Sukses

Nila Moeloek: Program Kemkes akan Dibuat Satu Arah

Liputan6.com, Jakarta Baru saja Presiden Jokowi mengumumkan Kabinet Kerja dengan masing-masing posisi menteri yang menjabatnya. Salah satunya kementerian yang diumumkan adalah Kementerian Kesehatan. Setelah berbagai sosok dikabarkan menjadi calon kuat, ternyata yang muncul dan disebut Presiden Joko Widodo adalah Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek, SpM(K) .

Nila Djuwita Anfasa Moeloek yang lahir di Jakarta, 11 April 1949 adalah salah satu Staf Ahli Divisi Tumor Mata di RSCM Kirana. Alumni dokter umum dan spesialis mata dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini meneruskan subspesialisasi International Fellowship di Orbita Centre, University of Amsterdam, Belanda dan di Kobe University, Jepang. Setelah itu ia meneruskan pendidikan konsultan Onkologi Mata dan program Doktor Pasca Sarjana di FKUI, Jakarta. Ia adalah ketua umum Dharma Wanita Persatuan Pusat periode 2004-2009 dan istri Farid Anfasa Moeloek, Menteri Kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan.

Nila Moeloek, begitu biasa perempuan ini disapa pernah menjadi "Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millennium Development Goals" pada 2009 - 2014.

Beberapa saat setelah diumumkan Nila menyebutkan bahwa para calon menteri sebelum diumumkan mendapat arahan dari Presiden untuk menunggu dan melihat program yang ditetapkan. Setelah itu akan dijabarkan untuk masing-masing kementerian. "Program-program ini akan dibuat dalam satu arah,"ujar Nila di Jakarta saat diwawancara KompasTV, Minggu (26/10/2014).

Menurut Nila yang paling penting ke depan adalah tetap mengedepankan perlunya promosi dan pencegahan berbagai penyakit. "Sebenarnya kesehatan itu bagaimana menjaga ksehatan. Pencegahan lebih baik. Tidak boleh menunggu. Kuratif akan menelan biaya lebih besar,"kata wanita yang aktif aktif sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), anggota Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami), staf pengajar Departemen Mata FKUI, Anggota Kolegium Oftalmologi Indonesia, Senat Akademik FKUI di Istana Negara, Minggu (26/10/2014).

Saat ditanya tentang kasus wabah ebola Nila menyebutkan bahwa saat ini di Indonesia belum ada kasusnya. "Kita harus hati-hati karena virus ini mematikan, terutama bila ada pendatang dari Afrika,"tegas Nila.