Sukses

Anak Sakit Setelah Lebaran, Dokter Ungkap Sederet Penyebabnya

Liputan6.com, Jakarta Hari Raya Idul Fitri kini telah usai, momen kumpul keluarga bisa jadi hal yang begitu menyenangkan. Namun tak dapat dipungkiri, hati orangtua bisa kembali pilu bila melihat anak justru sakit setelah Lebaran.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Muzal Kadim, SpAK mengungkapkan bahwa memang ada beberapa penyakit yang umum terjadi pada anak pasca Lebaran.

Menurutnya, Lebaran dapat membuat seorang anak mengalami perubahan pola kehidupan sehari-hari yang dapat membuat adanya gangguan salah satunya pada saluran cerna.

"Biasanya pola di rumah, rutin, sudah teratur anak itu. Tidur jam berapa, bangun jam berapa, mandi, sarapan, snack itu sudah diatur sedemikian rupa dan anak itu sudah established," ujar Muzal dalam seminar media IDAI bertema Serba-Serbi Penyakit Lebaran pada Anak, Selasa (10/5/2022).

Muzal mengungkapkan, ketika Lebaran dan anak ikut bersama untuk ke luar kota menjalankan mudik, akan terjadi perubahan pola kehidupan sehari-hari.

Sehingga tak jarang hal tersebut menyebabkan anak sakit karena tidak terbiasa dengan pola hidup yang sebelumnya.

Terlebih masih ada sederet faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Seperti kelelahan, stres, penurunan imunitas, makan yang tidak teratur, hingga kurang tidur.

"Lebaran itu suka kelelahan. Apalagi kalau mudik pakai kendaraan mobil yang saat ini macet, itu pada anak suka terjadi kelelahan," ujar Muzal.

"Stres juga terjadi karena ada perubahan pola. Nginep di tempat yang berbeda itu sudah bisa menimbulkan stres pada anak," ujar Muzal.

Akibatnya, penurunan imunitas pun bisa ikut terjadi. Belum lagi jika bertemu dengan orang banyak yang tidak dapat diketahui kondisi kesehatannya secara pasti.

2 dari 4 halaman

Gangguan Pencernaan Pasca Lebaran

Tak hanya itu, Muzal menuturkan bahwa ada sederet penyakit terkait gangguan saluran cerna yang umumnya terjadi pasca Lebaran pada anak.

Hal tersebut lantaran saluran cerna merupakan organ dengan luas permukaan yang kompleks dan luas. Hal tersebutlah yang membuat penyakit yang berkaitan dengan gangguan saluran cerna lebih mudah terjadi.

Menurutnya, semakin kompleks suatu organ, maka semakin sering pula mereka berpotensi mengalami gangguan.

"Gangguannya apa? Paling sering terganggu itu adalah muntah, kembung, diare, sakit perut, konstipasi (sembelit), intoleransi, dan alergi makanan. Nah ini yang terjadi pada anak secara umum apalagi pasca Lebaran," kata Muzal.

Secara medis, diare terbagi menjadi tiga yakni diare akut, diare persisten, dan disentri. Namun diare yang paling sering terjadi pada anak pasca Lebaran adalah diare akut, yang mana terjadi dalam kurun waktu kurang dari 14 hari.

Diare sendiri terjadi ketika anak mengalami buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali sehari. Muzal menjelaskan, normalnya frekuensi BAB adalah sebanyak maksimal tiga kali sehari.

"Jadi kalau lebih dari tiga kali, itu dikatakan diare. Harus dilihat juga kalau rutin tiga kali, kalau bentuknya normal, itu bisa tidak dikatakan diare," kata Muzal.

3 dari 4 halaman

Perubahan pada Feses

Tak hanya itu, perubahan pada feses anak biasanya akan ikut terjadi ketika mengalami diare. Serta, diikuti juga oleh adanya perubahan dari segi aroma.

"Jadi harus ada konsistensi lebih lembek dari sebelumnya. Biasanya berbau lebih busuk, menyengat, berbau asam, ada lendir. Jadi ada perubahan pada fesesnya. Ibunya biasanya mengerti," kata Muzal.

Penyebab diare pun terbagi menjadi dua, langsung dan tidak langsung. Diare langsung disebabkan oleh virus seperti Rotavirus dan Adenovirus, bakteri seperti Salmonella, Shigella, Vibrio cholerae, E.coli, atau parasit seperti Entamoeba dan Candida.

Sedangkan penyebab tidak langsung umumnya berkaitan dengan kebersihan terkait makanan, minuman, dan lingkungan sekitar.

Selanjutnya, Muzal menuturkan bahwa ada sakit perut juga umumnya terjadi pada anak pasca Lebaran. Saat diare, anak pun kemungkinan akan mengalami sakit perut tersebut.

Sakit perut bisa terjadi berulang dan berkala yakni tiga kali atau lebih selama tiga bulan terakhir. Kondisi ini juga disebut sebagai sakit perut fungsional.

4 dari 4 halaman

Faktor Stres

Menurut Muzal, faktor stres atau psikologis anak menjadi salah satu yang berperan dalam sakit perut fungsional.

"Pandemi ini banyak sekali faktor psikologis, dia di rumah saja, merupakan stres tersendiri jadi bisa menimbulkan gangguan fungsional. Organnya enggak ada masalah, tapi dia mengeluhkan sakit perut," ujar Muzal.

"Pada Lebaran ini juga meningkat karena faktor perubahan pola, ada stres juga, makanan yang berubah. Sering menimbulkan kambuhnya sakit perut," Muzal menambahkan.

Gangguan saluran cerna yang juga bisa terjadi adalah muntah. Namun muntah sendiri biasanya merupakan suatu refleks akibat adanya pemicu lain.

"Jadi refleks yang ada pemicunya. Pemicunya bisa macam-macam. Apa saja? Bisa diare, Rotavirus diare itu bisa menimbulkan muntah," kata Muzal.

Selanjutnya yang juga bisa terjadi adalah sembelit. Menurut Muzal, sembelit pun menjadi salah satu yang berkaitan dengan kondisi psikologis anak.

"Pada anak-anak yang sembelit ini ada ketakutan karena pernah riwayat nyeri. Jadi ini biasa sifatnya kambuh-kambuhan. Pada pasca Lebaran ini banyak yang kambuh," ujar Muzal.