Sukses

Tak Lagi Takut Lupa atau Hilang, Data Imunisasi Anak Indonesia Akan Dicatat Secara Digital

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Digital Transformation Office baru saja meluncurkan Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK), yang salah satunya akan digunakan untuk mencatat data imunisasi lengkap anak.

Kemarin, peluncuran sekaligus uji coba aplikasi ASIK dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) di Kepulauan Riau.

"Hari ini kami launching dan sudah digunakan Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK) untuk melakukan pencatatan data imunisasi anak secara digital," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu saat pencanangan BIAN 2022 di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ditulis Kamis, (19/5/2022).

Hal tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan angka cakupan imunisasi dasar lengkap bagi anak Indonesia.

Diketahui, sejak pandemi COVID-19 berlangsung, angka capaian imunisasi dasar lengkap anak mengalami penurunan.

Sehingga ASIK pun menjadi bagian dalam misi Kemenkes RI untuk melakukan upaya transformasi layanan kesehatan dengan membantu para tenaga kesehatan agar lebih mudah melakukan pencatatan data pasien dengan lebih efisien dan terintegrasi dalam satu database.

Uniknya lagi, aplikasi satu ini dapat diakses tanpa terhubung dengan jaringan internet yang mana dianggap dapat memudahkan tenaga kesehatan di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal).

Terlebih, upaya satu ini masuk dalam upaya peningkatan pendataan untuk cakupan imunisasi dasar lengkap bagi anak di Indonesia. Mengingat permasalahan terkait pendataan cakupan imunisasi sebelumnya bisa hilang atau bahkan dilupakan.

2 dari 4 halaman

Akan Terintegrasi ke PeduliLindungi

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa sistem yang ada pada ASIK kurang lebih sama dengan pendataan vaksinasi COVID-19.

Artinya, anak-anak yang sudah mendapatkan imunisasi akan terekam secara digital di ASIK yang juga akan terintegrasi dengan PeduliLindungi.

Cara tersebut dianggap dapat memudahkan orangtua untuk mengakses data imunisasi anak dimanapun dan kapanpun, bahkan hingga belasan tahun kedepan.

Sehingga ketika nantinya anak membutuhkan rekam imunisasi untuk berbagai keperluan sekolah, data tersebut sudah tersimpan aman di database milik Kemenkes.

“Aplikasi ini akan kita berikan ke semua Puskesmas dan Dinkes-Dinkes, supaya datanya juga ada di Dinas Kesehatan,” kata Budi Gunadi Sadikin.

Selama BIAN berlangsung, para tenaga kesehatan di Posyandu dan Posbindu melakukan pencatatan dengan mudah melalui aplikasi di ponsel.

Dengan demikian, para tenaga kesehatan bisa lebih mudah membawanya saat imunisasi ke lokasi target balita di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua sejak Mei 2022 dan disusul di pulau Jawa dan Bali pada Agustus 2022.

3 dari 4 halaman

Cakupan Imunisasi Menurun

Berdasarkan data Kemenkes RI, terdapat 1,7 juta anak Indonesia yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap selama pandemi COVID-19.

Daerah terbanyak dengan capaian imunisasi dasar lengkap terendah adalah Jawa Barat, Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, dan DKI Jakarta.

Hal tersebutlah yang menjadi salah satu latar belakang dilaksanakannya BIAN 2022 di Kepulauan Riau, tepatnya di halaman Gedung Daerah pada Rabu, 18 Mei 2022.

Upaya tersebut tentu dilakukan untuk menggenjot cakupan imunisasi rutin anak yang sempat menurun selama pandemi COVID-19 berlangsung tersebut.

Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa selama pencanangan BIAN diharapkan orang tua segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau pos pelayanan imunisasi untuk mendapatkan imunisasi rutin.

Merespons hal ini, Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad mengungkapkan bahwa BIAN kali ini juga akan dilakukan pada tujuh kabupaten kota di Kepulauan Riau secara bertahap dengan sasaran imunisasi sebanyak 24.461 anak.

"Dengan ditetapkannya Kepri ini, tentu ini memicu semangat kita semua untuk terus bekerja keras, karena imunisasi anak-anak maka kita berbicara warna dan masa depan bangsa ini. Kalau kesehatan baik, SDM kita sukses dan baik,” ujar Ansar.

“Semoga yang kita laksanakan hari ini, hasilnya kita terima di kemudian hari,” tambahnya.

4 dari 4 halaman

Tiga Strategi Kemenkes

Terlaksananya BIAN pada waktu mendatang ini meliputi kegiatan imunisasi tambahan Campak Rubela dan imunisasi kejar (OPV, IPV dan DPT-HB-Hib) dengan baik dan dapat mencapai target yang diharapkan.

Dengan terselenggaranya kegiatan BIAN diharapkan kekebalan masyarakat terbentuk, sehingga pada akhirnya bisa mencapai eliminasi Campak-Rubela.

Tak hanya itu, dilakukannya BIAN ini juga diharapkan dapat mempertahankan status Indonesia Bebas Polio, mempertahankan eliminasi tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir serta mengendalikan penyakit difteri dan pertusis.

Seperti diketahui, pemberian imunisasi rutin dasar lengkap menjadi hal yang penting bagi anak. Maka untuk mendukung tersebut, Kemenkes menginformasikan bahwa pihaknya telah menyusun tiga strategi untuk menggalakan imunisasi rutin.

Strategi pertama yang dilakukan oleh Kemenkes adalah dengan menambah tiga jenis imunisasi rutin pada anak yang sebelumnya hanya 11 jenis vaksin menjadi 14.

Vaksin yang ditambahkan berupa vaksin Rotavirus untuk anti diare, vaksin PCV untuk anti pneumonia yang ditargetkan untuk anak, dan vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks yang diberikan untuk ibu.

“Untuk Bapak dan Ibu tolong dibantu agar imunisasi tiga ini jalan, supaya mengurangi angka kematian ibu dan anak,” ujar Budi.