Ngeri, Wanita di China Tewas Usai Terkena Zat Asam Korosif saat Jalan Santai

Bagaimana cairan berbahaya itu bisa dibuang sembarangan?

Diterbitkan 25 September 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Seorang wanita di China viral usai meninggal hanya lima hari setelah tanpa sengaja menginjak cairan berbahaya yang dijuluki "air pelarut tulang". Kasus ini memicu kecemasan publik soal pengelolaan limbah beracun di wilayah permukiman.

Wanita berusia 52 tahun bermarga Tu itu mengalami kejadian tragis pada 9 September lalu di Hangzhou, China timur. Saat berjalan santai di area perbukitan dekat kompleks perumahan yang sudah kosong, ia menginjak wadah berisi cairan hidrofluorik yang telah dibuang sembarangan, dilansir dari SCMP, Kamis (25/9/2025).

Tubuhnya langsung membengkak dan ia dilarikan ke rumah sakit. Pemeriksaan dokter menunjukkan organ dalamnya sudah mengalami kerusakan parah dan ketidakseimbangan elektrolit.

Seorang dokter menjelaskan kondisinya sudah sangat kritis sejak awal.

"Peluang untuk menyelamatkannya memang sudah sangat tipis," ujarnya.

Hanya dalam waktu lima hari, Tu meninggal dunia akibat gagal jantung dan paru.

Putrinya, dengan nama akun media sosial "LIV Yuanbao", menuliskan kesedihannya di internet.

"Aku tidak sempat melihat keajaiban terjadi. Ibuku pergi dengan cara yang tak bisa kami pahami, dan begitu cepat. Semoga tidak ada kecelakaan di surga," tulisnya.

Postingan itu juga menyebut wadah cairan sudah sangat rapuh dan bocor, sehingga paparan yang dialami Tu jauh lebih besar dari jumlah kecil yang biasanya sudah bisa mematikan.

Hidrofluorik sendiri dikenal sebagai cairan tak berwarna, sangat korosif, bahkan bisa melarutkan logam dan kaca. Bahan kimia ini biasa dipakai di industri maupun kedokteran gigi, misalnya untuk menghilangkan karat, menggores kaca, hingga membersihkan permukaan.

Dokter mengingatkan penanganan paparan harus dilakukan segera, mulai dari melepas pakaian yang terkena, membilas dengan air, lalu segera mencari pertolongan medis. Jika masuk ke kulit, zat ini bisa merusak jaringan hingga tulang, makanya mendapat julukan "air pelarut tulang".

 

Tindak Lanjut

Menurut laporan China Newsweek, insiden terjadi di lereng bukit belakang sebuah kompleks hunian yang sudah dijadwalkan untuk dibongkar. Polisi langsung menutup dan membersihkan lokasi serta menyatakan akan memberikan dukungan bagi keluarga korban.

Investigasi menemukan dua botol cairan lain di sekitar lokasi, yang kemudian diamankan. Polisi menyebut cairan berbahaya itu ditinggalkan oleh seorang petugas kebersihan bermarga Ai yang dulu bertugas membersihkan dinding area tersebut. Ai pindah dari wilayah itu sejak 2015 dan kini telah ditahan.

Mengutip seorang pengacara dari Hongxing News, Ai bisa terancam hukuman hingga tujuh tahun penjara karena kelalaian membuang zat berbahaya.

Kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial Tiongkok dengan lebih dari 20 juta tayangan. Seorang warganet menuliskan keprihatinannya.

"Ini insiden serius yang menyangkut keselamatan publik. Tu sangat tidak beruntung, dan saya sungguh menyesal atas nasibnya," tulisnya.

Warganet lain mempertanyakan lemahnya pengawasan.

"Kenapa bahan kimia berbahaya bisa ditinggalkan di jalanan? Polisi harus menyelidiki secara tuntas dan memberi penjelasan bagi korban," tulisnya.

Di China, cairan hidrofluorik dengan konsentrasi lebih dari 30 persen diawasi ketat. Namun, versi dengan kadar lebih rendah masih bisa dijual di e-commerce dengan harga 10 sampai 40 yuan (Rp23 ribu–Rp90 ribu).

Awal tahun ini, seorang pria di China tenggara tetap mengalami luka serius di tiga jarinya meski sudah memakai dua lapis sarung tangan saat membersihkan keramik dengan cairan tersebut.