Sukses

Siwabessy, Pelopor Puskesmas di Indonesia

 

Liputan6.com, Jakarta Nama Gerrit Agustinus Siwabessy mungkin masih asing di sebagian telinga masyarakat Indonesia. Namun, jasa-jasa Siwabessy bagi dunia kesehatan Indonesia begitu besar.

Saat Siwabessy menjabat sebagai Menteri Kesehatan dari 1966-1978 banyak program-program kesehatan yang penting bagi rakyat Indonesia. Mulai dari Keluarga Berencana, kehadiran yayasan kanker, puskesmas, hingga asuransi kesehatan yang merupakan cikal bakal asuransi kesehatan nasional BPJS Kesehatan.

Puluhan tahun sebelum mencapai hal itu, Siwabessy harus melewati kehidupan yang tidak mudah. Ia lahir dari pasangan petani cengkeh di DesaNagari Ullath, Saparua, Maluku pada 19 Agustus 1914. Setahun setelah lahir, ayahnya, Ennoch Siwabessy meninggal dunia.

Ibu Siwabessy, Naatje Manuhutu, kemudian menikah lagi dengan seorang guru Yakkob Leuwol. Beruntung sekali, Siwabessy mendapatkan ayah tiri yang berprofesi sebagai guru. Ia jadi bisa bersekolah.Siwabessy mendapatkan pendidikan di MULO.

Tak menyia-nyiakan kesempatan bersekolah, Siwabessy kecil lulus di 1931 dengan nilai amat baik. Awalnya, ia ingin melanjutkan pendidikan di bidang fisika. Namun, saat itu hanya tersedia beasiswa kedokteran. Ia berangkat sendiri dari Maluku ke Surabaya untuk bisa bersekolah pendidikan kedokteran di NIAS, Surabaya.

Pada 1941, Siwabessy lulus ujian calon dokter. Saat kuliah ia ingin mengembangkan pengetahuan medis di bidang fisika. Namun, ia juga memiliki minat tinggi di bidang psikiatri.

Pertemuannya dengan teman lama di NIAS, dokter spesialis paru di Bagian Radiologi RS Simpang, Sutjahyo jadi awal mula ia aktif di dunia radiologi.

Sekitar dua tahun setelah lulus sebagai dokter. Siwabessy menjadi Kepala Bagian Radiologi RS Simpang hingga akhir November 1945.

2 dari 3 halaman

Dapat beasiswa ke Inggris

Ketekunannya mendalami suatu bidang membuat Siwabessy mendapatkan beasiswa ke Inggris. Ia juga berkesempatan berkunjung ke pusat radiologi dan kedokteran nuklir di Inggris.

Mengutip Klikdokter, kembali ke Indonesia Siwabessy diangkat menjadi direktur di Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Serangan bom atom di Jepang mendorong negara-negara maju mengembangkan senjata tersebut.

Hal ini disikapi oleh pemerintah Indonesia yang khawatir akan efek negatif bagi kesehatan yang muncul dari debu radioaktif. Ia juga melanjutkan karyanya dengan mendirikan Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Ia juga diangkat sebagai kepala Bagian Radiologi pada rumah sakit pusat RSCM, memegang tugas sebagai Guru Besar UI, dan konsultan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto.

Ia membina para dokter di bidang radiologi dengan mendirikan sekolah asisten rontgen, melatih para dokter penyakit paru-paru hingga mengatur kegiatan klinis di berbagai rumah sakit. 

3 dari 3 halaman

Menteri Kesehatan terlama

Pada 1966, Presiden Soekarno menunjuk Siwabessy menjadi menteri kesehatan. Namun, kinerjanya di posisi tersebut tetap berlangsung hingga 1978 di bawah pemerintahan Soeharto.

Pada periode pertama diangkat sebagai Menkes dalam Kabinet Ampera, Siwabessy meletakkan pondasi pembangunan kesehatan nasional melalui stabilisasi sosial politik dan sosial ekonomi serta mengusahakan manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohani seperti dikutip dari laman Sehat Negeriku dari Kementerian Kesehatan.

Sejumlah keberhasilan dicapai Siwabessy selama menjabat sebagai menteri kesehatan. Diantaranya membangun kembali kerjasama dengan organisasi-organisasi internasional setelah Indonesia menjadi anggota PBB. Selain itu, dengan memanfaatkan bantuan dana luar negeri, Siwabessy membangun laboratorium rumah sakit di Bandung, intensive care (gawat darurat) di Jakarta, floating hospital (kapal rumah sakit) di Maluku, fasilitas dan peralatan kesehatan rumah sakit umum di Semarang dan Purwokerto serta pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Di bawah kepempimpinanya hadir pembangunan sarana kesehatan yang terdiri dari puskesmas, pembangunan Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (Samijaga) di seluruh Indonesia, pengadaan pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit, pengadaan dan pengawasan obat, pemberantasan penyakit menular, pengembangan laboratorium, penelitian dan surveilans.

Juga kesehatan gigi dan jiwa, pendidikan kesehatan, pendidikan kesehatan masyarakat, pendidikan health education specialist, penyuluhan kesehatan sampai dengan pembentukan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (Asuransi Kesehatan, yang kini telah menjadi Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Kesehatan).Siwabessy meninggal di suatu malam yang tenang pada 11 November 1982, Jakarta.

Artikel Selanjutnya
Dr. Leimena, Perintis Pembangunan Balai Kesehatan di Desa-desa
Artikel Selanjutnya
Jacob Sitanala, Mahasiswa Cerdas yang Jadi Ahli Kusta Pertama Indonesia