Ancaman Bom ke PM Australia Diduga Terkait Kelompok Tari China Terlarang

Insiden keamanan ini sempat membuat PM Australia dievakuasi selama beberapa jam.

Diterbitkan 25 Februari 2026, 20:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Canberra - Ancaman bom yang menyasar kediaman resmi Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese bermula dari sejumlah surat ancaman tertulis via email yang ditujukan kepada kelompok tari dan musik Shen Yun, sebuah grup yang didirikan oleh gerakan keagamaan Falun Gong yang dilarang di China.

Dalam email yang dilihat oleh media lokal dan BBC, para penampil Shen Yun diperingatkan untuk membatalkan pertunjukan mereka yang akan datang di Australia. Jika tidak, bahan peledak disebut akan diledakkan di The Lodge, kediaman resmi perdana menteri di ibu kota Canberra.

Pihak berwenang menolak memberikan komentar terkait isi email tersebut. Mereka hanya mengonfirmasi telah merespons sebuah dugaan insiden keamanan di kediaman pemimpin negara itu pada Selasa (24/2/2026) dan menyatakan bahwa tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.

Menurut keterangan polisi, Albanese dievakuasi dari rumahnya sekitar pukul 18.00 waktu setempat dan dipindahkan ke lokasi lain selama beberapa jam sebagai langkah pengamanan.

Salah satu email yang ditulis dalam bahasa Mandarin menyatakan bahwa sejumlah besar bahan peledak nitrogliserin telah ditempatkan di sekitar The Lodge.

"Jika Anda bersikeras melanjutkan pertunjukan maka The Lodge akan diledakkan hingga menjadi puing-puing dan darah akan mengalir seperti sungai," bunyi pesan tersebut.

Menurut laporan Australian Broadcasting Corporation, ancaman tersebut dilaporkan kepada polisi oleh pihak Shen Yun pada Selasa.

Dalam pernyataan yang dikirimkan kepada BBC, Shen Yun menyatakan akan tetap melanjutkan pertunjukan mereka di Australia dan menyerukan kepada pemerintah Australia untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas ancaman tersebut.

Ketika dimintai tanggapan mengenai email ancaman itu, juru bicara Kepolisian Federal Australia menolak berkomentar.

Pada Rabu (25/2) pagi, PM Albanese mengunggah pesan di media sosial untuk menyampaikan terima kasih kepada aparat kepolisian serta masyarakat yang telah mengirimkan dukungan dan "pesan-pesan baik" kepadanya. Unggahan tersebut disertai foto anjing peliharaannya, jenis cavoodle, yang tampak berjaga di depan pintu kediamannya.

Dalam keterangan singkatnya, ia menulis, "Toto siaga, tapi semua baik-baik saja."

Saat menghadiri sebuah acara pada Rabu yang sempat diinterupsi oleh para demonstran, Albanese kembali menyerukan agar suhu perdebatan politik di negara itu diturunkan.

"Saya pikir ini menjadi pengingat untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengatakan kepada orang-orang agar menurunkan tensi, demi kebaikan bersama. Kita tidak bisa menganggap enteng hal-hal seperti ini," ujarnya.

Insiden ini terjadi setelah ancaman bom serupa dilaporkan pekan lalu di Amerika Serikat, yang menyebabkan evakuasi di Kennedy Center for the Performing Arts di Washington DC. Media AS melaporkan bahwa ancaman tersebut juga ditujukan kepada Shen Yun yang sedang tampil di pusat seni tersebut.

 

Respons China

Dalam pernyataan pada Rabu, Shen Yun mengklaim bahwa kelompok tari tersebut telah menghadapi puluhan ancaman terhadap pertunjukan mereka di berbagai negara selama dua tahun terakhir.

Falun Gong, gerakan keagamaan yang mendirikan Shen Yun, telah dilarang di China sejak 1999 setelah pemerintah China menyatakannya sebagai sekte ilegal dan meluncurkan tindakan keras terhadap kelompok tersebut.

Berbasis di wilayah utara Negara Bagian New York, Shen Yun didirikan pada 2006 dan menampilkan pertunjukan tari yang megah dengan muatan kritik terselubung terhadap Partai Komunis China. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok tari ini juga menghadapi tuduhan perlakuan tidak layak terhadap para pekerjanya, yang telah mereka bantah.

Selama bertahun-tahun, Falun Gong mengklaim menjadi sasaran serangan dan penindasan oleh pemerintah China.

Menanggapi insiden tersebut pada Rabu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui situasi sebenarnya dan menambahkan bahwa China secara konsisten menentang segala bentuk serangan kekerasan.

Sementara itu, seorang sumber pemerintah Australia yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Australian Broadcasting Corporation bahwa masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai ancaman bom tersebut. Sumber itu menyatakan bahwa ancaman tersebut juga bisa saja berasal dari anggota masyarakat yang memusuhi Falun Gong.