Sukses

Hari Dokter Nasional: Jangan Sampai Tertinggal di Era Revolusi Industri 4.0

Liputan6.com, Jakarta Salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam bidang kedokteran, yakni bagaimana para dokter Indonesia menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Era ini ditandai ditandai dengan ledakan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang terhubung dengan aktivitas kehidupan manusia.

Menurut Ketua Bidang Advokasi Legislasi PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI),  Mariya Mubarika, 'ledakan' ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) era Revolusi Industri 4.0, khususnya bidang kedokteran begitu maju di luar negeri.

Namun, hal tersebut belum santer dirasakan di Indonesia.

"Ledakan IPTEK kedokteran di era Revolusi Industri 4.0 sangat dirasakan di luar negeri. Sayangnya, hal itu enggak meledak dirasakan di Indonesia. Hanya serpihan-serpihan (beberapa bagian) teknologi," kata Mariya saat dihubungi Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Kamis (24/10/2019).  

"Contohnya saja masih banyak orang Indonesia yang berobat keluar negeri (karena alat atau obat di Indonesia tidak tersedia atau kurang lengkap)."

 

Simak Video Menarik Berikut Ini:

2 dari 3 halaman

Butuh Kerjasama yang Kuat

Agar IPTEK kedokteran era Revolusi Industri 4.0 makin bergairah di Tanah Air, negara butuh kerjasama yang kuat, terutama dengan IDI. Serangkaian upaya dilakukan demi mewujudkan dunia kedokteran Indonesia yang eksis.

"Maka, negara membutuhkan peran dan keja keras IDI untuk berjuang mengubah regulasi sehingga dunia kedokteran bisa eksis. Berjuang agar pajak obat dan alat kesehatan dihilangkan (seperti di Malaysia)," Mariya melanjutkan.

"Ini renungan buat kita semua. Jangan sampai kita tertinggal di era Revolusi Industri 4.0. Jangan sampai pasien butuh obat, tapi di sini enggak tersedia."

3 dari 3 halaman

Investasi Teknologi Canggih

Upaya lain, yakni investasi rumah sakit menggunakan teknologi dan pendidikan kedokteran canggih, yang setara dengan dunia internasional. Seiring kemajuan teknologi, alat-alat canggih terbaru hadir dengan cepat.

"Kita harus berinvestasi dengan teknologi dan pendidikan kedokteran canggih. Misalnya, teknologi terbaru pengobatan kanker. Dengan adanya teknologi canggih, masyarakat tetap bisa berobat kanker di dalam negeri sendiri," Mariya menerangkan.

Menurut Mariya, kita juga sudah bisa memulai Revolusi Industri 4.0. Ada infrastruktur langit, yang mana dibangun serat optic Palapa Ring dari Aceh sampai Papua. 

"Karena di era 4.0, Telehealth dan Telemedicine merupakan pengaruh terbesar, yang harus mampu dijangkau dan diakses seluruh masyarakat Indonesia," ujar Mariya.