Selat Hormuz Ditutup, Iran Siap Serang Kapal yang Mencoba Melintas

Selat Hormuz menjadi jalur ekspor utama bagi sebagian besar minyak dari negara-negara produsen besar di kawasan Teluk.

Diterbitkan 03 Maret 2026, 10:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas akan diserang. Pernyataan tersebut disampaikan oleh media pemerintah Iran pada Senin (2/3/2026).

Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima tertinggi IRGC, mengatakan bahwa penutupan jalur pelayaran strategis itu merupakan bagian dari respons Iran terhadap serangan pengeboman Israel dan Amerika Serikat (AS) yang dimulai pada Sabtu. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior lainnya.

"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melintas, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut," kata Jabari pada Senin seperti dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan itu turut diunggah melalui saluran Telegram IRGC. Dalam unggahannya, Jabari menegaskan bahwa Teheran akan menargetkan infrastruktur vital yang berkaitan dengan produksi energi dunia sebagai bentuk pembalasan.

"Kami juga akan menyerang jaringan pipa minyak dan tidak akan mengizinkan setetes pun minyak keluar dari kawasan ini. Harga minyak akan mencapai USD 200 dolar dalam beberapa hari ke depan," tulisnya.

Jabari juga dikutip oleh kantor berita semi-resmi Tasnim yang mengatakan bahwa AS, dengan utang yang mencapai ribuan miliar dolar, bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut. Namun, menurutnya, tidak akan ada setetes pun minyak yang sampai ke AS.   

 

Guncang Pasar Energi Dunia

Selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman merupakan salah satu jalur transit minyak paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan tersebut setiap harinya. Setiap gangguan di wilayah ini berpotensi mendorong lonjakan harga minyak mentah serta meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan.

Harga energi dilaporkan telah melonjak tajam pada Senin pagi. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz serta kerusakan fasilitas produksi menimbulkan ketidakpastian mengenai dampak serangan AS dan Israel terhadap pasokan energi global.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada harga gas alam. Di Eropa, harga gas melonjak hampir 50 persen, sementara di Asia naik hampir 40 persen. Lonjakan tersebut terjadi setelah QatarEnergy, salah satu pemasok utama gas alam cair (LNG), menghentikan produksi LNG menyusul serangan terhadap fasilitasnya.

Sebelumnya, kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi juga dilaporkan menjadi sasaran serangan drone. Juru bicara militer setempat menyatakan kepada Kantor Berita Arab Saudi bahwa sistem pertahanan berhasil menembak jatuh pesawat tanpa awak tersebut. Kilang Ras Tanura memiliki kapasitas produksi lebih dari setengah juta barel minyak mentah per hari.

Menanggapi situasi tersebut, AS menyatakan akan mengambil langkah-langkah untuk meredam lonjakan harga energi akibat perang dengan Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengklaim pemerintahannya telah mengantisipasi potensi dampak tersebut.

"Mulai besok, Anda akan melihat kami meluncurkan tahapan-tahapan untuk mencoba meredam dampak tersebut. Kami telah memperkirakan ini bisa menjadi masalah," ujar Rubio.