Sukses

Mengenal Gejala Awal Cacar Monyet

Liputan6.com, Jakarta Kasus cacar monyet (menkeypox) pertama kali hadir di Singapura yang berasal dari warga negara Nigeria. Lalu, apa itu cacar monyet?

Seperti mengutip laman resmi WHO, virus cacar monyet atau monkeypox virus (MPXV) merupakan orthopoxvirus yang menyebabkan penyakit menular pada manusia yang serupa dengan cacar. Penyakit cacar monyet ini pertama kali muncul pada pedesaan di Afrika barat dan tengah.Kasus penyakit ini kerap ditemui di dekat hutan hujan tropis di mana terdapat kontak yang sering dengan hewan terinfeksi.

Tidak ada bukti hingga saat ini bahwa persebaran dari orang ke orang dapat menularkan cacar monyet pada manusia. Hingga saat ini, persebaran penyakit ini diketahui hanya dari hewan ke manusia.

Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau bekas luka dari hewan yang terinfeksi.

2 dari 3 halaman

Gejala yang Muncul

 

Gejala dari penyakit ini dapat terjadi mulai 14 hingga 21 hari. Beberapa gejala yang muncul dari penyakit ini berupa demam, sakit kepala parah, lymphadenopathy (pembengkakan kelenjar getah bening), sakit punggung, myalgia (nyeri otot), dan juga asthenia (kurangnya energi).

Ruam pada kulit juga dapat muncul dan biasanya dimulai dari wajah baru kemudian menyebar ke bagian lain tubuh. Lesi ini kemudian berkembang dari maculopapules (lesi dengan bentuk rata) menjadi vesicles (benjolah kecil padat), bintik-bintik, hingga menjadi lapisan kulit kering.Penyakit cacar monyet ini tak bisa dikenali sendiri dengan sejumlah gejala yang terlihat.

Perlu dilakukan tes di laboratorium secara khusus untuk melihat munculnya penyakit ini.

 

3 dari 3 halaman

Risiko Persebaran Rendah

Terkait penyebaran penyakit ini, Direktur eksekutif National Centre for Infectious Diseases (NCID), Leo Yee Sin dilansir dari Channel News Asia mengatakan penyakit itu memiliki risiko yang rendah untuk menyebar di Singapura.

"Tidak ada bukti bahwa penularan dari manusia ke manusia saja dapat menyebabkan infeksi monkeypox pada manusia," kata Leo.

Dia menyebut bahwa rata-rata setiap orang yang terinfeksi menularkan virus kepada kurang dari satu orang lainnya. Penyakit ini disebut lebih tidak menular dibanding flu biasa. Rantai penularan penyakit ini juga diapat dihentikan dengan melakukan karantina pada mereka yang sempat melakukan kontak dekat dengan penderita.

Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura menyebut bahwa penyakit ini biasanya sembuh sendiri. Sebagian besar pasien akan sembuh dalam jangka waktu dua hingga tiga minggu.

Untuk mencegah agar tak tertular penyakit ini, sebaiknya kurangi kontak dengan primata serta batasi paparan langsung terhadap darah serta daging yang dimasak tak layak. Kontak fisik dengan orang yang terinfeksi juga sebaiknya dihindari.

 

Penulis: Rizky Wahyu Permana/Merdeka.com

Loading
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Gandeng Arsitek dan Seniman Bangun Ibu Kota Baru di Luar Jawa
Artikel Selanjutnya
Heboh Cacar Monyet, Ini Daftar RS di Kepri yang Sudah Siapkan Ruang Isolasi