Sukses

Intip Keseruan Anak-Anak SD di Pandeglang Ikut Simulasi Bencana

Liputan6.com, Pandeglang Dalam sebuah foto, terlihat sejumlah anak SD yang mengikuti simulasi bencana meletakkan tas di atas kepala masing-masing. Kedua tangan memegang tas seraya berjalan menuju ke luar ruangan.

Cara tersebut rupanya sebagai bentuk perlindungan diri saat bencana terjadi, seperti gempa bumi. Salah satunya perlindungan terhadap kepala agar terhindar dari bangunan yang bisa saja runtuh.

Ekspresi anak-anak juga tampak panik dan ketakutan. Itulah simulasi bencana yang dilakukan anak-anak SD Negeri 1 dan 4 Citeureup, Pandeglang, Banten pada Sabtu, 5 Oktober 2019 pagi.

"Kegiatan (simulasi bencana) ini dilakukan di dalam dan luar ruangan. Anak-anak yang ikut kelas 1 sampai 6," Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Agus Wibowo dalam keterangan tertulis yang diterima Health Liputan6.com, Minggu (6/10/2019). 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 dari 4 halaman

Pahami Bencana Lewat Bernyanyi

Anak-anak SD menerima pengetahuan dan wawasan tentang penanganan penanggulangan bencana di Indonesia dari BNPB. Cara penyampaian pun disesuaikan dengan gaya yang mudah dipahami anak.

Video berdurasi 8 menit 33 detik memperlihatkan, anak-anak bisa memahami bencana apa yang akan terjadi dan cara menyelamatkan diri melalui nyanyian.

Sambil memainkan gitar di depan kelas, salah seorang anggota BNPB mengajak anak-anak bernyanyi. Anak-anak pun bernyanyi riang.

Isi lagu memberikan pesan, kejadian bencana gempa bumi yang berujung tsunami. Bahwa tanda-tanda tsunami akan terjadi saat air laut mendadak surut.

Dalam waktu 20 menit, evakuasi harus dilakukan dengan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi datarannya.

3 dari 4 halaman

Mengatasi Api

Selain simulasi bencana, anak-anak SD Negeri 1 dan 4 Citeureup juga diperkenalkan tentang pemadam kebakaran dan bagaimana mengatasi api. Di luar ruang, seorang anak SD berlatih cara memadamkan api.

Ada juga lomba mewarnai dan dongeng edukasi bencana. Kegiatan ini membuat anak-anak SD senang.

"Selain sosialisasi budaya sadar bencana melalui edukasi bencana di sekolah. BNPB juga melakukan sosialisasi dalam bentuk Ekspedisi Desa Tangguh Bencana, Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), peringatan bulan PRB di bulan Oktober. Bagaimana dapat mengedukasi masyarakat dan sadar tinggal di daerah rawan bencana," lanjut Agus.

"Tentunya, membuat masyarakat siap siaga, seperti mempersiapkan bangunan rumah aman gempa serta menyelamatkan diri dari bencana."

4 dari 4 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Hari Pengurangan Risiko Bencana Sedunia, Urgensi Mitigasi bagi Masyarakat Global
Artikel Selanjutnya
Lewat Wayang Golek, Edukasi Sadar Bencana di Pandeglang Cukup Efektif