Sukses

Seberapa Efektif Lidah Buaya untuk Obati Luka Bakar?

Liputan6.com, Jakarta Orang tua dulu sering menganjurkan menggunakan lidah buaya untuk mengatasi luka bakar. Tumbuhan yang sering ditanam di pekarangan rumah ini dapat menghentikan rasa sakit, peradangan, mengurangi pembengkakan, dan merangsang pertumbuhan kulit.

Meski lidah buaya telah banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan luka bakar, tapi bukti klinisnya masih belum jelas. Hanya saja, kepercayaan bahwa lidah buaya dapat mengatasi luka bakar sudah terjadi sejak abad pertama masehi. Pada tahun itu, dokter Yunani, Dioscorides, menjadikan tanaman berwarna hijau dan sedikit berduri sebagai obat perawatan kulit, terutama untuk luka bakar.

Situs National Center for Biotechnology Information, NCBI, pernah melakukan kajian sistematis untuk melihat kemanjuran dari penggunaan lidah buaya untuk luka bakar. Mereka pun mencari studi yang relevan dari sejumlah jurnal kesehatan yang ada seperti MEDLINE, CINAHL, Cochrane Library, HealthSTAR, DARE, South East Asia Databese, dan Chinese Databese dari 1918 sampai Juni 2004.

Empat studi dengan total responden sebanyak 371 pasien, berdasarkan meta-analisis menggunakan durasi penyembuhan luka sebagai ukuran hasil. Dari ringkasan mengenai berapa lama waktu penyembuhan, diketahui bahwa penyembuhan luka bakar menggunakan lidah buaya lebih pendek delapan hari ketimbang penggunakan plasebo.

Namun, bukti kumulatif cenderung menyimpulkan, penggunaan lidah buaya hanya cocok digunakan pada luka bakar derajat kedua atau pertama kali kasus terjadi. Jika sudah lama didiamkan tanpa diobati sama sekali, penyembuhan luka bakar menggunakan lidah buaya tidak efektif.

Hal yang sama juga terjadi pada penelitian dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Seperti dikutip dari situs NY Times pada Jumat (20-1-2017), penyembuhan luka bakar menggunakan lidah buaya lebih efektif ketimbang plasebo. Namun, para peneliti menemukan, meski efektif tapi tidak mengurangi jumlah bakteri atau mempercepat regerasi kulit.