Tokoh Oposisi Togo Meminta Perlindungan Prancis

Gilchrist Olympio meminta suaka politik kepada Prancis menyusul pergantian presiden di negerinya, Togo. Tokoh oposisi ini menilai suksesi menyalahi konstitusi dan penunjukan Faure Gnassingbe adalah kudeta.

Diterbitkan 07 Februari 2005, 07:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Paris: Seorang tokoh oposisi Republik Togo, Gilchrist Olympio memohon suaka politik kepada pemerintah Prancis, baru-baru ini. Permintaan itu dilakukan menyusul pergantian Presiden Togo Gnassingbe Eyadema oleh putranya Faure Gnassingbe.

Olympio menilai suksesi di negaranya sudah menyalahi konstitusi. Bahkan, penunjukan Faure sebagai presiden oleh militer Togo adalah kudeta. Pengangkatan Faure sendiri dilakukan beberapa jam setelah Eyadema wafat.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Prancis menyerukan agar pemerintahan Togo segera menjalankan konstitusi dan mengembalikan proses suksesi ke tangan Parlemen. Konstitusi Togo mengatur Parlemen untuk menggelar pemilihan umum presiden dalam waktu 60 hari setelah presiden mangkat.

Republik Togo adalah wilayah koloni Prancis di pantai barat Afrika yang merdeka pada 1960. Negara dengan wilayah hampir seluas Pulau Bali ini mengandalkan cokelat dan kopi sebagai sumber penghasilannya. Selama 38 terakhir, negara ini dipimpin Gnassingbe Eyadema sekaligus menjadi salah satu pemimpin Afrika dengan masa jabatan terpanjang.(TOZ/Idr)