Sukses

Uji Klinis Tahap 2 dengan Varian Baru di Afrika Selatan, Efikasi Vaksin COVID-19 Novavax 60 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Novavax mengumumkan bahwa efikasi vaksin COVID-19 yang mereka kembangkan mencapai 89,3 persen berdasarkan hasil uji klinis fase 3 di Inggris. Selain itu, mereka juga melaporkan bahwa hasil uji fase 2 di Afrika Selatan menunjukkan, vaksin mereka memiliki efikasi sebesar 60 persen.

Perusahaan Amerika Serikat itu menyatakan bahwa uji klinis vaksin corona mereka di Inggris dan Afrika Selatan juga dilakukan terhadap varian baru virus corona yang masing-masing beredar di negara tersebut.

Mengutip AP News pada Kamis (29/1/2021), dalam uji klinis fase 2b di Afrika Selatan, efikasi vaksin sebesar 60 persen dilaporkan untuk pencegahan gejala ringan, sedang, dan berat, pada 95 persen populasi penelitian yang negatif HIV.

Sementara pada kelompok partisipan dengan HIV, keseluruhan perlindungan adalah sebesar 49 persen.

Novavax mengatakan bahwa pengujian genetik masih berlangsung. Sejauh ini, sekitar 90 persen COVID-19 yang ditemukan dalam studi di Afrika Selatan disebabkan oleh mutasi baru.

Mengutip laman resminya, studi di Afrika Selatan melibatkan lebih dari 4 ribu orang mulai Agustus 2020 dari September hingga pertengahan Januari.

Dilaporkan selama waktu ini, terdapat varian dengan tiga mutasi pada domain pengikat reseptor (RBD) dan beberapa mutasi di luar RBD. Varian ini beredar luas di Afrika Selatan.

Glenda Gray, kepala South African Medical Research Council mengatakan, walau angka efikasinya sebesar 60 persen, namun "ada alasan untuk optimistis." Ia mengatakan, pada varian baru virus corona Afrika Selatan, mereka masih melihat efikasi vaksin.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

 

2 dari 4 halaman

Kembangkan Versi Baru

Di sisi lain, Shabir Madhi dari Universitas Witwatersrand di Johannesburg mengatakan bahwa ada kekhawatiran tentang kemungkinan orang terkena COVID-19 untuk kedua kalinya.

Madhi, yang juga peneliti utama uji klinis Novavax di Afrika Selatan mengatakan, studi pada vaksin Novavax menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari peserta penelitian pernah terinfeksi COVID-19, namun tingkat infeksi baru pada kelompok plasebo serupa.

Ia mengatakan, infeksi terdahulu dengan varian awal virus corona di Afrika Selatan tidak melindungi seseorang dari infeksi virus baru. "Sepertinya tidak ada perlindungan yang diperoleh."

Namun, peneliti mengatakan bahwa vaksin COVID-19 tersebut menciptakan perlindungan yang signifikan.

"Penurunan risiko 60 persen terhadap COVID-19 pada individu yang divaksinasi di Afrika Selatan menggarisbawahi nilai vaksin ini untuk mencegah penyakit dari varian yang sangat mengkhawatirkan yang saat ini beredar di Afrika Selatan, dan menyebar secara global," kata Madhi.

"Ini vaksin COVID-19 pertama yang kita tahu memiliki bukti obyektif memberikan perlindungan melawan varian yang mendominasi di AFrika Selatan."

Novavax sendiri dikabarkan telah memulai mengembangkan versi vaksin COVID-19 yang dapat secara spesifik menargetkan mutasi di Afrika Selatan, untuk berjaga-jaga apabila otoritas kesehatan memutuskan perlunya jenis baru.

"Saya terdorong untuk melihat bahwa Novavax berencana untuk segera memulai pengembangan klinis pada vaksin yang secara khusus ditargetkan untuk varian tersebut, yang bersama dengan vaksin saat ini kemungkinan akan membentuk landasan perang melawan COVID-19," kata Madhi.

3 dari 4 halaman

INFOGRAFIS: Deretan negara yang gratiskan vaksin Covid-19 ke warganya

4 dari 4 halaman

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini