Youth Day 2025, UNDP Bagikan Tips Bijak Menggunakan AI bagi Anak Muda Indonesia

Pada perayaan Youth Day 2025, apa pesan dari Ketua Komite Pemuda UNDP Indonesia Nila Murti untuk pemuda di Indonesia?

Diterbitkan 11 Agustus 2025, 14:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Komite Pemuda UNDP Indonesia Nila Murti mengajak generasi muda untuk memahami cara menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara bijak agar bisa memaksimalkan manfaatnya tanpa terjebak dalam ketergantungan.

Dalam acara di Menara Thamrin, Jakarta, Senin (11/8/2025), Nila menekankan bahwa persaingan di era digital jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.

"Kalau dulu kita bersaing di kelas untuk jadi peringkat satu, sekarang persaingannya bukan hanya akademik, tapi juga ide dan kreativitas kita," ujarnya.

Nila menilai AI, seperti ChatGPT yang sering ia gunakan, dapat menjadi mitra yang efektif bila dipahami dengan baik. Ia mencontohkan, semakin sering seseorang berinteraksi dengan AI, semakin tepat pula hasil yang diberikan karena sistem dapat meramu informasi dari percakapan sebelumnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa AI ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, AI mampu membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan manusia. Di sisi lain, ketergantungan berlebihan dapat mengikis kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan alami manusia.

"AI akan bermanfaat kalau kita tahu cara memakainya. Tapi kita harus tetap waspada, jangan sampai semua keputusan diserahkan pada AI," tegas Nila.

Menurutnya, pemanfaatan AI tak bisa dilepaskan dari peran digitalisasi dan akses internet. "Kalau kita bersaing dengan AI, berarti kita juga bersaing di dunia internet, karena tanpa internet kita tidak bisa memanfaatkannya," tambahnya.

UNDP Indonesia sendiri, kata Nila, memiliki program Skill of the Future yang mengenalkan AI kepada generasi muda. Lembaga ini juga baru meluncurkan Human Development Report bertema The Age of AI yang membahas peran manusia di tengah kemajuan teknologi tersebut.

"Generasi muda harus melek teknologi, tapi juga sadar risiko. Kuncinya ada pada keseimbangan antara memanfaatkan AI dan tetap mengasah kemampuan diri," pungkasnya.

Â