Lonjakan COVID-19 Tutup Sekolah di Thailand, Prof Tjandra Ingatkan Indonesia Bersiap

Sekolah di Thailand tiba-tiba ditutup akibat lonjakan COVID-19. Apa yang sebenarnya terjadi? Prof Tjandra beri peringatan penting untuk Indonesia.

Diperbarui 05 Juni 2025, 10:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus COVID-19 kembali mengalami peningkatan di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Singapura, Malaysia, dan Hong Kong. 

Di Thailand, lonjakan kasus bahkan telah menyebabkan penutupan sekolah. Salah satu sekolah yang terdampak adalah Ratwinit Bangkaeo School di Distrik Bang Phli, Samut Prakan, yang kini kembali memberlakukan pembelajaran daring (online). 

Melihat kondisi ini, Kementerian Kesehatan RI langsung merespons dengan menerbitkan Surat Edaran Kewaspadaan terhadap Peningkatan Kasus COVID-19 yang ditujukan kepada seluruh jajaran kesehatan di Indonesia. 

Pakar pulmonologi yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa masyarakat Indonesia harus bersikap waspada tanpa panik berlebihan.

"Peningkatan kasus COVID-19 di beberapa negara tetangga perlu kita amati dengan cermat. Tidak perlu panik, tetapi jelas harus waspada. Tidak bisa diabaikan begitu saja," ujar Prof Tjandra, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), kepada Health LIputan6.com pada Kamis, 5 Juni 2025.

Kasus Meningkat dan Varian Baru Muncul

Selain Thailand, kasus COVID-19 juga meningkat di Australia, tempat Prof Tjandra baru saja berkunjung sebagai Adjunct Professor di Griffith University, Brisbane. 

Di negara tersebut, muncul subvarian baru NB.1.8.1 yang kini tengah diantisipasi menjelang musim dingin.

"Australia kini mengantisipasi COVID-19 dalam memasuki musim dingin. Akhir pekan lalu saya sudah cukup kedinginan dengan suhu di bawah 15 derajat Celsius," kata Prof Tjandra.

Lima Langkah Penting Hadapi COVID-19 

Melihat dinamika global ini, Prof Tjandra menekankan lima langkah penting yang perlu segera diambil Indonesia untuk menghadapi potensi lonjakan COVID-19. 

Pertama, pemerintah harus meningkatkan surveilans epidemiologik dan genomik untuk mendeteksi jumlah kasus, kematian, serta varian yang beredar. 

"Kedua, vaksinasi tetap penting, terutama bagi kelompok berisiko tinggi. Idealnya satu tahun setelah vaksinasi terakhir," katanya.

Ketiga, dia mendorong adanya pemantauan intensif terhadap tren COVID-19 di negara tetangga, termasuk memperkuat kerja sama dengan ASEAN dan WHO. ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases) juga didorong untuk berperan lebih aktif. 

Keempat, masyarakat diimbau tidak lengah karena COVID-19 masih ada di sekitar kita. Kelima, menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah modal utama menghadapi lonjakan kasus, baik COVID-19 maupun penyakit lainnya. 

"Jangan panik, tapi kita harus tetap waspada. Lonjakan kasus di negara tetangga jelas tidak bisa diabaikan begitu saja," tegas Prof Tjandra.Â