Sukses

Sebut Lonjakan Kasus COVID-19 Global Mengkhawatirkan, WHO Soroti Papua Nugini

Liputan6.com, Jakarta - World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa peningkatan kasus penularan dan kematian akibat COVID-19 di seluruh dunia mengkhawatirkan. Salah satu negara yang mereka soroti adalah Papua Nugini.

Dalam konferensi pers pada Jumat pekan lalu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa secara global, jumlah kasus baru COVID-19 setiap pekannya hampir dua kali lipat selama dua bulan terakhir.

"Ini mendekati tingkat infeksi tertinggi yang kami lihat sejauh ini selama pandemi," kata Tedros seperti dikutip dari laman resmi WHO pada Senin (19/4/2021).

"Beberapa negara yang sebelumnya menghindari penularan secara luas sekarang mengalami peningkatan tajam infeksi. Salah satunya adalah Papua Nugini."

Tedros mengungkapkan bahwa hingga awal 2021, negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini melaporkan kurang dari 900 kasus dengan 9 kematian. Namun saat ini mereka telah mencatat lebih dari 9.300 kasus dengan 82 kematian.

"Meski angka ini masih lebih kecil dari negara lain, peningkatannya tajam dan WHO sangat mengkhawatirkan potensi epidemi yang jauh lebih besar," kata Tedros.

Lebih lanjut, Tedros mengatakan bahwa ada penularan virus corona dalam komunitas berskala besar di Port Moresby dan provinsi barat. 22 provinsi semuanya telah melaporkan kasus, meski dalam dua pekan terakhir juga dilaporkan terdapat penurunan.

2 dari 4 halaman

Vaksinasi di Papua Nugini

Tedros mengatakan bahwa vaksinasi di negara itu sudah mulai di akhir Maret, dan Australia telah menyumbangkan 8 ribu dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca. Sementara 132 ribu vaksin COVAX telah tiba pada pekan lalu.

"Vaksin ditawarkan pertama-tama kepada kelompok prioritas, termasuk petugas kesehatan, untuk melindungi sistem kesehatan lokal," ujarnya.

"Papua Nugini adalah contoh sempurna mengapa ekuitas vaksin sangat penting," Tedros melanjutkan.

Selain itu, melalui Global Outbreak Alert and Response Network, WHO juga telah mengirim 13 ahli untuk mendukung pemerintah dalam manajemen kasus, epidemiologi, pencegahan dan pengendalian infeksi, dukungan laboratorium, serta manajemen informasi.

Tim medis darurat dari Australia, Jerman, dan Amerika Serikat juga telah tiba di sana untuk mendukung respon tersebut, dengan tambahan lain diharapkan datang dalam beberapa pekan mendatang.

Menurutnya, Papua Nugini  telah menahan COVID-19 begitu lama.

"Namun dengan meningkatnya infeksi, kelelahan akibat pembatasan sosial, tingkat kekebalan yang rendah dalam populasi, serta sistem kesehatan yang rapuh, sangat penting untuk menerima lebih banyak vaksin sesegera mungkin."

3 dari 4 halaman

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini