Sukses

Pakar ITB Olah Sampah Jadi Sumber Bahan Bakar

Liputan6.com, Jakarta Sampah kota masih menjadi masalah serius di Indonesia. Padahal, hal itu sesungguhnya merupakan potensi sumber energi yang belum termanfaatkan.

Dengan memproduksi bahan bakar dari sampah kota, permasalahan volume sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa diselesaikan. Selain itu, sumber daya bahan bakar berkelanjutan bisa didapatkan.

Hal inilah yang menjadi tantangan bagi para pakar di Kelompok Keahlian (KK) Konversi Energi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB).

Tantangan yang ada datang dari cara mengolah sampah kota yang tercampur untuk menjadi bahan bakar serupa dengan bahan bakar konvesional.

"Banyak jenis pengolahan sampah yang sudah dicoba, namun hingga saat ini belum didapatkan metode yang mumpuni sekaligus layak secara ekonomi," ujar Prof. Ari Darmawan Pasek dari KK Konversi Energi FTMD ITB seperti dikutip dari siaran pers dalam situs resmi ITB.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 3 halaman

Prinsip Hidrotermal

Saat ini Laboratorium Termodinamika KK Konversi Energi FTMD ITB sedang mengembangkan sebuah teknologi onovatif yang bisa mengubah sampah kota menjadi bahan bakar padat yang seragam dan ramah lingkungan.

Dengan prinsip hidrotermal, sampah kota campuran organik- plastik yang tidak terpilah dapat dimanfaatkan kembali, dan dengan cara pandang terhadap Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) dapat diubah dari tempat pembuangan sementara menjadi tempat pengolahan akhir.

Mengenai cara kerjanya, sampah padat yang telah dikumpulkan dimasukkan ke dalam reaktor bersama dengan air. Setelah proses umpan selesai, reaktor ditutup dan proses dimulai dengan memanaskan reaktor hingga temperatur operasi.

"Konsep ini serupa dengan memasak menggunakan panci presto. Produk yang diperoleh akan berupa padatan seragam yang berukuran lebih kecil. Yang dapat digunakan sebagai bahan bakar padat," jelas Dr. Pandji Prawisudha.

 

3 dari 3 halaman

Tidak Perlu Pemilahan

Sebelumnya, pada 2015 hingga 2017 sebuah penelitian telah berhasil melakukan pengambilan data sampah dan perancangan prototipe alat pengolah sampah yang tidak membutuhkan sumber energi dari luar dan mudah dipindahkan.

Keunggulan utama teknologi ini adalah sampah kota yang diolah tidak memerlukan proses pemilahan maupun pencacahan terlebih dahulu.

"Sampah dapat diproses apa adanya, dan dua alternatif produk dapat dihasilkan dari pemrosesan satu jenis produk seragam berisi campuran organik dan plastik yang dijadikan bahan bakar padat bernilai kalor tinggi dalam bentuk briket, atau dua jenis produk organik dalam bentuk halus dan produk plastik terpisah yang dapat digunakan dalam proses recycling lebih lanjut," ujar Pandji.

"Penelitian serupa untuk produk padatan juga menunjukkan potensi produk padat sebagai kompos, dengan kecepatan pematangan kompos yang jauh lebih tinggi, mampu menghasilkan kompos matang dalam waktu 11 hari dibandingkan dengan proses komposting konvensional yang membutuhkan waktu hingga tujuh pekan," pungkas Dr. Pandji Prawisudha.