Sukses

Hari Buruh: 1 dari 3 Perempuan Alami Pelecehan di Tempat Kerja

Liputan6.com, Jakarta Tanggal 1 Mei diperingati sebagai May Day atau Hari Buruh Internasional. Pada hari ini, para buruh biasanya akan melakukan demonstrasi untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka.

Berbicara tentang kesejahteraan, tidak melulu seputar uang atau besarnya gaji. Kenyamanan dan rasa aman berada di tempat kerja termasuk dalam kesejahteraan yang harusnya diperjuangkan di Hari Buruh, terutama untuk pekerja atau buruh perempuan. 

Media perempuan Cosmopolitan, melakukan survei terhadap 2.235 pekerja purna waktu dan paruh waktu di AS. Mereka menemukan, satu dari tiga perempuan ini pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja.

Sementara itu, Serikat Buruh di Inggris mencatat, lebih dari setengah pegawai perempuan pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja mereka. Sepertiga di antaranya menjadi sasaran lelucon bernuansa seksual, dan seperempat dari para perempuan ini menerima sentuhan yang tidak mereka inginkan, mengutip BBC.

"Pelecehan seksual tidak pernah berhenti--mereka hanya hadir dalam bentuk yang berbeda," tulis Michelle Ruiz dan Lauren Ahn dari Cosmopolitan, dikutip dari Huffington Post, Selasa (1/5/2018).

Tidak seperti pelecehan seksual yang sering digambarkan dalam film atau budaya pop lainnya, dalam kehidupan nyata pelecehan seksual terjadi dengan cara yang lebih samar.

Asosiasi Wanita Universitas Amerika mendefinisikan pelecehan seksual sebagai "semua bentuk pendekatan seksual, permintaan tindakan seksual, atau perilaku verbal atau fisik bernuansa seksual lainnya, yang tidak diinginkan".

 

Saksikan juga video menarik berikut : 

2 dari 2 halaman

Pelecehan Terjadi dalam Berbagai Bentuk

Serikat Buruh Inggris mengatakan, pelecehan seksual di tempat kerja bisa terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari komentar yang tidak pantas, lelucon tentang kehidupan seksual seseorang, sampai sentuhan, pelukan, ciuman, dan bahkan permintaan hubungan seksual yang tidak diinginkan.

Serikat Buruh Inggris juga menemukan, sembilan dari 10 kasus pelecehan seksual dilakukan oleh pria. Tujuh puluh sembilan persen wanita mengatakan, mereka adalah korban pelecehan seksual tetapi memilih untuk tidak melaporkannya.

Alasan para pegawai perempuan ini memilih bungkam bermacam-macam, ada yang karena khawatir hal itu akan memengaruhi hubungan di tempat kerja, memengaruhi lajunya karier, takut tidak dipercaya atau tak dianggap serius, dan sisanya mengaku mereka terlalu malu--karena menjadi korban pelecehan seksual.