Sukses

Imunisasi Polio Massal di Aceh Gunakan Vaksin nOPV2

Liputan6.com, Jakarta - Vaksin Polio jenis novel Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2) khusus digunakan imunisasi massal di Aceh. Penggunaan vaksin kemasan 50 dosis per vial yang diproduksi oleh PT. Bio Farma Tbk hanya pada pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) dalam rangka penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio Tipe 2 di Aceh.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi menegaskan, khusus Sub PIN Polio di Aceh hanya menggunakan nOPV2. Dalam hal ini, imunisasi Polio rutin seperti Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) menggunakan vaksin Polio jenis lain yang berbeda.

"Untuk Sub PIN Polio di Aceh sekarang, bukan hanya Kabupaten Pidie-nya saja, melainkan nanti ke seluruh wilayah Aceh, ya memang kita khusus pakai nOPV2," ucap Nadia saat berbincang dengan Health Liputan6.com usai acara 'Media Briefing: Hari Diabetes Sedunia 2022' di Aston Kemayoran City Hotel, Jakarta pada Rabu, 30 Novembber 2022.

"Karena itu (nOPV2) khusus buat penanggulangan virus Polio Tipe 2. Kalau imunisasi Polio rutin yang Bulan Imunisasi Anak Nasional itu pakai (vaksin Polio) yang biasa. Tapi tetap ya kalau imunisasi Polio itu harus oral (tetes) dan harus injeksi juga."

Sebelumnya, Kemenkes melaporkan pada 9 Oktober 2022 ada satu kasus lumpuh layuh akut pada anak usia 7 tahun di Kabupaten Pidie, Aceh. Setelah dilakukan pengambilan sampel tinja dan pemeriksaan di laboratorium diperoleh hasil positif Polio Tipe 2. Temuan ini membuat status menjadi KLB.

Pemberian imunisasi Polio massal di Aceh diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama para orangtua terhadap pentingnya imunisasi. Tujuannya, memastikan anak-anak terlindungi dari ancaman penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Vaksin Pertama untuk Polio Tipe 2

Jenis vaksin polio yang diberi nama novel Oral Polio Vaksin tipe 2 (nOPV2) adalah vaksin baru yang pertama di dunia, hasil penelitian dari induk Holding BUMN Farmasi BUMN, Bio Farma. Vaksin ini  merupakan versi modifikasi dari OPV Monovalen Tipe 2 (mOPV2) yang sudah ada.

Dari hasil uji klinik, nOPV2 mampu memberikan perlindungan yang sama terhadap virus Polio Tipe 2 dengan keunggulan lebih stabil secara genetik, dan memiliki kemungkinan yang kecil untuk kembali terjadinya Circulating Vaccine Derived Poliovirus (cVDPVC), yakni munculnya kembali kasus Polio dari mutasi virus dalam vaksin.

Penggunaan nOPV2 juga telah direkomendasikan oleh Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) on Immunization -- sebuah lembaga independen yang merekomendasikan nOPV2 untuk mengatasi wabah Polio, dan juga Global Polio Eradication Initiative (GPEI).

Sebagaimana rilis resmi Bio Farma pada 16 November 2020, rekomendasi penggunaan nOPV2 untuk memastikan bahwa penggunaan nOPV2 tetap memerhatikan standar keamanan.

3 dari 4 halaman

4 Jenis Vaksin Polio

Mengutip laman Infeksi Emerging Kemenkes, ada 4 jenis vaksin Polio yang digunakan Indonesia demi mencegah infeksi virus Polio. Keempat vaksin Polio yang dimaksud antara lain:

1. Oral Polio Vaccine (OPV): jenis vaksin ini aman, efektif dan memberikan perlindungan jangka panjang sehingga sangat efektif dalam menghentikan penularan virus. Vaksin ini diberikan secara oral.

Setelah vaksin ini bereplikasi di usus dan diekskresikan dapat menyebar ke orang lain dalam kontak dekat.

2. Monovalent Oral Polio Vaccines (mOPV1 and mOPV3): sebelum pengembangan tOPV, OPV Monovalen (mopVs) dikembangkan pada awal tahun 1950-an. Vaksin Polio ini memberikan kekebalan hanya pada satu jenis dari tiga serotipe OPV, namun tidak memberikan perlindungan terhadap dua jenis lainnya.

OPV Monovalen untuk virus Polio Tipe 1 (mopV1) dan tipe 3 (mOPV3) dilisensikan lagi pada tahun 2005 dan mendapatkan respons imun melawan serotipe yang lain.

3. Bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV): setelah April 2016, vaksin virus Polio Oral Trivalen diganti dengan vaksin virus Polio Oral Bivalen (bOPV). Bivalen OPV hanya mengandung virus serotipe 1 dan 3 yang dilemahkan dalam jumlah yang sama seperti pada vaksin trivalen.

Bivalen OPV menghasilkan respons imun yang lebih baik terhadap jenis virus Polio Tipe 1 dan 3 dibandingkan dengan OPV trivalen, meski tidak memberikan kekebalan terhadap serotipe 

4. Inactivated Polio Vaccine (IPV): sebelum bulan April 2016, vaksin virus Polio Oral Trival (topV) adalah vaksin utama yang digunakan untuk imunisasi rutin terhadap virus Polio.

Dikembangkan pada tahun 1950 oleh Albert Sabin, tOPV terdiri dari campuran virus Polio hidup dan dilemahkan dari ketiga serotipe tersebut. tOPV tidak mahal, efektif dan memberikan perlindungan jangka panjang untuk ketiga serotipe virus Polio.

Vaksin Trivalen ditarik pada bulan April 2016 dan diganti dengan vaksin virus Polio Oral Bivalen (bOPV), yang hanya mengandung virus dilemahkan vaksin tipe 1 dan 3.

4 dari 4 halaman

nOPV2 Digunakan di Negara Lain

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menuturkan, produk vaksin Polio nOPV2 sebelumnya tidak akan digunakan di Indonesia. Ini lantaran Indonesia sendiri sudah terbebas dari wabah Polio sejak tahun 2014.

Secara umum, nOPV2 akan digunakan di negara-negara benua Afrika, Mediterania Timur, Pasifik Barat, dan beberapa wilayah di Asia Tenggara.

“Dengan adanya produk nOPV2 ini, akan menambah portofolio produk Bio Farma, yang digunakan secara global, menjadi sebanyak 16 produk" tutur Honesti.

"Kemudian status Emergency Use Authorization (EUA) dan Emergency Use Listing (EU)L untuk vaksin nOPV2 diharapkan menambah kepercayaan masyarakat Indonesia, bahwa vaksin buatan dalam negeri dipercaya oleh dunia dan aman untuk digunakan."

Honesti menambahkan, EUL yang didapat oleh Bio Farma dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidak lepas dari peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai otoritas obat dan makanan di Indonesia, yang kredibel dan profesional yang sudah terverifikasi oleh WHO.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS