Sukses

Kemenkes: Konversi Oksigen Industri ke Medis Bisa Penuhi Kebutuhan hingga 575 Ribu Ton

Liputan6.com, Jakarta Konversi oksigen industri ke medis menjadi salah satu strategi yang dilakukan pemerintah dalam rangka mengatasi lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan, strategi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen adalah dengan menambah pasokan, serta mengupayakan penyaluran ke wilayah-wilayah dengan kasus COVID-19 tinggi.

"Dan ini harus dilakukan percepatan," kata Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dalam konferensi pers harian PPKM darurat pada Rabu (14/7/2021).

Nadia mengungkapkan, konversi oksigen industri ke medis dapat membantu memenuhi pasokan oksigen di Tanah Air hingga 575 ribu ton.

"Kami telah mendapatkan komitmen tentunya dari Kementerian Perindustrian agar konversi oksigen industri ke medis diberikan sampai dengan angka 80 persen," ujarnya. 

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

2 dari 5 halaman

Bisa Penuhi 575 Ribu Ton

"Melalui konversi ini, maka jumlah oksigen yang didapatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional mencapai 575 ribu ton," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes ini.

Selain itu, Nadia melanjutkan, pemerintah juga memperoleh bantuan oksigen dari sejumlah perusahaan, serta dari luar negeri.

"Bantuan oksigen ini akan didistribusikan, terutama ke daerah-daerah dengan angka kasus-kasus yang tinggi," kata Siti Nadia.

 

3 dari 5 halaman

Rencana Penggunaan Konsentrator Oksigen

Di kesempatan berbeda, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa pemerintah juga akan mempersiapkan konsentrator oksigen (oxygen concentrator), demi memenuhi kebutuhan oksigen pasien COVID-19.

"Dulu semua oksigen ini dipenuhi dengan tabung atau jaringan oksigen, tapi dengan melihat kebutuhannya yang berbeda, kita melihat tempat tidur isolasi bisa dipenuhi oleh oxygen consentrator," kata Menkes, Senin (13/7/2021).

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Budi Gunadi mengatakan bahwa konsentrator oksigen tidak bergantung pada logistik, produksi, serta tak harus memakai truk besar yang harus diangkut setiap hari.

"Karena asalkan ada colokan listrik kita bisa pasang dan menghasilkan oksigen," kata Budi Gunadi.

Menkes menjelaskan, kapasitas konsentrator oksigen ada yang 5 liter per menit, serta 10 liter per menit. "Ini bisa dipakai untuk meng-address kebutuhan oksigen di ruang isolasi."

 

4 dari 5 halaman

Konsentrator Oksigen untuk Pasien Isoman

Namun, konsentrator oksigen tidak bisa digunakan bagi pasien COVID-19 yang sudah masuk ICU yang membutuhkan ventilator atau HFNC, karena kebutuhannya jauh lebih tinggi daripada kapasitas alat tersebut.

Menurut Menkes, apabila ada sumbangan konsentrator oksigen dalam jumlah besar, selain ditaruh di rumah sakit, peralatan tersebut juga mungkin dapat digunakan di rumah-rumah untuk pasien isolasi mandiri.

"Kalau saya dapat 10 ribu-20 ribu ada yang menyumbang, kita nanti pakai ada relawan yang mengurus. Ini bisa dipakai di Jakarta dulu," kata Budi Gunadi.

"Jadi orang yang sakit, butuh, tidak ada akses oksigen, sudah susah, sudah sesak. Bisa pinjam dari sini," ujarnya.

Menkes mengatakan, alat itu bisa dikirim dengan ojek daring atau layanan telemedicine, lalu digunakan pasien. "Mudah-mudahan 10 hari sembuh, oxygen concentratornya ditarik kembali, kemudian bisa kita kasih yang lain.

5 dari 5 halaman

Infografis Peta Produksi dan Solusi Krisis Oksigen