Sukses

9 Gejala Subvarian BA.4 dan BA.5 Pasien COVID-19 di RI

Liputan6.com, Jakarta Subvarian BA.4 dan BA.5 sudah terindentifikasi masuk di Indonesia per awal Juni 2022. Data per 14 Juni 2022, Kementerian Kesehatan RI mencatat ada 20 orang terindentifikasi terpapar dua subvarian dari Omicron itu di Tanah Air.

Pada awalnya ada empat kasus orang terpapar BA.4 dan BA. 5 di Bali. Terdiri dari 3 warga negara asing dan 1 orang dari Jakarta. Lalu, selang beberapa hari, hasil pemeriksaan whole genome sequencing juga menemukan kasus BA.4 dan BA.5 di Jakarta lalu Jawa Barat.

Dari 20 kasus ada tiga anak berusia 5-12 tahun yang termasuk dalam mereka yang terpapar BA.4 dan BA.5 di RI seperti disampaikan Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohamad Syahril. Meski anak tersebut belum menerima vaksin COVID-19, gejala yang timbul pada mereka relatif ringan.

Lalu, ada juga pasien BA.4 dan BA.5 yang tidak melaporkan gejala alias tidak bergejala. Sebagian besar melaporkan gejala ringan dan hanya satu yang alami gejala sedang.

Berikut beberapa gejala subvarian BA.4 dan BA.5 pasien COVID-19 di Indonesia:

- Sakit tenggorokan

- Badan pegal

- Demam

- Batuk

- Sesak napas

- Lemah

- Mual

- Muntah

- Nyeri abdomen (perut)

Terkait laporan satu pasien COVID-19 BA.5 yang sesak napas, lemah, mual, muntah, dan nyeri abdomen hanya pada satu pasien berjenis kelamin perempuan berusia 20-an tahun.

Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Erlina Burhan menyebutkan ada dua kemungkinan perempuan tersebut alami hal tersebut.

"Mungkin BA.5 bereplikasi banyak di saluran napas bagian bawah. Bisa juga karena dia memiliki penyakit lain seperti asma," kata Erlina dalam diskusi secara daring beberapa saat lalu.

 

2 dari 4 halaman

Gejala Mirip Omicron Awal

Erlina mengatakan bahwa gejala BA.4 dan BA.5 mirip dengan Omicron terdahulu ya sehingga efeknya sebagian besar ringan dan sedang. 

Wanita yang juga dokter spesialis paru di RS Persahabatan Jakarta ini juga mengatakan hingga saat ini para ahli sepakat gejala BA.4 dan BA.5 gejala mirip Omicron terdahulu. "

Tidak akan berbeda yang bermakna," katanya. 

Lebih lanjut, Erlina mengatakan bahwa replikasi virus BA.4 dan BA.5 banyak terjadi di saluran napas atas ha ini yang membuat kasus Omicron jarang dilaporkan sesak napas atau masalah pernapasan lain. 

"Replikasi terbanyak Omicron itu di saluran napas atas, meski ada juga sedikit kasus yang replikasi hingga saluran napas bawah sehingga bisa sampai sesak napas," jelasnya.

 

3 dari 4 halaman

Ada yang Mengatakan Kombinasi Omicron dan Delta

Sementara itu, epidemiolog Dicky Budiman mengatakan BA.4 dan BA.5 memang masih bagian dari Omicron walaupun karakternya sudah sangat berbeda dari BA.1 dan BA.2.

“BA.4 atau khususnya BA.5 ini dia memiliki karakter yang merupakan kombinasi antara kecepatan menginfeksi yang dia warisi dari Omicron leluhurnya.”

“Dan dia mengadopsi juga mutasi dari Delta L452 yang membuat dia mudah terikat di receptor ACE2 dan mudah masuk ke dalam sel tubuh manusia untuk menginfeksi dan akhirnya mudah untuk bereplikasi di paru,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com.

Merujuk pada data di Portugal, hal ini yang membuat sebagian gejala orang yang terinfeksi BA.4 dan BA.5 khususnya yang belum divaksinasi lengkap terlihat hampir mirip dengan gejala Delta.

“Misalnya hilang penciuman, rasa lelah, dan pada kasus yang berat bisa seperti Delta, harus dibawa ke rumah sakit, ini merujuk data di Portugal.”

Selain itu, BA.4 dan BA.5 ini bisa menginfeksi ulang. Jadi, meskipun sudah terinfeksi oleh Omicron sebelumnya, tapi tetap bisa terinfeksi lagi dengan BA.4 dan BA.5.

4 dari 4 halaman

Puncak Kasus BA.4 dan BA.5 Juli, Capai 20 Ribu Kasus

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa diprediksi puncak kasus BA.4 dan BA.5 terjadi sebulan sesudah teridentifikasi. Angka puncak kasus gelombang BA.4 dan BA.5 diprediksi mencapai 20 ribu kasus per hari.

Prediksi di atas mengacu pada data kenaikan kasus di Afrika Selatan, negara pertama ditemukannya subvarian BA.4 dan BA.5. Di sana, puncak kenaikan kasus akibat BA.4 dan BA.5 hanya sepertiga dari gelombang Delta atau Omicron awal-awal.

"Kalau kita kan pernah 60 ribu sehari saat Omicron, kira-kira nanti estimasi berdasarkan data Afrika Selatan ya mungkin puncaknya ada 20 ribu kasus sehari," kata Budi di Istana Bogor, Jawa Barat pada Kamis, 16 Juni 2022 di sela-sela Upacara Penyambutan Kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman.

Kenaikan kasus akibat dua varian tersebut diprediksi bakal terjadi pada minggu ketiga-keempat Juli 2022 atau sebulan sesudah temuan kasus pertama.

"Jadi, kita percaya bakal ada kenaikan maksimalnya 20 ribu (kasus) per hari sebulan sesudah diidentifikasi," katanya. 

"Kemudian nanti akan turun kembali."