Malaria Masih Mengintai, Cegah dengan Strategi ABCD

Dokter spesialis penyakit dalam Rizka Zainuddin mengingatkan bahwa malaria masih ada terutama di daerah endemis.

Diperbarui 06 Mei 2025, 10:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dokter spesialis penyakit dalam Rizka Zainuddin mengingatkan bahwa malaria masih ada terutama di daerah endemis. Menurutnya, untuk mencegah malaria perlu menerapkan konsep ABCD, yakni awaraness, bite prevention (pencegahan gigitan), chemoprophylaxis, dan diagnostik.

"Yang pertama adalah awareness. Awareness ini harus kita tanamkan, terutama untuk orang-orang yang akan memasuki daerah endemis. Mungkin dia tidak akan familiar dengan cara pencegahan, apalagi gejala dari malaria itu sendiri," kata Rizka mengutip Antara.

Rizka mengingatkan orang-orang yang akan berpindah atau sementara bekerja di daerah yang endemis, seperti di Papua, perlu mendapatkan edukasi untuk mencegah gigitan nyamuk. Untuk diketahui sebanyak 89% kasus positif malaria dilaporkan dari Provinsi Papua. 

Edukasi yang perlu didapatkan mulai dari penggunaan kelambu yang benar, menggunakan baju lengan panjang untuk mencegah penularan.

Selain itu, perlu menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk berkembang biak, selain itu penggunaan losion antinyamuk.

Kemudian, chemoprophylaxis, katanya, adalah obat yang perlu dikonsumsi untuk orang-orang yang sementara tinggal di daerah endemis.

"Jadi, ada namanya azithromycin 1 tablet, diminum 1 hari sebelum keberangkatan ke daerah endemis, selama pasien di sana, misalnya selama 3 minggu, setiap hari harus minum, hingga 4 minggu setelah kepulangan kembali ke Jakarta misalnya," ujarnya.

 

Belum Ada Vaksin untuk Malaria, Pencegahannya?

Rizka mengatakan bahwa saat ini belum ada vaksin untuk malaria, sehingga pencegahan dilakukan dengan kemoprofilaksis dan azithromycin.

Diagnosis, Jangan Sampai Masuk ke Fase Berat

"Yang terakhir adalah diagnosis dan treatment. Jadi, harus diterangkan secara sederhana ke pasien bagaimana untuk mencegah malaria, terutama jangan sampai menjadi fase berat," katanya.

Untuk diagnosis, terdapat sejumlah cara, misalnya dengan mikroskop untuk mengecek darah samar tebal dan tipis atau rapid diagnostic test.

Efek Kasus Malaria Berat

Pada kasus malaria yang berat, katanya, bisa sampai mengakibatkan penurunan kesadaran, bahkan gagal ginjal, sehingga butuh cuci darah suportif.

"Sampai ke kematian kalau misalnya berat. Apalagi, terutama pada ibu hamil yang pilihan antimalarianya terbatas, karena banyak yang kontraindikasi pada ibu hamil," ujarnya