Liputan6.com, Jakarta - ASEAN kerap digambarkan sebagai entitas regional yang kuat di tingkat elite, namun masih terasa jauh dari masyarakat. Melihat realitas ini, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) berinisiatif menghadirkan konferensi perdana bertajuk ASEAN for the People Conference (AFPC) pada tahun 2025 mendatang.
Pendiri FPCI, Dino Patti Djalal, menegaskan bahwa penyelenggaraan AFPC bertujuan untuk menjembatani jurang antara ASEAN sebagai institusi dan masyarakat di akar rumput.
"Kami ini pro-ASEAN. Artinya, kami mendukung penuh visi ASEAN sebagai komunitas yang berpusat pada rakyat, yang benar-benar mengakar di masyarakat," ujarnya dalam wawancara bersama Liputan6.com.
Advertisement
Namun, menurut Dino, dalam satu dekade terakhir ASEAN masih kesulitan membumikan peran dan keberadaannya di kalangan publik. Banyak masyarakat, bahkan di negara-negara anggotanya sendiri, belum memahami konsep-konsep dasar ASEAN seperti Komunitas Ekonomi ASEAN atau sentralitas ASEAN.
Bahkan, pertanyaan sederhana seperti "Apa manfaat ASEAN bagi Indonesia?" pun sering kali tidak bisa dijawab dengan jelas oleh masyarakat umum.
Menurut Dino, inilah yang menjadi semangat di balik gelaran AFPC 2025. Konferensi ini akan mengundang berbagai organisasi masyarakat sipil (ormas) dari negara-negara ASEAN, termasuk Timor Leste, untuk berkumpul, saling mengenal, membangun jejaring, dan membuka peluang kerja sama lintas negara.
AFPC dijadwalkan berlangsung pada 6–7 September 2025, sekitar sebulan sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang rencananya digelar Oktober di Kuala Lumpur. Dino menjelaskan pemilihan tanggal tersebut dilakukan dengan cermat.
"Kami ingin suara-suara dari akar rumput bisa dirumuskan lebih awal dan disampaikan kepada para pemimpin ASEAN di KTT nanti," jelasnya.
Selain itu, pemilihan hari Sabtu dan Minggu juga dimaksudkan agar publik lebih mudah hadir dan terlibat, termasuk dalam pameran yang akan menampilkan berbagai inisiatif dari ormas-ormas ASEAN.
Walaupun bukan forum bisnis, Dino tidak menutup kemungkinan akan lahir kerja sama fungsional dari pertemuan ini. Ia mencontohkan Indonesia Corruption Watch (ICW) sebagai lembaga antikorupsi yang cukup dikenal di Indonesia, namun minim kolaborasi dengan organisasi sejenis di negara ASEAN lainnya. "Padahal, dengan bertemu di forum seperti ini, mereka bisa saling berdiskusi, berbagi pengalaman, dan bahkan berkolaborasi," ungkapnya.
Tak hanya di bidang antikorupsi, Dino juga melihat potensi besar di sektor pendidikan. Ia mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai Ketua Asosiasi Dosen Indonesia, ia nyaris tidak pernah berkenalan dengan kolega dari negara ASEAN lain. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti nyata perlunya ruang pertemuan lintas sektor yang lebih inklusif dan membumi.
Bagi Dino, inti dari penguatan ASEAN bukan hanya pada level elite, tetapi juga pada penguatan jejaring dan kesadaran di kalangan masyarakat. "Komunitas ASEAN tidak akan kuat kalau tidak mengakar. ASEAN harus kuat di atas, tapi juga kuat di bawah. Dan itu yang sampai sekarang belum tercapai," pungkasnya.
AFPC 2025 pun diharapkan menjadi langkah awal untuk menjawab tantangan tersebut, dan membuka jalan bagi ASEAN yang lebih inklusif, terhubung, dan bermakna bagi warganya.
Keterlibatan Publik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3523373/original/068734600_1627444692-asean-4692563_1280_Fotor.jpg)
Dino juga menyampaikan bahwa keterlibatan publik menjadi aspek krusial dalam penyelenggaraan perdana konferensi ini. Selain terbuka untuk umum, AFPC juga akan menghadirkan berbagai organisasi masyarakat sipil dari negara-negara anggota ASEAN, termasuk Timor Leste.
Namun, Dino tak menampik bahwa tantangan terbesar adalah mengumpulkan organisasi yang benar-benar memiliki keberpihakan terhadap gagasan ASEAN. "Sekarang anak-anak muda kita sedang menelpon ke Brunei, ke Malaysia, mencoba mengundang mereka. Kalau mereka saja sudah berhasil kita kumpulkan, saya anggap itu sudah suatu prestasi. Karena ini adalah langkah awal yang belum pernah dilakukan dengan skala sebesar ini," ujarnya.
