Sukses

[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Perkembangan Program COVID-19 di India

Liputan6.com, Jakarta Sehubungan dengan ramainya berita peningkatan kasus COVID-19 di India maka perlu diketahui bahwa tadinya India sudah berhasil menurunkan kasus 10 kali lipat lebih rendah.

Pada September 2020 waktu saya masih bertugas di India, jumlah kasus harian sampai lebih dari 97 ribu, dan angka ini turun 10 kali lipat menjadi 9 ribuan saja pada Februari 2021. Walau memang kemudian meningkat lagi sehingga bahkan sampai lebih dari 250 ribu kasus dalam seharinya sekarang ini.

Data pada 18 April 2021 menujukkan ada 14.788.109 kasus COVID-19 di negara itu, artinya 10,55 kasus per sejuta penduduk, ada peningkatan 1.429.304 dalam seminggu terakhirnya.

Kematian sampai 18 April 2021 adalah 177.150 orang, atau 126 kematian per sejuta penduduk dengan Case Fatality Rate (CFR) 1,2%.

Di New Delhi angkanya adalah 590 kematian per sejuta penduduk, di negara bagian Goa angkanya 490 dan di negara bagian dengan penduduk lebih dari 200 juta yaitu Maharashtra (dimana ada kota Mumbai) angkanya adalah 471.

Kalau kita ikuti perkembangan yang ada, maka memang ada beberapa hal yang terjadi di India sejak setahun terakhir ini.

Pada Maret 2020 jumlah test dan telusur masih sangat terbatas, masih dalam angka ribuan saja, dan lockdown nasional mulai diberlakukan.

Pada bulan Mei 2020 berbagai tempat/pusat karantina disediakan oleh pemerintah, dan di bulan Mei ini juga mereka mulai mengikuti WHO Solidarity Trial, Unity Studies & SCOPE/Pregnancy set-up.

 

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

Pada Juli 2020 fasilitas-fasilitas isolasi terus diperluas dan ditingkatkan sehingga tersedia 12.826 pusat karantina (quarantine centres) dengan 598.811 tempat tidur.

Pada sekitar September 2020 jumlah tes PCR sudah mencapai 1 juta di India, dilakukan di 900 Laboratorium dan mereka memiliki 2 laboratorium yang mendapat sertifikasi EQAS dari WHO.

Ketika itu mereka menyediakan 15.284 fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang khusus hanya menangani COVID-19. Menariknya India juga tidak lupa menyiapkan 175.470 fasyankes untuk menangani masalah kesehatan non COVID-19, karena kita tahu bahwa walaupun prioritas kita semua adalah menangani penyakit COVID-19 tapi penyakit dan masalah kesehatan lain tetap ada di tengah-tengah kita dan harus ditangani seksama pula.

Pada bulan November 2020 India sudah melakukan 140.000.000 tes di lebih dari 2.000 laboratorium. Hal ini diikuti dengan penelusuran kontak pada lebih dari 25 juta kontak. Angka-angka ini kelihatannya besar, tapi kita harus ingat bahwa penduduk India adalah sekitar 1,3 Milyar penduduk.

Sampai 17 April 2021, India sudah melakukan lebih dari 266 juta tes untuk mendeteksi COVID-19 dan Test Positivity Rate (TPR) pada 18 April adalah 14,4%.

India memulai vaksinasi pada 16 Januari 2021, sesudah kita memulainya di Indonesia. Data sampai 15 April 2021 menunjukkan sudah ada lebih dari 117 juta orang yang di vaksin, kini tentunya sudah sekitar 20 juta orang karena India bahkan pernah berhasil memvaksin sampai 3 juta orang dalam seharinya.

Yang juga menarik adalah bahwa India sudah tiga kali melakukan survei serologi nasional, untuk mengetahui riwayat terinfeksi pada populasi.

Pada survei pertama di bulan Mei 2020 angka prevalensinya adalah 0,7%. Survei kedua dilakukan pada Agustus 2020 dan prevalensi 7% serta utamanya pada urban slum. Survei ketiga dilakukan pada Desember 2020 dengan angka prevalensi 22%.

Kita tentu perlu mengamati berbagai perkembangan epidemiologi di berbagai negara di dunia, termasuk India yang kini banyak dibicarakan, dan kita tentu harus mengambil pelajaran agar pengendalian pandemi COVID-19 di negara kita dapat terjaga baik.

 

 

 

**Penulis adalah Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI/Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

3 dari 4 halaman

Infografis Sinovac Belum Termasuk Vaksin Covid-19 Syarat Umrah

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: