Sukses

Tangani Diabetes di Pedesaan, Pilot Project Indonesia-Denmark Berhasil Skrining 30 Ribu Jiwa di Jawa Barat

Pilot project Indonesia-Denmark disebut berhasil skrining 30 ribu penderita diabetes di Jawa Barat

Liputan6.com, Jakarta - Pada 2021, Indonesia dan Denmark menandatangani nota kesepahaman soal penanganan diabetes di Tanah Air. Disebutkan bahwa kerja sama Indonesia-Denmark berhasil menjangkau orang dengan diabetes di pedesaan. Sekaligus meningkatkan akses ke pengobatan dan perawatan diabetes melalui berbagai inisiatif, termasuk sebuah proyek percontohan (pilot project) di Jawa Barat.

Pilot project diabetes ini merupakan upaya Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer serta Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), dan Novo Nordisk Indonesia.

Tujuannya, menyediakan akses perawatan diabetes yang optimal di daerah pedesaan. Saat ini, pilot project sedang berjalan di 46 fasilitas kesehatan primer di Jawa Barat. Dalam empat bulan pelaksanaannya, kegiatan ini telah berhasil melakukan skrining diabetes terhadap 30.000 jiwa.

Prevalensi Diabetes di Indonesia Meningkat

Upaya pencegahan diabetes ini digencarkan lantaran prevalensi diabetes di Indonesia yang terus meningkat. Dari 10,7 juta jiwa pada 2019 menjadi 19,5 juta pada 2021. Peningkatan ini membawa Indonesia pada peringkat kelima di dunia, naik dari peringkat tujuh pada 2019.

Laporan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan 2020 menunjukkan bahwa hanya 2 juta jiwa yang telah terdiagnosis diabetes dan mendapatkan penanganan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dan hanya 1,2 persen kasus yang dapat mengontrol kadar gula darah mereka dengan baik untuk menghindari komplikasi.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Penyakit Diabetes atau Gula Darah Meningkatkan Pengeluaran Biaya Pemerintah

Dari sisi ekonomi makro, kondisi ini dinilai cukup memprihatinkan karena berpotensi meningkatkan pengeluaran biaya pemerintah untuk menangani komplikasi.

Sebanyak 74 persen anggaran diabetes digunakan untuk mengobati komplikasi. Hal ini diungkap dalam laporan Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan PERKENI pada 2016.

Mengingat hal tersebut, Kementerian Kesehatan telah mengambil beberapa langkah untuk menangani diabetes di Indonesia. Salah satunya adalah melakukan transformasi layanan kesehatan primer.

Ini bertujuan mencegah dan menanggulangi diabetes melalui peningkatan kesadaran masyarakat, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan peningkatan kapasitas serta kapabilitas layanan kesehatan primer.

Inisiatif ini juga berfokus pada promosi kesehatan, deteksi dini, dan akses pengobatan yang lebih baik.

3 dari 4 halaman

Penanganan Diabetes di Indonesia Harus Fokus dari Tingkat Akar Rumput

Dalam pemaparan hasil pilot project, Vice President dan General Manager Novo Nordisk Indonesia Sreerekha Sreenivasan menyampaikan, penanganan diabetes harus dilakukan dari tingkat akar rumput.

"Kami percaya bahwa untuk mendorong dampak perubahan pada diabetes, kita harus fokus pada tingkat akar rumput. Kolaborasi multi-sektor adalah kuncinya, dan keberlanjutan sangat penting untuk memastikan pencapaian yang terus menerus," kata Sreerekha dalam pemaparan pilot project Novo Nordisk di Jakarta Selatan, Senin 20 Maret 2023.

Pihak Sreerekha telah bekerja sama dengan Kemenkes RI untuk mengidentifikasi daerah yang paling memerlukan layanan perawatan diabetes. Dan memberikan dukungan untuk layanan di fasilitas kesehatan primer di area tersebut.

Selain itu, proyek ini juga turut melakukan kampanye kesadaran publik dan skrining untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan pengelolaan diabetes.

4 dari 4 halaman

Project Terkait Diabetes Ini Jangkau 1.800 Pasien

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr Rohadi Hendra Setya Wibawa, menjelaskan, data yang didapatkan dari pelaksanaan pilot project.

Menurutnya, dari total masyarakat yang berhasil dijangkau pilot project ini (1.800 pasien), 6 persen dari mereka mengidap diabetes tipe-2, 8 persen berada dalam kondisi pra-diabetes, dan 18 persen memiliki kondisi obesitas.

Angka ini lebih tinggi dari data Riskesdas 2018 dan sampel data BPJS 2021. Menurut data Riskesdas 2018 hanya dua persen populasi Indonesia yang mengidap diabetes, sementara data BPJS 2021 menyebutkan hanya 1,3 persen dari populasi Indonesia yang menderita diabetes.

Diabetes dan Kaitannya dengan Kadar Rata-Rata HbA1c Tinggi

Dari 1.800 pasien diabetes yang berhasil dijangkau dalam pilot project di Jawa Barat, data menunjukkan bahwa kadar rata-rata HbA1c mereka adalah 9.3 persen, lebih tinggi dari rekomendasi HbA1c untuk pengidap diabetes (tujuh persen).

HbA1c adalah hemoglobin atau protein dalam darah yang berikatan dengan molekul glukosa. Semakin tinggi jumlah HbA1c berarti semakin banyak hemoglobin yang berkaitan dengan glukosa.

Kegiatan ini juga menemukan bahwa 72 persen dari pengidap diabetes yang dijangkau memiliki kadar HbA1c tidak terkendali (di atas 7 persen), yang dapat meningkatkan risiko komplikasi di masa depan.

"Data ini penting untuk menjadi panduan dalam menyelesaikan masalah akses pengelolaan diabetes di Indonesia,"  kata Hadi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.