Menanti Tindak Lanjut
Terkait rencana pasca-konferensi, Dino menyatakan pihaknya masih akan melihat sejauh mana keberhasilan pelaksanaan perdana ini. Ia tak ingin terburu-buru menjanjikan hasil, namun membuka kemungkinan hadirnya platform digital ataupun proyek kolaborasi antarlembaga sipil ASEAN.
"Ini bukan forum bisnis, tapi kalau dari pertemuan ini bisa tumbuh kolaborasi, tentu sangat baik. Yang jelas, kita ingin menciptakan peluang-peluang kerja sama fungsional, seperti di bidang pendidikan, anti korupsi, atau kepemudaan," jelasnya.
Lebih jauh, ia berharap konferensi ini juga bisa mendorong Sekretariat ASEAN merumuskan strategi sosialisasi yang lebih konkret. Menurutnya, meski ASEAN memiliki visi menjadi komunitas yang inklusif dan dikenal publik, hingga kini belum ada peta jalan yang jelas dalam menjangkau akar rumput.
"Di Jakarta saja hampir tidak ada billboard tentang ASEAN. Bagaimana masyarakat mau merasa memiliki ASEAN kalau keberadaannya tak terlihat?" kata Dino. Ia bahkan mengusulkan adanya billboard bertema ASEAN di seluruh bandara Asia Tenggara, dengan slogan baru yang lebih relevan dan menggugah.
Advertisement
Beragam Isu, Satu Tujuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1669879/original/091325300_1501971833-asean-flags.jpg)
Ketika ditanya isu paling mendesak yang layak diangkat dalam konferensi, Dino menekankan pentingnya memahami perbedaan prioritas di masing-masing negara ASEAN. Sebagai contoh, isu perjudian daring sangat sensitif di Indonesia, sementara legal di Kamboja. Hal ini menimbulkan dilema tersendiri, mengingat ribuan warga Indonesia bekerja di industri tersebut dan berpotensi terjebak dalam praktik ilegal di dalam negeri.
Meski demikian, ada sejumlah isu yang diyakini sebagai kepentingan bersama lintas negara, seperti toleransi beragama, pemberantasan korupsi, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, kepemudaan, hingga masa depan pekerjaan dan kecerdasan buatan (AI). Dino berharap isu-isu ini bisa ditampilkan dalam bentuk eksibisi, diskusi, dan kolaborasi selama konferensi berlangsung.
Indonesia sebagai Penggerak
Sebagai negara terbesar di ASEAN, Dino berharap partisipasi Indonesia dalam AFPC 2025 menjadi yang paling masif. Ia secara khusus menyebut organisasi besar seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, HIPMI, WALHI, CW, hingga BEM sebagai pihak yang diharapkan bisa hadir dan aktif.
"Saya ingin mereka melihat ASEAN sebagai lahan mereka, sebagai kawan seperjuangan. Dan bukan hanya datang saat konferensi, tapi terus berkiprah setelahnya," tegas Dino.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global saat ini, kawasan ASEAN harus menjadi rumah yang aman dan nyaman. Namun, hal itu hanya bisa tercapai jika masyarakat madani aktif terlibat dan merasa memiliki komunitas ini.
"Kalau rumah kita mau nyaman, ya kita sendiri yang harus menjaganya. Dan rumah kita itu Asia Tenggara, itu ASEAN," pungkas Dino.
Dengan semangat inklusi dan harapan besar, AFPC 2025 diharapkan menjadi awal dari babak baru: ASEAN yang tak hanya milik pemerintah, tapi juga milik rakyatnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4562752/original/013768400_1693819502-Banner_Infografis_KTT_ASEAN_Ke-43_2023_Digelar_di_Jakarta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264115/original/018567300_1782092996-Tugas__39_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258254/original/075445200_1781330306-Tugas__34_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263843/original/065734300_1782021578-Tugas__38_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370367/original/028709700_1759546468-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-04T093301.745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1238139/original/082014900_1521205275-pp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308498/original/055750900_1754546227-Screenshot_2025-08-07_125533.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257116/original/079220400_1781213800-000_B6TP7D2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264181/original/054321300_1782097612-063_2282690679.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264068/original/012778200_1782078495-000_B7TT4GU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264045/original/061909400_1782061462-063_2282633998.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264088/original/090012000_1782087024-000_B7TY6Z7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264089/original/060388300_1782087027-000_B7TZ2WM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260275/original/078184800_1781584802-Hamza_Abdelkarim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263859/original/026589000_1782024553-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263754/original/080237200_1782003697-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5735199/original/048787600_1778630516-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259125/original/067528600_1781465647-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7007072/original/067377900_1779778735-1000329743.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8134056/original/000780200_1780986058-SGV_8296.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8060292/original/071058600_1780904417-WhatsApp_Image_2026-06-08_at_14.34.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7846300/original/057358700_1780668712-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-5_Juni_2026c.jpg)