Trump Peringatkan Inggris: Berbisnis dengan China Sangat Berbahaya

Simak pernyataan Trump selengkapnya berikut ini!

Diterbitkan 31 Januari 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Inggris agar berhati-hati dalam menjalin hubungan bisnis dengan China. Pernyataan Trump muncul hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer memuji hubungan ekonomi kedua negara dalam kunjungannya ke Beijing, di mana ia bertemu pula dengan Presiden Xi Jinping.

Dalam kunjungan itu, ia menjanjikan hubungan yang "lebih matang" dengan China, sekaligus mengamankan peningkatan akses pasar, penurunan tarif, serta sejumlah kesepakatan investasi.

Namun di Washington, saat menanggapi pertanyaan mengenai upaya Starmer melakukan reset ekonomi dengan China, Trump mengatakan, "Yah, itu sangat berbahaya bagi mereka untuk melakukan hal itu.”

Komentar Trump tersebut berpotensi menimbulkan kegelisahan di internal Downing Street, mengingat sifat Trump yang sulit diprediksi serta sikapnya yang sejak lama bermusuhan terhadap China. Seorang pejabat Inggris mengatakan bahwa AS telah mengetahui rencana kunjungan tersebut beserta tujuan Inggris sejak awal.

Menanggapi pernyataan Trump, Starmer mengatakan kepada Sky News, "Saya rasa tidak bijaksana bagi Inggris untuk menutup mata. China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia. Bersama Hong Kong, China adalah mitra dagang terbesar ketiga kami. Melalui kunjungan ini, kami telah membuka banyak peluang untuk lapangan kerja dan penciptaan kesejahteraan kembali di Inggris."

Saat ditanya BBC Breakfast apakah Presiden AS keliru dalam pernyataannya, Menteri Perdagangan Inggris Chris Bryant menjawab, "Ya, dia keliru. Saya mengatakan ini karena, selain hal lainnya, dia sendiri mengatakan dalam pernyataannya bahwa dia berteman dengan Presiden Xi Jinping, dan setahu saya, Presiden Trump sendiri akan pergi ke China pada bulan April.”

Setelah pertemuannya dengan Presiden Xi di Aula Besar Rakyat pada Kamis (29/1), Starmer mengatakan bahwa hubungan Inggris dengan China berada dalam kondisi yang baik dan kuat, serta pertemuan tersebut telah memberikan tingkat keterlibatan yang tepat seperti yang kami harapkan.

"Kami terlibat secara hangat dan benar-benar membuat kemajuan nyata karena Inggris memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan," katanya dalam pertemuan Forum Bisnis Inggris–China di Bank of China, Beijing.

Ketua Kamar Dagang Inggris di China Chris Torrens mengatakan kepada BBC bahwa kunjungan Starmer ke Beijing berlangsung "sukses".

"Masuk akal bagi Inggris untuk melihat ke China, ini adalah salah satu mitra dagang terbesarnya," ujarnya.

PM Inggris kemudian melanjutkan perjalanan ke Shanghai sebelum bertolak ke Tokyo untuk bertemu dengan mitranya dari Jepang, Sanae Takaichi, dalam sebuah jamuan makan malam kerja. Ia menjadi PM Inggris pertama yang mengunjungi Beijing dalam delapan tahun terakhir.

 

Akui Xi Jinping Sebagai Teman

Starmer menjadi pemimpin Barat terbaru yang mengunjungi Beijing dalam beberapa pekan terakhir untuk membangun hubungan dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, sekaligus sebagai upaya berjaga-jaga menghadapi presiden AS yang dinilai tidak dapat diprediksi.

Sebelumnya pada pekan ini, Trump mengancam akan memberlakukan tarif terhadap Kanada jika negara tersebut melanjutkan kesepakatan ekonomi dengan China yang dicapai dalam kunjungan PM Carney ke Beijing.

Setelah mengomentari keterlibatan Inggris dengan Beijing, Trump mengatakan bahwa langkah tersebut "bahkan lebih berbahaya, saya pikir, bagi Kanada. Kanada tidak dalam kondisi baik. Mereka sangat buruk dan Anda tidak bisa melihat China sebagai jawabannya."

Namun demikian, presiden menambahkan, "Presiden Xi adalah teman saya, saya mengenalnya dengan sangat baik."

Sebelum perjalanannya ke Beijing, Starmer mengatakan dalam wawancara dengan Bloomberg bahwa Inggris tidak harus memilih antara AS dan China. Ia menegaskan bahwa negaranya dapat memperkuat hubungan ekonomi dengan Beijing tanpa membuat Trump marah atau merusak hubungan dengan Washington.

"Kami memiliki hubungan yang sangat dekat dengan AS—tentu saja kami menginginkannya—dan kami akan mempertahankan bisnis tersebut, bersamaan dengan kerja sama keamanan dan pertahanan," ungkap Starmer.

Sebelum komentar Trump muncul, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan bahwa kecil kemungkinan upaya Starmer dengan China akan membuahkan hasil.

"China adalah eksportir terbesar dan mereka sangat, sangat sulit ketika Anda mencoba mengekspor ke sana," beber Trump kepada wartawan. "Jadi, semoga beruntung jika Inggris mencoba mengekspor ke China… itu sangat tidak mungkin."

Ia meremehkan kemungkinan Presiden Trump akan mengancam Inggris dengan tarif, seperti yang dilakukannya terhadap Kanada.