Kenali Tanda-Tanda Si Kecil Alami Kekerasan Seksual, Kuncinya Peka pada Perubahan Perilaku

Meski tak selalu jelas berikut beberapa tanda yang bisa jadi anak menjadi korban kekerasan seksual. Orangtua perlu peka terhadap perubahan itu.

Diperbarui 22 Mei 2025, 12:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Anak bisa menjadi korban kekerasan seksual. Apalagi anak belum memahami batasan privasi, potensi ancaman dan sikap ketika dihadapkan pada konten seksual atau ajakan itu.

Mengingat predator seksual anak bisa saja ada di sekitar, psikolog klinis Indria Laksmi Gamayanti meminta agar orangtua lebih memahami perubahan perilaku pada anak. Pada anak yang menjadi korban kekerasan seksual biasanya memperlihatkan tanda-tanda awal meski tidak selalu jelas.

Gamayanti mengatakan beberapa tanda yang perlu diwaspadai pada anak diantaranya:

  • Perubahan perilaku yang mencolok
  • Penurunan prestasi akademik
  • Mimpi buruk hingga mengigau
  • Ketakutan berlebih terhadap sentuhan fisik 
  • Menarik diri dari lingkungan sosial. 

Jika anak memperlihatkan kondisi seperti di atas, orangtua perlu menyelami penyebabnya. Namun, respons yang tepat diperlukan agar anak tidak makin tertutup.

"Kalau langsung menyalahkan, anak akan makin tertutup dan merasa tidak aman. Padahal, ia butuh dukungan emosional untuk pulih sekaligus pendampingan agar tidak berkembang menjadi gangguan psikologis di kemudian hari,” ujar Gamayanti mengutip laman resmi UGM.

Dampak pada Anak yang Mengalami Kekerasan Seksual

Anak yang mengalami kekerasan seksual bisa berdampak jangka panjang bahkan sampai ia dewasa.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM ini mengungkapkan dampak jangka panjang dari kekerasan seksual pada anak bisa bervariasi. Mulai dari gangguan kecemasan, depresi, hingga kesulitan menjalin hubungan sosial yang sehat.

Dalam beberapa kasus, trauma yang tidak tertangani dapat mempengaruhi perkembangan seksual korban atau membentuk pola perilaku menyimpang di masa dewasa.

Pendidikan Seksual

Gamayanti mengingatkan kepada orangtua agar bisa memberikan pendidikan seksualitas sejak dini ke anak sesuai usia. Dimulai dari pengenalan bagian tubuh, batasan interaksi fisik, dan pemahaman tentang media digital.

Komunikasi terbuka antara anak dan orangtua juga menjadi kunci pencegahan seperti pesan Gamayanti.