Sukses

86 persen Remaja Terpapar Senyawa yang Terkandung dalam Plastik

Liputan6.com, Jakarta 86 persen remaja saat ini terpapar bahan kimia Bisphenol A (BPA) akibat penggunaan plastik. Temuan ini diungkap dalam sebuah penelitian publik terbaru yang berkolaborasi dengan University of Exeter, Inggris.

BPA sendiri merupakan senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik. Tingkat bahan yang mengganggu endokrin ini bisa diukur. Mereka ditemukan di sebagian besar urin dari 94 remaja usia 17 sampai 19 tahun. Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Lorna Harries dan Profesor Tamara Galloway ini menyerukan pelabelan kemasan yang lebih baik, agar konsumen mampu memilih produk yang bebas dari BPA.

Mengutip laman resmi universitas exeter.ac.uk pada Kamis (21/2/2019), tim menemukan bahwa bahan kimia tersebut ada di mana-mana. Sehingga, upaya mengurangi paparan dengan menghindari kemasan makanan yang mengandung BPA tidak memiliki dampak terukur pada paparannya.

Sekalipun BPA bisa keluar dengan cepat dari tubuh (waktu hidup tercepat sekitar 6 jam), namun paparan pada remaja yang berpartisipasi di penelitian ini memiliki tingkat rata-rata 1,9ng/ml. Angka ini sama dengan tingkat paparan yang terjadi pada populasi di negara-negara lain di seluruh dunia.

"Kami tidak menemukan bukti dalam pada studi intervensi yang dikelola mandiri ini, kemungkinan untuk memoderasi paparan BPA dengan pengaturan diet di dunia nyata. Partispan studi kami mengindikasikan bahwa mereka tidak mungkin bertahan dalam diet jangka panjang, karena kesulitan dalam mengidentifikasi makanan bebas BPA," tulis penelitian itu.

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 3 halaman

Sulit dihindari

Profesor Galloway mengatakan, ada banyak cara makan yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan BPA. Beberapa di antaranya menghindari buah dan sayuran dalam kemasan plastik, makanan kaleng, serta makanan yang dirancang untuk dipanaskan lagi di microwave. Semuanya itu memiliki BPA yang berdampak kecil dalam tubuh.

Selain pemeriksaan urin, para remaja yang berpartisipasi di studi juga melakukan percobaan untuk melihat apakah ada efek yang ditimbulkan jika mereka mengurangi konsumsi produk-produk yang terkait dengan plastik. Misalnya beralih ke penyimpanan makanan dan minuman yang terbuat dari stainless steel.

Walaupun beberapa peserta dengan tingkat BPA tinggi mendapati pengurangan, tetapi semua itu tidak terlalu berpengaruh secara keseluruhan.

"Paparan terhadap bahan kimia yang mengganggu endokrin Bisphenol A ada di mana-mana. Ada bukti yang berkembang bahwa paparan bahan kimia yang mengganggu endokrin terkait dengan kesehatan yang buruk," kata Galloway.

"Tingkat BPA yang terukur ada di sebagian besar peserta kami. Mereka tidak bisa mencapai pengurangan BPA dalam urin selama periode percobaan tujuh hari, meskipun patuh pada pedoman yang disediakan," tambahnya.

 

3 dari 3 halaman

Manusia tidak punya pilihan

Penelitian sebelumnya yang dilakukan tim dari Exeter menemukan, BPA merupakan bahan kimia yang mirip dengan estrogen. Mereka masuk ke tubuh melalui cara makan manusia.

Makanan olahan atau yang dikemas dalam plastik, bisa mengandung BPA tinggi. Hal tersebut menyebabkan perubahan pada ekspresi gen yang responsif estrogen dan pengaturan hormon.

"Sebagian besar orang terpapar BPA setiap hari," kata Profesor Harries.

"Di dunia yang ideal, kita memiliki pilihan atas apa yang kita masukkan dalam tubuh. Saat ini, karena sulit untuk mengidentifikasi makanan dan kemasan mana yang mengandung BPA, tidak mungkin membuat pilihan itu," tambahnya.

Penelitian ini telah dipublikasikan di BMJ dengan judul "An engaged research study to assess the effect of a ‘real-world’ dietary intervention on urinary bisphenol A (BPA) levels in teenagers."

Presiden Jokowi Menerima Pimpinan Forum Betawi Rempug di Istana Bogor
Loading
Artikel Selanjutnya
Insinerator Bukan Solusi Tepat Kurangi Risiko Kesehatan dari Sampah Plastik
Artikel Selanjutnya
Harga Murah Plastik Tidak Sebanding dengan Risiko Kesehatan yang Muncul