Sukses

Soal Hepatitis Akut, Menkes Budi: Tidak Teridentifikasi Adanya Klaster

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya tidak menimbulkan klaster. Kesimpulan tersebut berdasarkan data penyebaran kasus di dunia.

"Ini di seluruh dunia tidak teridentifikasi adanya klaster," ujar Budi dalam pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) di Kepulauan Riau, Rabu, 18 Mei 2022.

Penyebaran hepatitis akut, kata Budi, sangat lambat. Hal itulah yang membuat hepatitis akut misterius tidak memicu adanya klaster. Sangat berbeda dengan penularan COVID-19 yang sangat cepat.

"Contoh misalnya satu ada kena di sini, kalau klaster itu dua hari lagi, sini, sini, sini, kena. Sehari lagi begitu kena. Artinya apa? Penularannya itu cepat. Ini tidak," jelasnya.

Melambatnya penularan hepatitis akut bisa dilihat di Indonesia. Budi menyebut, kasus hepatitis akut di Tanah Air hanya belasan. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan adanya hepatitis akut di dunia pada April 2022.

"Ini enggak langsung cepat meledak. Ini cuma ada beberapa belas kok di Indonesia," ujarnya. 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dugaan kasus hepatitis akut di Indonesia bertambah 14 kasus. Hingga 17 Mei 2022, ada 1 kasus probable dan 13 kasus pending classification.

Menurut keterangan Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, pemeriksaan hepatitis A, B, C nda E serta patogan lainnya, pada 1 kasus probable hasilnya negatif.

Dari 14 kasus yang diduga hepatitis akut misterius, 6 kasus diantaranya meninggal dunia, 4 kasus masih menjalani perawatan, dan 4 kasus lainnya sudah dipulangkan.

2 dari 4 halaman

75 Persen Hepatitis Akut Serang Anak di Bawah 5 Tahun

Budi mengatakan pemerintah dan dunia masih terus meneliti penyebab hepatitis akut. Data sementara, lebih dari 75 persen hepatitis akut menyerang anak kurang dari 5 tahun.

"Hepatitis akut ini lebih dari 75 persen menyerang anak di bawah 5 tahun," katanya.

Menurut Budi, hepatitis akut masuk ke tubuh manusia melalui makanan. Karena itu, dia mengingatkan masyarakat untuk memastikan makanan yang akan dikonsumsi anak bersih dan sudah dimasak.

Selain itu, dia mengimbau para orang tua untuk selalu mengawasi anaknya. Pastikan anak selalu rajin mencuci tangan.

"Jadi pastikan ibu-ibu, ini tugas ibu-ibu, memastikan anak-anak mau main itu selalu jangan masukin makanan sebelum cuci tangan. Dan harus selalu minum air yang sudah dimasak," ujarnya.

Lulusan Fisika Nuklir dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini meminta masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Bila anak menunjukkan gejala hepatitis, maka segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Gejala yang terjadi pada kasus hepatitis akut di Indonesia ialah demam, hilang nafsu makan, muntah, mual, jundice, dan perubahan warna urin. Lalu nyeri bagian perut, diare akut, lethargy, myalgia, sesak napas, perubahan warna feses, dan gatal.

3 dari 4 halaman

Kondisi Kasus Dugaan Hepatitis Akut di RI

Kementerian Kesehatan mencatat ada 14 kasus yang dapat disebut sebagai diduga hepatitis akut di Indonesia. Mayoritas kasus ini dialami anak di bawah 5 tahun.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril merinci kasus diduga hepatitis akut yang belum diketahui penyababnya itu. Yakni, 0 sampai 5 tahun 7 orang, 6 sampai 10 tahun 2 orang, dan 11 sampai 16 tahun 5 orang.

"Nah kelompok umur terbanyak adalah di bawah 5 tahun 7 orang. Berarti 50 persen," jelas Syahril dalam konferensi pers, Rabu (18/5).

Bila dilihat dari jenis kelaminnya, mayoritas kasus diduga hepatitis akut ialah laki-laki. Tercatat 9 laki-laki dan 5 perempuan.

Syahril menyebut, dari total kasus diduga hepatitis akut, 6 di antaranya meninggal dunia. Rincian kasus meninggal ini ialah berusia 2 bulan, 8 bulan, 9 bulan, 1 tahun, 8 tahun, dan 14 bulan.

"Masih dirawat 4 orang. Sedangkan yang sudah dipulangkan karena sudah sembuh 4 orang," ucapnya. 

 

Sumber: Merdeka.com

4 dari 4 halaman

Gejala Hepatitis Akut Bisa Terjadi Kejang

Pada suatu kesempatan, Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyampaikan perbedaan gejala hepatitis biasa dengan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya.

Perbedaan gejala yang paling mencolok adalah kondisi seseorang yang mengalami hepatitis akut bisa sampai terjadi kejang-kejang. Sementara itu, kondisi hepatitis biasa tidak sampai mengalami kejang-kejang.

"Dalam waktu 14 hari, orang yang dalam kondisi hepatitis akut bisa jadi kejang-kejang dan penurunan kesadaran. Nah, kalau hepattis normal ya enggak akan terjadi sampai kejang. Itu kuncinya," beber Nadia saat ditemui Health Liputan6.com di sela-sela acara "15th ASEAN Health Ministers Meeting and Related Meetings" di Hotel Conrad, Nusa Dua Bali baru-baru ini.

Perjalanan riwayat hepatitis akut misterius juga terjadi cepat, yakni dari seseorang muncul gejala hingga mengalami perburukan. Tak ayal, pada kasus dugaan hepatitis akut, banyak pasien yang sudah mengalami perburukan kondisi tatkala dirujuk ke rumah sakit rujukan.

"Rata-rata kasus yang kita temui, gejalanya 7-10 hari, tapi riwayat muntah, mual diare itu biasanya 5 hari sebelumnya. Kemudian, dirawat di rumah sakit 3 hari, sampai di rumah sakit selang 2 hari saja sudah kejang-kejang," terang Nadia.

"Jadi, gejala hepatitis akut misterius berupa mual, muntah, dan diare biasa lalu jatuh ke kondisi kejang atau berat itu 3-5 hari. Makanya, durasi waktu perburukan kondisi cepat, sehingga disebut hepatitis akut berat."