Sukses

Punya Pasangan yang Keras Kepala? Ini Cara Tanganinya

Liputan6.com, Jakarta - Memiliki pasangan yang ideal mungkin jadi dambaan setiap orang. Namun, apa jadinya jika ternyata kita mendapatkan pasangan yang punya sifat keras kepala?

Punya pasangan yang keras kepala memang bisa jadi tantangan tersendiri. Kita perlu punya kesabaran yang lebih untuk bisa menghadapi sikap keras kepalanya.

Biasanya orang yang memiliki sifat keras kepala sering menolak untuk berkomunikasi, menolak untuk berkompromi, atau menolak untuk melepaskan kebiasaan atau praktik buruknya.

Kadang kita juga merasa tidak memiliki andil dalam membuat keputusan, karena semua keputusan ditentukan oleh pasangan kita yang keras kepala tersebut.

Namun, meski keras kepala, bukan berarti kata 'putus' harus terucap. Kita harus memahami bahwa cekcok dengan pasangan merupakan bagian dari asam garam menjalani sebuah hubungan.

Kita masih bisa terus menjalin hubungan dengannya, asal kita tahu cara menyikapinya. Dilansir dari laman Power of Positivty pada Kamis, 28 Januari 2021, berikut beberapa cara untuk mengatasi pasangan yang keras kepala:

 

2 dari 4 halaman

Menghadapi Pasangan Keras Kepala

- Hadapi dengan Tenang

Menghadapi pasangan yang keras kepala terkadang menguras emosi kita, dan berpotensi membuat kita stres. Untuk itu, kita harus menghadapinya dengan tenang.

Cobalah untuk ambil napas dalam-dalam dan hembuskan beberapa kali untuk menenangkan diri anda.

Mungkin perlu beberapa saat bagi Anda berdua untuk menemukan kesamaan. Marah tidak akan membantu, jadi Anda harus menghindarinya dengan mengurangi stres sebelumnya.

- Jelaskan diri Anda

Banyak masalah sikap keras kepala muncul karena salah satu pihak tidak sepenuhnya memahami sikap pihak lain. Cobalah untuk menjelaskan tentang diri kita ke pasangan, tentu menggunakan bahasa yang dapat dengan mudah dipahami olehnya. Dengan saling memahami, akan meminimalisir terjadinya perselisihan karena perbedaan pendapat.

- Pahami alasan dia

Meski dia keras kepala, kita tetap harus menunjukkan empati. Kita harus memahami alasannya kenapa dia memegang teguh keputusannya. Cobalah duduk bersama, dengarkan ceritanya. Beri solusi dengan alasan yang logis dan dapat dipahami olehnya, jika keputusan yang dia buat ternyata tidak baik.

 

3 dari 4 halaman

Punya Pasangan Keras Kepala Menguras Emosi

- Coba berkompromi

Banyak masalah akan teratasi dengan sendirinya, jika kedua pihak yang keras kepala berkompromi dan tidak individualistis. Tidak peduli apa masalahnya, kita dapat berbicara satu sama lain dan kemudian mencoba membuat kompromi yang cocok untuk keduanya.

- Jangan balas dengan amarah

Marah atau berkelahi tidak akan pernah menyelesaikan apapun. Itu hanya akan memperparah hungan antara pasangan. Saat sedang berdebat, dan kita mulai merasa tekanan darah meningkat, cobalah untuk berhenti

Luangkan waktu setidaknya 15 menit untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran, karena segala keputusan yang diambil saat sedang marah, kemungkinan besar bukan keputusan baik.

- Gunakan gaya debat yang tepat

Cobalah menggunakan gaya dabat ala-ala dua orang politisi, jelaskan keuntungan dan kekurangan suatu keputusan yang ingin disepakati. Pahami keuntungan dan kekurangannya, coba bandingkan dengan opsi lainnya.

Berikan waktu sekitar dua menit untuk satu sama lain untuk berbicara tanpa adanya interupsi. Cara ini mungkin akan efektif untuk membantu pasangan yang keras kepala dalam mengambil keputusan.

- Ekspresikan cinta Anda

Saat pasangan sedang keras kepala, penting untuk mengungkapkan cinta satu sama lain. Biarkan pasangan kita tahu bahwa tidak peduli bagaimana masalah ini berakhir, kita akan tetap mencintainya dan tetap bersamanya. Dengan cara itu, mungkin pasangan akan lebih berempati dan mendengarkan pandangan kita.

- Pilih waktu yang tepat untuk berdiskusi

Kita tidak boleh terus maju dan mecoba mengajak pasangan untuk terus berdiskusi. Kita harus ingat bahwa mungkin harinya sedang berat atau mungkin ia sedang banyak pekerjaan di tempat kerjanya.

Maka dari itu, pilihlah waktu saat pasangan sedang santai untuk berdiskusi. Seperti saat selesai makan atau saat menonton televisi.

 

Penulis: Rizki Febianto

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini