Studi: Polusi Suara Manusia Bisa Ganggu Perilaku dan Reproduksi Burung

Tim peneliti ini melakukan studi dari tahun 1990 hingga kini terhadap 160 spesies burung di enam benua.

Diterbitkan 12 Februari 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polusi suara akibat aktivitas manusia terbukti mengganggu perilaku burung di seluruh dunia, mulai dari proses kawin hingga kemampuan mencari makan dan menghindari predator. Temuan dalam studi ini terungkap dalam analisis skala besar yang dirilis Rabu (11/2/2026) dan mencakup hampir empat dekade penelitian ilmiah.

Tim peneliti meninjau data dari tahun 1990 hingga kini terhadap 160 spesies burung di enam benua. Hasilnya, kebisingan yang bersumber dari aktivitas manusia—seperti lalu lintas kendaraan, pesawat terbang, dan konstruksi—memiliki dampak luas dan signifikan terhadap kehidupan burung, termasuk menurunkan keberhasilan reproduksi.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B itu menemukan bahwa polusi suara memengaruhi berbagai aspek perilaku, seperti komunikasi, pencarian makan, agresivitas, respons terhadap risiko, hingga perubahan fisiologis, dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (12/2).

“Kami menemukan bahwa kebisingan secara signifikan memengaruhi komunikasi, perilaku mencari makan, agresi, serta penggunaan habitat, dan memiliki dampak negatif yang kuat terhadap reproduksi,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

Burung sangat bergantung pada sinyal akustik untuk bertahan hidup. Mereka menggunakan nyanyian untuk menarik pasangan, panggilan peringatan untuk memberi tahu keberadaan predator, serta suara anak burung untuk meminta makan kepada induknya. Kebisingan latar dari lingkungan modern dinilai menghambat proses komunikasi vital tersebut.

“Jika ada kebisingan yang keras di lingkungan, apakah mereka masih dapat mendengar sinyal dari spesiesnya sendiri?” kata Natalie Madden, peneliti utama studi tersebut saat berada di Universitas Michigan.

Dalam sejumlah kasus, polusi suara terbukti mengganggu ritual perkawinan. Burung jantan terpaksa mengubah frekuensi atau pola lagu rayuan mereka agar tetap terdengar. Di sisi lain, komunikasi antara anak burung dan induknya dapat tertutup oleh kebisingan, yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup.

Dampaknya berbeda antarspesies. Burung yang bersarang di dekat tanah tercatat mengalami gangguan reproduksi lebih besar, sementara spesies yang menggunakan sarang terbuka menunjukkan dampak signifikan pada pertumbuhan. Burung yang hidup di kawasan perkotaan juga ditemukan memiliki kadar hormon stres lebih tinggi dibandingkan burung di habitat alami.

 

Pengaruh Aktivitas Manusia

Para peneliti menyebut polusi suara sebagai konsekuensi yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam dampak aktivitas manusia terhadap alam, terutama jika dibandingkan dengan isu hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.

Padahal, menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), sekitar 61 persen spesies burung dunia saat ini mengalami penurunan populasi.

Penulis senior studi tersebut, Neil Carter dari Universitas Michigan, mengatakan solusi untuk mengurangi polusi suara sebenarnya sudah tersedia. Ia mencontohkan desain bangunan yang selama ini diadaptasi untuk mengurangi tabrakan burung juga dapat dimodifikasi guna meredam kebisingan.

“Kita sudah tahu material apa yang bisa digunakan dan bagaimana mengaplikasikannya untuk menghalangi suara. Tantangannya adalah meningkatkan kesadaran dan kemauan untuk menerapkannya,” ujar Carter.

Temuan ini menegaskan bahwa kebisingan bukan sekadar gangguan lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kelangsungan hidup satwa liar, terutama burung yang sangat bergantung pada komunikasi suara dalam setiap aspek kehidupannya.