Sukses

Apa Kaitan Bayi Belajar Jalan dengan Risiko Autisme?

Liputan6.com, Jakarta Para peneliti di Washington University School of Medicine di St Louis mengidentifikasi jaringan otak yang terlibat dalam pembelajaran berjalan pada bayi. Temuan ini bisa membantu memprediksi risiko autisme pada sejumlah bayi.

Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal daring Cerebral Cortex itu, para peneliti memindai otak dan mengevaluasi kemampuan motorik hampir 200 bayi. Mereka mendapati bagian dalam jaringan otak yang pada orang dewasa sepertinya tidak melakukan apa-apa ternyata terlibat dalam pembelajaran berjalan dan pengontrolan fungsi motorik kasar pada bayi.

Jaringan yang dinamai jaringan mode default ini aktif selama tidur, saat melamun, dan ketika seseorang memikirkan diri sendiri dan lingkungannya, termasuk kemampuan sosial individu tersebut.

Riset sebelumnya menunjukkan bahwa orang dengan penyakit Alzheimer dan autisme sering mengalami gangguan pada jaringan mode default-nya.

"Berjalan adalah tonggak sejarah besar dalam fungsi motorik. Itu berhubungan dengan pemahaman anak mengenai hubungan tubuhnya dengan lingkungan," kata penulis pertama hasil studi itu, Natasha Marrus, dari Washington University di St Louis.

"Bahwa jaringan mode default terlibat itu penting karena jaringan itu dianggap sangat terlibat dalam perkembangan rasa diri seseorang. Temuan kami memungkinkan kami mengidentifikasi bagian-bagian otak dan jaringan yang bisa memprediksi aspek autisme sebelum memungkinkan dilakukan diagnosis klinis," katanya.

Marrus dan koleganya melakukan pemindaian fungsi otak pada 187 anak ketika mereka sedang tidur. Mereka memindai otak anak-anak itu mendekati ulang tahun pertama mereka dan melakukannya lagi sekitar setahun kemudian dan bersamaan dengan itu juga mengevaluasi kemampuan motorik kasar mereka. 

 

 

Saksikan juga video berikut ini: 

1 dari 2 halaman

Perubahan jaringan otak di tahun pertama dan kedua

Para peneliti mendapati bahwa antara ulang tahun pertama dan kedua anak, jaringan otak yang berhubungan dengan belajar berjalan berubah.

Pada usia 12 bulan, hubungan yang kuat antara jaringan motorik pada otak dan jaringan mode default berkaitan erat dengan kemampuan berjalan lebih baik dan kemampuan motorik kasar.

Pada usia 24 bulan, jaringan otak yang berkaitan dengan perhatian dan kontrol tugas juga terlibat dalam pembelajaran berjalan dan kemampuan motorik kasar.

"Ketika anak pertama belajar berjalan, ada satu terobosan besar dalam melibatkan menaruh satu kaki di depan yang lain dan belajar mengendalikan tubuh," kata Marrus.

"Saat kemampuan berjalan membaik, kemungkinan anak mulai berfikir, 'Di mana, tepatnya, saya ingin menaruh kaki saya?' Atau, 'Apakah saya perlu menyesuaikan posisi saya?' Dan dengan menjadi kurang atau lebih aktif, jaringan mode default, bersama jaringan yang lain, bisa membantu memproses informasi itu."

Kemungkinan otak pada anak-anak yang kemudian mengalami autisme tidak mahir dalam membuat koneksi jaringan itu dan memproses datanya, kata para peneliti.

"Memahami hubungan antara jaringan-jaringan ini mungkin penting untuk memahami perbedaan-perbedaan pada otak yang berhubungan dengan autisme," kata John R Pruett dari Washington University di St Louis.

"Dalam studi-studi di masa mendatang, kami ingin mengidentifikasi perbedaan-perbedaan hubungan jaringan otak pada anak yang mengalami autisme dan yang tidak mengalaminya dan melihat bagaimana mereka mempengaruhi peristiwa penting dalam perilaku motorik," katanya sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.

(Natisha Andarningtyas/AntaraNews)

Artikel Selanjutnya
Kenali 14 Pantangan Wajib Anak Autisme agar Tetap Sehat (2)
Artikel Selanjutnya
Studi: Gaya Hidup Ayah Pengaruhi Kesehatan Anak di Masa Depan