Harga Hotel di UEA Anjlok 75 Persen Akibat Perang Iran

Pihak hotel dengan sengaja menurunkan harga menginap akibat situasi di Timur Tengah.

Diterbitkan 24 Maret 2026, 14:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Abu Dhabi - Harga inap di hotel-hotel berbintang di Dubai dan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), anjlok hingga 75 persen akibat eskalasi ketegangan di kawasan Teluk, menurut temuan RIA Novosti.

Kantor berita tersebut menganalisis harga per hari untuk dua tamu dengan tanggal inap awal April. Ditemukan bahwa rata-rata harga inap per hari di hotel berbintang empat jatuh hingga 75 persen, sementara harga di hotel berbintang lima anjlok lebih dari 66 persen, dikutip dari laman Antara News, Selasa (24/3/2026).

Di Abu Dhabi, misalnya, harga kamar di hotel berbintang empat Mercure ditawarkan sebesar USD 54, jatuh dibanding harga USD 200-250 yang ditawarkan pada Januari hingga Februari 2026.

Kondisi yang sama juga terjadi di hotel TRYP by Wyndham dengan harga kamar per hari mulai dari USD 57, Ramada Downtown di harga USD 54 dan La Quinta by Wyndham di harga USD 61.

Sementara, hotel berbintang lima di Abu Dhabi memberlakukan diskon kira-kira setengah hingga dua per tiga dari harga aslinya. Kamar di hotel Rixos Marina dijual mulai 225 dolar AS per malam, sementara Ritz Carlton mulai dari USD 231, Shangri-La pada harga USD 201 dan Raddison di harga USD 125.

Di Dubai, hotel-hotel berbintang empat yang menjual kamar mereka seharga USD 50-60 antar lain Stella di Mare, Time Oak, dan Hyatt Place.

Untuk harga inap di hotel berbintang lima di Dubai, Dusit Thani menawarkan harga mulai dari 95 dolar AS, kemudian Hilton Jumeirah dari harga USD 155, Pullman Jumeirah pada harga USD 90, Raddison Blu di harga USD 87 dan Movenpick Jumeirah di harga USD 167.

Adapun suhu pada siang hari di UEA sepanjang bulan April diperkirakan ada pada rentang 25-30 derajat Celsius.

Sebelumnya pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, sehingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai tanggapan, Iran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.