Sukses

[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Perketat Pembatasan Sosial

Liputan6.com, Jakarta Kasus COVID-19 terus meningkat di negara kita. Sesudah beberapa hari kasus baru di angka 12 ribu, dan hari Minggu (20/6/2021) ini kasus barunya sudah 13.737. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa puncak kasus sesudah libur Lebaran akan terjadi pada akhir Juni, dan kasus masih akan tinggi pada bulan Juli mendatang.

Kalau baru tanggal 20 saja kasus baru sudah hampir 14 ribu, tentu kita khawatir dengan apa yang akan terjadi di akhir bulan ini. Yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya adalah angka kepositifan (positivity rate). Berdasar pemeriksaan PCR angkanya sudah hampir 42,3 persen, hampir 50 persen. Artinya, hampir separuh dari mereka yang di tes PCR ternyata menderita sakit COVID-19. Benar-benar angka yang luar biasa besar, ini menunjukkan amat tingginya penularan di masyarakat.

Kita ketahui bahwa India juga pernah mengalami peningkatan kasus yang amat tinggi. Pada 8 Februari 2021 di India ada 9.110 kasus baru COVID-19. Lalu naik 40 kali lipat menjadi 403.405 kasus baru pada 8 Mei 2021.

Kemudian dengan berbagai kegiatan besar, angkanya dalam hanya 1 bulan turun lima kali lipat menjadi 58.226 pada 19 Juni 2021. Semoga angka kasus baru di negara kita juga dapat segera turun lima kali lipat pula, atau bahkan lebih baik dari itu.

 

2 dari 6 halaman

Cara India Atasi Lonjakan Kasus COVID-19

Salah satu upaya utama yang dilakukan India sehingga kasusnya dapat menurun dengan cepat adalah pengetatan pembatasan sosial dengan berbagai derajatnya. Tujuannya, untuk memutus mata rantai penularan di masyarakat.

Ada negara bagian yang amat memperketat penerapan 3 M. Ada yang membatasi kegiatan dengan pemberlakuan jam malam, kantor pasar dan tempat kerja di tutup. Sampai ada juga yang lockdown penuh sampai beberapa waktu seperti halnya dua kota terbesar utama negara itu, yaitu New Delhi dan Mumbai / Bombay dengan negara bagian Maharastrha-nya.

Kegiatan ini jelas memberi dampak penting pada penurunan kasus karena kontak antar orang jadi terbatas sehingga penularan di masyarakat dapat ditekan. Ibukota India New Delhi misalnya, mulai menerapkan lockdown total pada 17 April 2021 dan lalu dalam 1,5 bulan mengendalikan kasus dengan cukup baik.

Data lengkapnya dilakukan dalam bentuk analisis “Movement Restriction and Mobility Change”. Suatu analisis yang tentu baik dilakukan di berbagai daerah kita yang sedang mengalami peningkatan kasus amat tinggi sekarang ini.

 

3 dari 6 halaman

Kebijakan Singapura dan Malaysia

Negara tetangga kita yang lain juga melakukan hal yang hampir serupa. Singapura misalnya, mulai memperketat pembatasan sosial pada 16 Mei 2021. Mereka sebut sebagai tighter restrictions atau juga heightened alert. Satu bulan kemudian, pada 16 Juni 2021, jumlah kasus harian di Singapura amat menurun. Pemerintah setempat pun mulai melonggarkan secara bertahap pengetatan yang sudah dilakukan. Dan akan lebih dilonggarkan lagi mulai 21 Juni 2021.

Malaysia juga kini sedang memperketat aturan pembatasan pergerakan, yang mereka sebut movement control order (MCO), dengan pembatasan yang lebih ketat di sektor ekonomi dan sosialnya.

 

4 dari 6 halaman

Pengetatan Pembatasan Sosial

Dengan terus bertambahnya kasus di negara kita maka mau tidak mau harus dilakukan peningkatan pengetatan pembatasan sosial. Memang ada yang tidak sepakat dengan penerapan lockdown total, tapi yang jelas apa yang sudah berjalan beberapa bulan ini harus secara nyata lebih diperketat.

Kasus sudah meningkat beberapa kali lipat, maka kegiatan pembatasan sosial juga harus beberapa kali lipat lebih ketat lagi, tidak bisa hanya meneruskan program yang lama saja. Pengetatan ini tentu tidak akan berlangsung berkepanjangan, begitu kasus dapat dikendalikan maka pelonggaran secara bertahap akan dilakukan, seperti juga dilakukan di negara-negara lain.

Pengetatan pembatasan sosial tujuannya adalah amat jelas, melindungi rakyat Indonesia dari peningkatan kasus COVID-19 yang tidak terkendali. Pengetatan secara nyata harus dilakukan agar jangan sampai terus jatuh korban secara menyedihkan.

 

**Penulis adalah Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI/Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes. Kini penulis juga merupakan member COVAX Independent Allocation of Vaccines Group (IAVG) yang dipimpin bersama oleh Aliansi Vaksin Dunia (GAVI), Koalisi untuk Inovasi Persiapan Epidemi (CEPI) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

5 dari 6 halaman

Infografis

6 dari 6 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini: