
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3466394/original/092232700_1622101782-20210527--TES-USAP-PASCA-LIBUR-LEBARAN-hERMAN-8.jpg)
Laman World Health Network menyampaikan empat poin penting mengenai varian Nimbus:
- Lebih mudah menular dibandingkan varian sebelumnya.
- Gejala bisa berupa nyeri tenggorokan hebat seperti disayat silet, lemas, batuk ringan, demam, dan nyeri otot.
- Tingkat keparahan penyakit masih belum dapat dipastikan, perlu waktu beberapa minggu untuk data klinis yang lebih lengkap.
- Munculnya di musim panas menunjukkan bahwa COVID-19 bukan hanya penyakit musim dingin.
Profesor Kesehatan Masyarakat di Yale School of Public Health, Dr. Albert Ko, mengatakan, mutasi varian ini tampaknya memperkuat kemampuannya mengikat sel manusia, sehingga lebih mudah menular.Â
"Mutasi NB.1.8.1 dapat menyebabkan varian ini mendominasi ke depannya," katanya dikutip dari TODAY.com.
Perlu Waspada Tapi Bukan Panik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3972285/original/033741300_1648015179-20220323-VAKSINASI-COVID-19-6.jpg)
Sementara itu, Profesor Mikrobiologi Molekuler dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Dr. Andy Pekosz, menambahkan, kekebalan masyarakat AS memang tinggi, tapi bisa berkurang seiring waktu.
"Semakin jauh jarak dari vaksinasi atau infeksi terakhir, semakin besar kemungkinan seseorang kembali rentan," katanya.
Para ahli menyarankan masyarakat untuk tetap waspada dan menerapkan langkah pencegahan dasar seperti:Â
- Vaksinasi booster
- Memakai masker di tempat ramai
- Mencuci tangan
- Menjaga jarak
Advertisement
Indonesia Perlu Antisipasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3466387/original/068087300_1622101664-20210527--TES-USAP-PASCA-LIBUR-LEBARAN-hERMAN-1.jpg)
Dengan tren peningkatan global, Indonesia disarankan tidak lengah.Â
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan didorong untuk memperkuat pelacakan, meningkatkan kapasitas laboratorium Whole Genome Sequencing, serta melakukan edukasi publik mengenai gejala dan pentingnya vaksinasi.Â
Prof. Tjandra juga mengingatkan bahwa lonjakan kasus bisa terjadi tanpa terdeteksi jika tidak ada upaya surveilans aktif.
"Dengan lonjakan varian di negara lain, kita perlu bersiap dari sekarang," pungkasnya.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3368480/original/019432900_1612433795-20210204-Pasien_Covid-19_Tanpa_Gejala-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3522295/original/038031000_1627365254-004363600_1610009844-20210107-lonjakan-kasus-covid-19-berpotensi-krisis-tenaga-kesehatan-ARBAS-1.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269025/original/029326100_1782119069-063_2281966729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8620430/original/011957700_1782610877-000_B8JY4LY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8620429/original/007432300_1782610876-000_B8JY7M2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322679/original/008420700_1782191790-Amine_Gouiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615333/original/040722200_1782601521-000_B8JQ6V9.jpg)