Sukses

12 Hoaks dan Fakta Terkait Virus Corona Versi WHO

Liputan6.com, Jakarta Maraknya hoax (berita bohong) seputar virus corona kian mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  bahkan mengeluarkan sejumlah saran untuk menjawab berbagai hal soal virus corona yang menyebar luas di seluruh dunia.

Berikut ulasannya, seperti dilansir dari laman WHO:

1. Hand dryers membunuh virus COVID-19

Salah satunya yang beredar saat ini yaitu hand dryers (pengering tangan) dikatakan ampuh membunuh virus COVID-19. Tapi ini salah besar.

Virus tidak mati oleh suhu panas dari hand dryers. Yang ada malah virus berterbangan oleh angin yang ditiupkan mesin.

Yang harus Anda lakukan untuk mencegah tertular yaitu mencuci tangan setiap setelah kontak dengan seseorang atau benda dan sebelum tangan menyentuh wajah atau memasukkan sesuatu ke dalam mulut, misalnya makan.

Setelah mencuci tangan dengan sabun, sebaiknya keringkan dengan tisu kering sekali pakai atau lap tangan bersih milik sendiri. Anda juga bisa memakai handrub/antiseptik jika dalam keadaan darurat, hanya jangan lupa mencuci tangan dengan air dan sabun jika ada kesempatan.

2. Sinar UV membunuh COVID-19

Sinar UV sebaiknya tidak digunakan untuk mengeringkan tangan atau area kulit lainnya, karena sinar UV menyebabkan kulit iritasi.

3. Termo scanner (pendeteksi suhu) efektif mendeteksi seseorang terinfeksi COVID-19

Termo scanner efektif mendeteksi seseorang yang mengalami gejala demam (suhu seseorang di atas batas normal) karena infeksi covid-19. Sayangnya, alat ini tidak dapat mendeteksi seseorang yang telah tertular namun belum mengalami gejala demam, karena gejalanya muncul antara 2-10 hari sebelum seseorang tersebut menjadi sakit dan memiliki demam.

4. Menyemprotkan alkohol atau klorin ke seluruh tubuh akan membunuh COVID-19

Faktanya, mau seberapa banyak pun Anda menyemprotkan alkohol dan klorin ke tubuh tidak akan membunuh virus yang telah masuk ke dalam tubuh. Justru membahayakan mata, mulut, kulit. Semprotkan alkohol atau klorin hanya pada permukaan benda, itupun harus sesuai yang dianjurkan.

5. Menerima paket dari China akan menularkan COVID-19

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Hospital Infection baru-baru ini, virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini dapat bertahan di permukaan benda mati, termasuk permukaan logam, kaca atau plastik setidaknya sampai 9 hari jika permukaan tersebut tidak didisinfeksi.

"Berdasarkan data yang ada saat ini, COVID-19 memiliki kemiripan dengan SARS coronavirus sampai 80% di antara coronavirus yang diuji. Untuk SARS coronavirus, kisaran persistensi pada permukaan kurang dari lima menit hingga sembilan hari," ujar dr.Charles Chiu, profesor penyakit menular di University of California, San Fransisco sekaligus direktur USCF-Abbott Viral Diagnostics and Discovery Center.

Namun masih diperlukan lebih banyak penelitian dengan menggunakan kultur coronavirus baru untuk menentukan durasi bertahan di permukaan, karena penelitian sebelumnya memiliki strain, titer virus, dan kondisi lingkungan yang berbeda, dilansir dari CNN.

CDC telah mencatat bahwa virus ini menyebar melalui droplet, seperti tetesan bersin, batuk dan sebagainya. "Mungkin saja seseorang bisa tertular COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata, tetapi ini bukan cara utama penyebaran virus," menurut situs web CDC.

Jadi, selama paket tersebut bukan dari bahan tersebut masih aman. Kalaupun dari bahan tersebut, Anda dapat mendisinfeksinya dengan 62-71% ethanol, 0.5% hydrogen peroxide atau 0.1% sodium hypochlorite (klorin) yang me-non-aktifkan virus ini dalam hitungan menit, menurut penelitian, dilansir dari LiveScience.

 

2 dari 2 halaman

6. Hewan dapat menyebarkan COVID-19

Masih belum ada bukti bahwa hewan peliharaan seperti kucing dan anjing dapat terinfeksi virus ini. Namun, sebaiknya Anda tetap mencuci tangan dengan air dan sabun setelah kontak dengan hewan. Ini juga untuk mencegah tertular bakteri umum, seperti E.Coli dan Salmonella.

7. Vaksin pneumonia melindungi dari COVID-19

Vaksin yang melawan pneumonia seperti vaksin pneumococcal dan Haemophilus influenza tipe B (Hib) tidak memberi proteksi terhadap coronavirus baru ini. Saat ini para peneliti masih berusaha mengembangkan vaksin baru untuk mencegah virus ini dan dibantu oleh WHO.

Namun, meskipun vaksin ini tidak ampuh memberantas virus baru ini, vaksin untuk penyakit saluran napas sangat direkomendasikan untuk melindungi kesehatan.

8. Membersihkan hidung dengan 'saline' (cairan yang mengandung garam) membantu mencegah terinfeksi COVID-19

Sama sekali tidak ada bukti yang menjelaskan bahwa sering membersihkan hidung dengan saline melindungi seseorang dari infeksi COVID-19. Memang ada sedikit penelitian tentang membersihkan hidung dengan salin mempercepat penyembuhan dari pilek. Namun, rutin membersihkan hidung belum terbukti mencegah infeksi saluran napas.

9. Makan bawang putih mencegah infeksi coronavirus baru

Bawang putih memang merupakan makanan sehat yang mengandung senyawa antimikroba. Namun, tidak ada bukti dari wabah yang terjadi bahwa mereka yang makan bawang putih terlindungi dari COVID-19.

10. Minyak wijen mencegah coronavirus baru masuk ke tubuh

Sama sekali tidak. Minyak wijen tidak membunuh dan tidak mencegah virus ini masuk, artinya minyak wijen sama sekali tidak berdampak terhadap COVID-19. Memang ada larutan yang ampuh membunuh virus di permukaan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Jadi, mengolesi minyak wijen di sekujur tubuh justru dapat membahayakan, karena minyak wijen masih merupakan bahan kimia.

11. Coronavirus hanya berdampak pada lansia

Faktanya, semua usia dapat terinfeksi virus ini dan orang yang memang sudah memiliki penyakit sebelumnya, seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung akan menambah beban tubuh orang tersebut jika tertular COVID-19. Virus ini akan memperparah penyakitnya bahkan dapat berujung kematian jika tidak segera tertangani.

Maka dari itu lebih baik mencegah tertular mengikuti instruksi dari WHO untuk mengikuti kebersihan tangan dan kebersihan saluran napas.

12. Antibiotik efektif mencegah dan mengobati COVID-19

Antibiotik tidak bekerja terhadap virus. Maka dari itu antibiotik tidak boleh dijadikan sebagai obat pencegah maupun untuk mengobati virus ini. Adapun jika Anda dirawat di rumah sakit karena COVID-19, Mungkin Anda menerima resep antibiotik karena ada kemungkinan bekteri infeksi dari rumah sakit.

Hingga saat ini, jumlah penderita COVID-19 masih terus bertambah mencapai 82.183 orang dan 2.804 kematian terhitung sejak 27 Februari 2020 dini hari.

Loading