Sukses

16 Juta Penduduk Indonesia Diprediksi Kena Diabetes pada 2045

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis penyakit dalam Dicky Levenus Tahapary dari Perkumpulan Endokrinologi (PERKENI) Jaya, mengatakan masyarakat sekarang hidup di lingkungan yang gampang sekali menjadi diabetes.

Terlalu sering mengonsumsi makanan manis dan malas bergerak adalah kebiasaan banyak masyarakat era sekarang.

Akibat dari perilaku tersebut, kegemukan tak dapat dihindari. Bila terus dibiarkan, membuka peluang untuk terjadinya diabetes.

"Oleh sebab itu, penting untuk melakukan skrining diabetes. Prediabetes setiap lima tahun, seperempatnya akan jadi diabetes maka harus diintervensi," kata Dicky di Universitas Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Kamis, 14 November 2019.

Menurut Dicky, langkah sederhana yang bisa dilakukan guna menurunkan risiko diabetes adalah dengan menjalani gaya hidup sehat.

"Gaya hidup bisa menurunkan risiko sampai 25 persen. Kalau obat hanya 10 sampai 15 persen," ujarnya.

 

2 dari 2 halaman

Diabetes di Perkotaan

Dicky mengatakan bahwa kesadaraan masyarakat di perkotaan, seperti Jakarta, masih rendah. Ini yang menjadi penyebab rendahnya penemuan kasus diabetes. Padahal, fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas mudah dijangkau.

"Akibatnya terlambat ditemukan. Sekitar 52 persen pasien dengan diabetes sudah memiliki komplikasi ketika didiagnosis," ujarnya.

International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 mencatat bahwa Indonesia adalah rumah bagi 10,3 juga penyandang diabetes.

Diperkirakan jumlahnya meningkat sebesar 60 persen pada 2045 menjadi 16,7 juta jiwa, dan menempati peringkat ke-7 dunia.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pun mendukung fakta tersebut. Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi diabetes di Indonesia meningkat dengan cepat.

Bila pada 2013 angka prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan darah pada penduduk berusia di atas 15 adalah 6,9 persen, tahun kemarin naik menjadi 8,5 persen.

Dicky mengatakan tantangan lain dalam pengelolaan diabetes adalah jumlah dokter dan dokter spesialis di fasilitas kesehatan yang tidak sebanding dengan banyaknya pasien.

Loading
Artikel Selanjutnya
Bisakah Mencegah Diabetes Melitus Tipe 1 pada Anak?
Artikel Selanjutnya
Wajib Tahu, 4 Gejala Diabetes pada Anak