Menlu Indonesia dan Filipina Bertemu, Bahas Kolaborasi Sektor Energi hingga Pendataan Warga Keturunan

Pendataan warga keturunan diharapkan mempermudah akses layanan di masing-masing negara.

Diterbitkan 23 April 2026, 15:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Filipina menegaskan komitmen untuk memperdalam kerja sama bilateral dalam berbagai sektor strategis dalam pertemuan ke-8 Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) yang digelar di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyampaikan bahwa pertemuan JCBC ke-8 mencerminkan kuatnya kemitraan antara Indonesia dan Filipina sebagai negara tetangga dekat, sesama negara kepulauan, serta anggota pendiri ASEAN.

"Pertemuan kita hari ini mencerminkan kemitraan yang kuat… Diskusi kita berfokus pada satu tujuan utama, yaitu memastikan bahwa kerja sama bilateral kita memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat," ujar Menlu Sugiono dalam konferensi pers bersama dengan Menlu Filipina Theresa Lazaro.

Ia menegaskan dukungan penuh Indonesia terhadap keketuaan Filipina di ASEAN tahun ini, sekaligus komitmen bersama untuk menjaga persatuan dan sentralitas ASEAN di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Dalam bidang ekonomi, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama melalui penggunaan mata uang lokal, penguatan sistem pembayaran digital berbasis QR, serta peningkatan konektivitas kawasan perbatasan seperti Manado, Bitung, Davao, dan General Santos.

Di sektor energi, Indonesia dan Filipina menyoroti pentingnya kolaborasi sebagai dua produsen nikel terbesar dunia, termasuk melalui kemitraan mineral kritis seperti Nickel Alliance guna memperkuat rantai pasok global.

Sementara itu, dalam bidang politik dan keamanan, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama maritim, pengelolaan perbatasan, serta mempercepat pembahasan delimitasi landas kontinen berdasarkan hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip dalam UNCLOS 1982.

"Kita juga sepakat memperkuat kolaborasi industri pertahanan, termasuk melalui pengadaan alutsista buatan Indonesia," kata Menlu Sugiono.

Selain itu, isu konsuler turut menjadi perhatian, khususnya terkait penyelesaian status warga keturunan Indonesia dan Filipina di masing-masing negara.

Dalam konteks regional dan global, Menlu Sugiono menegaskan pentingnya menjaga perdamaian di Laut China Selatan, mendorong proses politik inklusif di Myanmar, serta menyoroti dinamika geopolitik di Timur Tengah.

"Terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah, kita sepakat bahwa gencatan senjata saat ini merupakan langkah penting untuk mencegah eskalasi lebih luas,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa stabilitas kawasan Teluk sangat krusial bagi ketahanan energi dan ekonomi kedua negara.

Menlu Sugiono menegaskan bahwa solusi dua negara merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai perdamaian berkelanjutan di Palestina.

Menutup pernyataannya, Menlu Sugiono menekankan bahwa hubungan Indonesia–Filipina terus berkembang semakin strategis.

"Kekuatan kita terletak pada persatuan… Indonesia dan Filipina akan terus melangkah bersama sebagai tetangga dekat dan mitra tepercaya," tuturnya.

Kedekatan Hubungan dan Penguatan Kerja Sama

Pada gilirannya, Menlu Filipina Theresa Lazaro menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari pemerintah Indonesia dalam penyelenggaraan JCBC ke-8.

"Filipina sangat menghargai hubungan bilateral dengan Indonesia, yang tahun ini akan mencapai 77 tahun. Indonesia bukan hanya tetangga dekat, tetapi juga mitra, sahabat, dan saudara," ujar Lazaro.

Ia menegaskan bahwa JCBC, yang telah dibentuk sejak 1993, merupakan mekanisme penting dalam memperkuat hubungan kedua negara di berbagai bidang, mulai dari pertahanan, ekonomi, hingga hubungan antar masyarakat.

Menurut Lazaro, pertemuan kali ini membahas berbagai isu yang tercakup dalam Rencana Aksi Filipina–Indonesia 2022–2027, termasuk kerja sama di sektor pertahanan, keamanan maritim, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Selain itu, kedua negara juga bertukar pandangan mengenai sejumlah isu strategis, seperti Laut China Selatan, dinamika di ASEAN, serta krisis di Timur Tengah.

Lazaro secara khusus menyoroti kedekatan sosial antara masyarakat kedua negara, termasuk upaya pendataan warga keturunan Filipina di Sulawesi Utara.

"Kita membahas upaya pendaftaran orang keturunan Filipina… agar mereka dapat memperoleh dokumen resmi dan akses layanan sosial secara cepat dan menyeluruh," jelasnya.

Ia mengapresiasi keberhasilan program serupa bagi warga keturunan Indonesia di Filipina, yang telah memberikan kepastian kewarganegaraan bagi ribuan orang.

Ke depan, Filipina dan Indonesia sepakat untuk memperpanjang rencana aksi guna memperkuat kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan di berbagai bidang.

Lazaro juga menegaskan bahwa tantangan geopolitik global saat ini memiliki dampak langsung terhadap kepentingan kedua negara, baik di bidang keamanan maupun ekonomi.

Filipina berencana menjadi tuan rumah pertemuan JCBC berikutnya di Manila.

"Kami menantikan kehadiran presiden dan menlu RI dalam KTT ASEAN mendatang di Filipina," ujarnya.

Ia turut menyampaikan terima kasih atas dukungan Indonesia terhadap keketuaan Filipina di ASEAN, sekaligus menegaskan komitmen untuk terus mempererat hubungan bilateral ke arah yang lebih produktif dan bermakna.