Sukses

Sejak Kemunculan COVID-19, Pemeriksaan Kanker Turun 40 Persen karena Pasien Takut ke RS

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 yang mewabah di penjuru negeri sejak 1,5 tahun terakhir turut menghambat proses layanan terhadap pasien yang mengidap kanker secara langsung, juga berdampak buruk pada kondisi kesehatan pasien.

Padahal, kepatuhan pasien terhadap proses layanan kanker, seperti kanker paru sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan terapi untuk pulih.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo mengatakan, sepanjang 2020 diagnosa kanker menurun sebesar 40 persen, karena masyarakat takut ke rumah sakit selama pandemi COVID-19.

"Penanganan terhadap kanker terganggu saat pandemi, karena masyarakat takut memeriksakan diri ke rumah sakit," ucap Prof. Aru ketika peluncuran layanan digital Program Peduli Sehat (PULIH) dalam rangka hari kanker paru sedunia yang digelar secara virtual,  Rabu, 27 Juli 2021.

Terganggunya proses layanan mengakibatkan semakin tingginya angka kematian akibat kanker, tidak hanya itu, katanya sebesar 70 persen baru diketahui saat pasien memasuki stadium 3 dan 4.

Menurutnya YKI terus mendorong masyarakat untuk mendeteksi dini adanya kanker, seperti payudara, paru, dan lainnya. Pendeteksian secara dini tentunya bisa memperbesar peluang sembuh dibanding saat sudah memasuki stadium 3 atau stadium lanjut.

Simak Video Berikut Ini:

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Aplikasi PULIH Untuk Penderita Kanker

AstraZeneca Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mendukung pemerintah dalam edukasi dan layanan kesehatan kanker dengan menghadirkan layanan digital PULIH.

Director, Market Access, Government Affair and Regulatory Affair AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri dalam webinar peluncuran ini mengatakan, Aplikasi PULIH bertujuan untuk memudahkan pasien kanker dalam mematuhi terapi.

Aplikasi ini bisa diakses secara gratis dengan mendownload di Google Play Store, dan dapat diakses bagi keluarga pasien kanker. Selain materi edukasi tentang kanker, aplikasi ini juga bisa sebagai pengingat jadwal minum obat.

"Dengan begitu pasien kanker bisa disiplin dalam meminum obat secara tepat waktu," ucapnya.

Aplikasi ini diluncurkan karena terkendalanya pasien kanker dalam mendapatkan pelayanan selama Pandemi COVID-19, lewat aplikasi ini pasien bisa berkonsultasi dengan dokter lewat layanan digital, serta mendapatkan layanan akses terapi secara online.