Trump Desak Inggris Jangan Lepas Kepulauan Chagos ke Mauritius, Soroti Nilai Strategis Pangkalan Militer Diego Garcia

Seperti apa duduk perkara isu ini? Berikut penjelasan selengkapnya.

Diterbitkan 19 Februari 2026, 09:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik rencana pemerintah Inggris untuk menyerahkan Kepulauan Chagos kepada Mauritius dan menyewa kembali pangkalan militer penting di wilayah tersebut. Dalam unggahan di media sosial, Trump menegaskan, "Jangan menyerahkan Diego Garcia" serta mengatakan bahwa "tanah ini tidak seharusnya diambil dari Inggris" dan jika hal itu terjadi akan menjadi "noda bagi Sekutu Besar kita".

Pernyataan tersebut disampaikan Trump meskipun pada Selasa (17/2/2026) Washington secara resmi menyatakan dukungannya terhadap langkah London untuk menyerahkan kedaulatan British Indian Ocean Territory kepada Mauritius.

Kepulauan Chagos merupakan gugusan pulau di Samudra Hindia yang sebelumnya menjadi bagian dari koloni Inggris di Mauritius. Pada 1965, sebelum Mauritius merdeka, Inggris memisahkan wilayah tersebut dan membentuk British Indian Ocean Territory. Mauritius selama bertahun-tahun menilai pemisahan itu tidak sah dan menuntut pengembalian kedaulatan atas kepulauan tersebut. Sengketa inilah yang melatarbelakangi kesepakatan terbaru antara Inggris dan Mauritius.

Pulau terbesar di kepulauan itu, Diego Garcia, saat ini digunakan sebagai pangkalan militer bersama oleh angkatan bersenjata Inggris dan AS. Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan pada Mei tahun lalu, Inggris akan menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius, tetapi menyewa kembali Diego Garcia selama 99 tahun guna memastikan pangkalan militer tetap beroperasi.

 

Respons Inggris

Menanggapi komentar Trump, Kementerian Luar Negeri Inggris seperti dikutip dari laporan BBC menyatakan bahwa "kesepakatan Kepulauan Chagos sangat krusial bagi keamanan Inggris dan sekutu-sekutu utama kami, serta untuk menjaga keselamatan rakyat Inggris."

Pemerintah Inggris menekankan, "Kesepakatan yang telah kami capai adalah satu-satunya cara untuk menjamin masa depan jangka panjang pangkalan militer vital ini."

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan tersebut diperlukan untuk melindungi keberlanjutan operasional pangkalan militer, di tengah upaya hukum dan diplomatik Mauritius yang berulang kali menggugat legalitas kedaulatan Inggris atas kepulauan itu.

Komentar terbaru Trump muncul menjelang rencana pembicaraan antara AS dan Mauritius pekan depan. Dalam unggahannya di platform Truth Social pada Rabu (18/2), Trump menulis bahwa ia telah mengatakan kepada Starmer bahwa "skema sewa tidak baik jika menyangkut negara" dan bahwa Starmer "melakukan kesalahan besar dengan menyepakati sewa selama 100 tahun."

Ia menegaskan bahwa Diego Garcia berada di lokasi yang sangat strategis di Samudra Hindia.

Trump menambahkan, "Perdana Menteri Starmer sedang kehilangan kendali atas pulau penting ini akibat klaim dari entitas-entitas yang sebelumnya tidak pernah dikenal."

Lebih lanjut, ia menyatakan, "Kami akan selalu siap, bersedia, dan mampu bertempur untuk Inggris, tetapi mereka harus tetap kuat menghadapi wokeism dan berbagai persoalan lainnya."

Istilah wokeism digunakan Trump untuk merujuk pada gerakan atau pandangan progresif dalam isu-isu sosial yang kerap ia kritik.

Trump juga mengaitkan isu tersebut dengan pembicaraan antara AS dan Iran mengenai program nuklir Teheran. Ia mengatakan, "Jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan, mungkin perlu bagi AS menggunakan Diego Garcia untuk melenyapkan potensi serangan dari rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya."

Presiden dari Partai Republik itu sebelumnya berulang kali mengancam akan menggunakan tindakan militer terhadap Iran terkait penindakan terhadap demonstran anti-pemerintah dan aktivitas nuklirnya. AS dan sekutu-sekutunya di Eropa menduga Iran tengah bergerak menuju pengembangan senjata nuklir, meskipun Teheran membantah tuduhan tersebut.

 

Plintat-plintut

Saat dimintai tanggapan oleh BBC terkait unggahan Trump, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, "Unggahan tersebut harus dipahami sebagai kebijakan pemerintahan Trump, itu datang langsung dari sumbernya."

"Ketika Anda melihatnya di Truth Social, Anda tahu itu langsung dari Presiden Trump. Itulah keunggulan presiden ini dalam transparansi dan menyampaikan kebijakan pemerintahannya," bebernya.

Namun sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri AS secara resmi menyatakan dukungannya terhadap rencana penyerahan Kepulauan Chagos. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa pihaknya "mendukung keputusan Inggris untuk melanjutkan perjanjiannya dengan Mauritius terkait Kepulauan Chagos."

Sikap Trump terkait isu ini dinilai mengalami perubahan dalam beberapa bulan terakhir. Ia sempat menyebut rencana transfer tersebut sebagai "tindakan yang sangat bodoh", namun kemudian mengatakan kesepakatan itu adalah yang "terbaik" yang bisa dicapai.

 

Di tengah polemik tersebut, awal pekan ini empat warga Kepulauan Chagos yang menentang kesepakatan penyerahan itu mendarat di sebuah atol terpencil sebagai bentuk protes. Mereka menolak meninggalkan lokasi meskipun menghadapi ancaman pengusiran oleh patroli maritim Inggris.  Â