Kisah Mengharukan Li Chuangye, Pria dengan Cerebral Palsy yang Wujudkan Impian Jadi Dokter

Bagaimana cerita hidup Li Chuangye yang banyak menginspirasi banyak orang di China?

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Kegigihan seorang pria asal Tiongkok tengah, Li Chuangye, menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi.

Terlahir dengan cerebral palsy, Li yang kini berusia 37 tahun membuktikan bahwa tekad dan semangat bisa menaklukkan segalanya. Dari jalanan tempat ia pernah mengemis, kini ia menjalankan klinik kecil miliknya di Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya.

Li didiagnosis mengidap cerebral palsy sejak berusia satu tahun. Karena tidak mendapatkan perawatan tepat waktu, ia harus berjalan dengan posisi jongkok sepanjang hidupnya. Orang tuanya telah menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk pengobatannya.

Namun setelah operasi di usia sembilan tahun gagal, Li memutuskan berhenti menjadi beban bagi keluarganya, dikutip dari laman SCMP, Selasa (14/10/2025).

Sayangnya, keputusan itu justru membawanya ke tangan orang yang salah. Ia tertipu oleh seorang pria yang memanfaatkan anak-anak penyandang disabilitas untuk mengemis. Dari usia sembilan hingga 16 tahun, Li hidup di jalanan dan hanya memperoleh sekitar 100 yuan, atau sekitar Rp200 ribu, per bulan.

Ketika dianggap “terlalu tua untuk menarik simpati”, ia akhirnya dibebaskan. Baru setelah itu, Li menyadari bahwa ia sama sekali tidak bisa membaca. Tekadnya pun muncul — ia ingin mengubah hidupnya lewat pendidikan.

Di usia 16 tahun, Li mendaftar di kelas dua sekolah dasar. Perjalanan belajarnya tidak mudah, namun semangatnya yang tinggi membawanya melangkah jauh. Ia berhasil masuk fakultas kedokteran pada usia 25 tahun, dan tiga tahun kemudian diterima di program klinis universitas.

Selama kuliah, Li menjadikan dirinya sebagai studi kasus tentang cerebral palsy untuk membantu teman-teman sekelas memahami kondisi tersebut. Ia bahkan berjanji akan mendonorkan tubuhnya untuk penelitian medis setelah meninggal.

Lulus di usia 31 tahun pada 2019, Li sempat bekerja sebagai editor di perusahaan medis yang didukung kampusnya. Namun, ia segera menyadari bahwa panggilan sejatinya adalah menjadi dokter. Ia lalu magang di klinik komunitas di Henan sambil mempersiapkan ujian lisensi medis.

Kini, Li menjalankan klinik kecil di Yunnan. Ia mengaku tak berambisi bekerja di rumah sakit besar. Baginya, melayani masyarakat sekitar sudah menjadi kebanggaan tersendiri.

Kecintaan pada Mendaki

Selain menjadi dokter, Li juga dikenal karena kecintaannya pada kegiatan mendaki. Pada 2016, ia berhasil menaklukkan Lima Gunung Suci Tiongkok (Wuyue) dan Gunung Huang, semuanya dilakukan seorang diri. Dalam perjalanan 17 hari itu, ia menghabiskan enam pasang sepatu, 12 celana panjang, dan 16 pasang sarung tangan.

Dengan tinggi badan hanya 80 cm, Li mengatakan ia mendaki bukan untuk mencari ketenaran, tetapi untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih tinggi. Ia juga kerap menyiarkan langsung perjalanan pendakiannya guna menginspirasi penyandang disabilitas lain agar tak menyerah pada keadaan.

Dalam perjalanannya, Li juga menemukan cinta. Ia bertemu Yu, seorang wanita yang mengenalnya secara daring. Tersentuh oleh semangat hidup Li, Yu memutuskan untuk mendukungnya sepenuh hati. Oktober lalu, Yu bahkan mendaki Gunung Tai sambil menggendong Li di punggungnya — simbol cinta dan ketulusan yang melampaui batas fisik.

“Musuh terbesar seseorang adalah dirinya sendiri. Kegagalan dan kesulitan hanyalah anak tangga menuju impian,” kata Li, menginspirasi banyak orang di media sosial.

Komentar para warganet pun bermunculan, banyak yang memuji karakter kuat dan keteguhan hatinya. “Musuh terbesar seseorang adalah dirinya sendiri. Tapi sahabat terbaiknya juga dirinya sendiri,” tulis salah satu komentar.

Kisah Li Chuangye bukan hanya tentang perjuangan melawan keterbatasan fisik, tetapi juga tentang kekuatan hati dan tekad untuk terus melangkah, meski jalannya penuh rintangan.