Sukses

Penyanyi Joy Red Velvet Alami Gangguan Somatik, Apa Itu?

Liputan6.com, Jakarta Penyanyi Korea Selatan, Park Soo-young atau Joy Red Velvet mengejutkan penggemarnya. Belum lama ini, ia didiagnosis menderita salah satu jenis gangguan mental, somatization disorder oleh dokter. Pelantun lagu Psycho tersebut mengungkapkannya di acara TV Happy Together.

Gangguan somatik (juga dikenal dengan nama somatization disorder atau somatoform disorder) merupakan salah satu jenis gangguan mental yang menyebabkan seseorang mengeluh rasa sakit di tubuh tapi tidak dapat diketahui penyebab medisnya.

Gejalanya meliputi kesakitan di beberapa bagian tubuh, masalah neurologis, keluhan di saluran cerna, gejala seksual dan sebagainya.

Penderita gangguan somatik tidak mengada-ada atas rasa sakitnya. Rasa sakit yang mereka alami beragam, dari nyeri ringan hingga sangat kesakitan. Jika ahli medis tidak mampu menjelaskan penyebabnya sehingga pasien biasanya kebingungan mengenai penyakitnya.

Kebanyakan penderita gangguan somatik akan merasa terganggu ketika beraktivitas, ditambah biasanya penderita dibarengi dengan gangguan kecemasan.

 

2 dari 3 halaman

Pemicu Gangguan Somatik

Selain gangguan kecemasan karena ketidakpahaman pasien mengenai penyakitnya, berikut ini merupakan berbagai masalah lain yang dihadapi penderita gangguan somatik, dilansir dari Web MD.

- Gangguan kecemasan, termasuk Hipokondriasis: kondisi ketika pasien merasa gejala yang dideritanya adalah gejala penyakit serius. Misalnya merasa sakit kepala dikira sakit tumor otak.

- Kelainan konversi, termasuk kelainan fungsi neurologis: ketika penyebab gangguan neurologis nya tidak terlacak. Gejalanya biasanya merasa lemas, muncul pergerakan abnormal seperti tremor, kebutaan, kehilangan pendengaran, dan sebagainya. Stres biasanya memperparah kondisi penderita kelainan konversi

- Gejala spesifik somatik lainnya: misalnya pseudocyesis (kehamilan palsu yang dibarengi dengan gejala sebagaimana kehamilan normal),

Stres menjadi pemicu rasa sakit penderita gangguan somatik.

"Untuk itu, pasien harus menghindari faktor stres dan lebih terbuka ke keluarga maupun orang terdekat untuk mencurahkan segala perasaannya," ujar Smitha Bhandari, MD ahli psikiatri dewasa, anak dan remaja, serta psikiatri forensik yang terdaftar di the American Board of Psychiatry and Neurology.

3 dari 3 halaman

Simak juga video berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Suka Duka Pelayan Pasien Gangguan Jiwa di Bekasi, Family Time Hanya 4 Jam
Artikel Selanjutnya
Mengungkap Kondisi Kejiwaan Pelaku Perobek Alquran di Tasikmalaya