Sukses

Studi Ungkap Ekspresi Janin Saat Diberi Sayuran Hijau

Liputan6.com, Jakarta - Teknologi memungkinkan kita mencari tahu akan banyak hal yang sebelumnya tersembunyi. Salah satunya mengenai ekspresi janin.

Kondisi dan ekspresi janin di dalam perut tak diragukan selalu menjadi perhatian calon ayah dan ibu. Kerap kali gerakan janin dijadikan acuan untuk memprediksi kesehatan hingga suasana hatinya. Keberadaan teknologi ultrasound memungkinkan kita untuk menilik lebih jauh kondisi buah hati dalam kandungan.

Sebuah penelitian terbaru mencari tahu mengenai respons janin terhadap asupan makanan yang mereka terima. Hasil penelitian menunjukkan, rasa getir dari sayuran hijau membuat janin meringis dengan "muka menangis". Sedangkan asupan wortel lebih cenderung membuat mereka tersenyum.

Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa preferensi makanan atau kecenderungan kita memilih makanan mungkin dimulai sebelum kelahiran dan dapat dipengaruhi oleh diet ibu. Adapun tim peneliti saat ini mengatakan bahwa penelitian terbaru yang mereka lakukan adalah yang pertama melihat langsung respons bayi yang belum lahir terhadap rasa yang berbeda.

“[Peneliti sebelumnya] hanya melihat apa yang terjadi setelah lahir dalam hal apa yang disukai [secara keturunan], tetapi sebenarnya melihat ekspresi wajah janin ketika mereka mendapat rasa pahit atau tidak pahit, itu adalah sesuatu yang benar-benar baru,” kata Prof Nadja Reissland, dari Durham University, salah satu penulis penelitian.

Diketahui, janin dua kali lebih mungkin membuat ekspresi jijik setelah sang ibu mengkonsumsi kapsul kale bubuk dibandingkan pil wortel bubuk, tulis tim peneliti dari Durham University.

Sebaliknya, ketika sang ibu hendak mengkonsumsi wortel, janin akan cenderung membuat “wajah tertawa” seperti dilansir dari studi berjudul Flavor Sensing in Utero and Emerging Discriminative Behaviors in the Human Fetus dalam jurnal Psychological Science.

“(Artinya) ibu belum menyelesaikan makanannya (saat) janin telah sadar atau mengetahui apa yang dimakan sang ibu,” ucap salah satu penulis studi, Benoist Schaal. 

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Melibatkan 70 Janin

Berdasarkan penelitian, untuk mengetes kemampuan mengecap rasa dalam kandungan, peneliti mengambil gambar ultrasound dari sekitar 70 janin yang berusia 32 hingga 36 minggu selama kurang lebih 20 menit setelah ibunya memakan sayur.

Dalam jurnal Psychological Science, tim mencatat bahwa aroma dari makanan ibu hadir dalam cairan ketuban. Sensor pengecap dapat mendeteksi bahan kimia yang berhubungan dengan rasa sejak usia kehamilan 14 minggu, dan molekul bau dapat dirasakan sejak usia kehamilan 24 minggu.

Wanita hamil berusia 18 hingga 40 tahun dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu pemakan kale, pemakan wortel, serta wanita yang tidak diberikan makanan sama sekali.

Para calon ibu diminta untuk tidak mengkonsumsi apapun setidaknya satu jam sebelum wajah janin mereka dipindai.

Peneliti kemudian menganalisis satu persatu dari 180 gambar ultrasound janin, untuk mempelajari ekspresi wajah mereka, dan menemukan bahwa kale membuat janin terlihat mual dan jijik.

 

3 dari 3 halaman

Cara agar Bayi Tidak Pilih-Pilih Makanan

Mungkin itu adalah sebuah pil yang pahit untuk ditelan, namun kehadiran sayur berdaun hijau ini serta sayur lainnya dalam kandungan akan membuat si calon bayi tidak pilih-pilih makanan, tutur Beyza Ustun, kepala penulis penelitian.

“Yang kita tahu dari penelitian lainnya adalah jika sang ibu memakan makanan yang bervariasi, seperti sayur dan buah-buahan, kecil kemungkinan bayi menjadi pemilih (makanan),” ujarnya.

Prof Catherine Forestell, dari College of William & Mary, mengatakan studi itu memberikan jendela ke dunia chemosensory dari janin manusia.

“Pekerjaan di masa depan yang menyoroti perbedaan individu dalam respons janin terhadap rasa dan bagaimana kaitannya dengan kebiasaan diet ibu dan respons bayi terhadap makanan setelah lahir akan sangat menarik,” tambah Forestell.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.