Sukses

Mayoritas Perokok Tidak Percaya bahwa Merokok Meningkatkan Risiko Kena COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Para peneliti salah satunya dari Universitas Indonesia (UI) menyebut bahwa perokok lebih rentan terkena COVID-19 ketimbang bukan perokok. Namun, ada yang percaya dengan temuan ini ada pula yang tidak.

Peneliti dari Fakultas Ilmu Administrasi UI Krisna Puji Rahmayanti, S.I.A., M.P.A. dalam surveinya menemukan bahwa 84,1 persen responden yang bukan perokok dan mantan perokok percaya bahwa rokok menambah kerentanan terkena COVID-19.

Sedang, perokok aktif yang percaya hal tersebut hanya 36.4 persen. Data ini menunjukkan, tingkat kepercayaan orang yang tidak merokok lebih tinggi dari pada orang-orang yang merokok terkait peningkatan COVID-19. Survei ini melibatkan 621 responden dan 30 informan dari 25 provinsi di Indonesia.

“Responden yang bukan perokok atau mantan perokok mayoritas percaya (84.1 persen) bahwa perilaku merokok membuat perokok lebih rentan tertular COVID-19. Sementara responden yang merupakan perokok mayoritas tidak percaya (63.6 persen) bahwa perokok lebih rentan tertular COVID-19,” kata Krisna dalam webinar Komnas PT, Selasa (15/9/2020).

Pertanyaan lainnya juga diberikan kepada responden terkait perokok memiliki risiko mengalami gejala yang lebih parah saat terkena COVID-19 dibanding bukan perokok.

“Responden yang bukan perokok atau mantan perokok mayoritas (87,2 persen) percaya bahwa perokok yang terkena COVID-19 akan mengalami gejala yang lebih parah. Responden yang merupakan perokok aktif mayoritas tidak percaya bahwa perokok yang terkena COVID-19 akan mengalami gejala yang lebih parah.”

2 dari 4 halaman

Kebiasaan Merokok yang Tingkatkan Risiko COVID-19

Sebelumnya, Ketua Umum Yogya Sehat Tanpa Tembakau, Prof. RA. Yayi Suryo Prabandari, menyampaikan ada beberapa kebiasaan masyarakat saat merokok yang dapat meningkatkan penyebaran COVID-19.

Rokok disebut sebagai faktor peningkat risiko COVID-19 karena dapat menurunkan imunitas dan memicu penyakit komorbid. Di samping itu, kebiasaan orang saat merokok pun dapat menimbulkan bahaya tersendiri terkait penyebaran virus.

“Saat mau merokok biasanya perokok tidak mencuci tangan terlebih dahulu. Padahal, rokok-rokok yang ada di warung pun itu melalui beberapa tangan,” ujar Yayi dalam konferensi pers BNPB, pada Rabu (12/8/2020).

Tangan yang kotor, memungkinkan tertempel virus SARS-CoV-2. Kondisi ini meningkatkan risiko terhisapnya virus saat mengisap rokok.

Selain itu, kebiasaan saling berbagi rokok, terutama pada remaja juga rentan meningkatkan risiko tertular. Satu rokok dihisap oleh bukan hanya satu orang tapi bisa dua atau tiga orang bahkan lebih.

Menurut Yayi, kebiasaan seperti ini tentunya sangat meningkatkan risiko penularan COVID-19 di samping bahaya yang ditimbulkan oleh rokok itu sendiri.

3 dari 4 halaman

Infografis Rokok:

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: