Pengamat Ungkap Kunjungan Marco Rubio ke ASEAN Jadi Pesan Kuat untuk China

Pengamat menilai bahwa kunjungan Rubio memberi peluang langka bagi negara-negara ASEAN untuk mengoreksi arah kebijakan mereka.

Diperbarui 21 Juli 2025, 11:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Kehadiran Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dalam pertemuan ASEAN di Kuala Lumpur pekan ini mendapat sorotan dari pengamat geopolitik Universitas Malaya, Collins Chong Yew Keat.

Menurutnya, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda diplomatik, melainkan pesan strategis yang menegaskan bahwa Washington tetap menjadi mitra paling penting bagi Asia Tenggara dalam bidang ekonomi dan keamanan, terutama di tengah meningkatnya pengaruh Tiongkok di kawasan, dikutip dari laman eurasiareview, Minggu (20/7/2025).

Dalam pandangannya, Collins menilai bahwa kunjungan Rubio memberi peluang langka bagi negara-negara ASEAN untuk mengoreksi arah kebijakan mereka yang selama ini terlalu kompromistis terhadap tekanan eksternal dan ketidakseimbangan perdagangan. Ia menegaskan bahwa tarif-tarif baru yang diberlakukan AS merupakan respons terhadap ketidakadilan sistemik dalam hubungan ekonomi yang, menurutnya, selama ini tidak ditangani serius oleh negara-negara mitra, termasuk Malaysia.

Pesan Kuat ke Kawasan: AS Belum Pergi

Collins melihat kehadiran Rubio sebagai sinyal bahwa Amerika Serikat tidak sedang meninggalkan kawasan, meski perhatian global juga terbagi antara konflik di Timur Tengah dan Ukraina. Sebaliknya, Washington justru menegaskan kembali komitmennya terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, serta memberikan penegasan terhadap sikapnya atas provokasi Beijing, mulai dari Laut Cina Selatan hingga isu Taiwan.

Ia menyebut bahwa tantangan utama di kawasan saat ini bukan hanya bersifat ekonomi, tapi juga menyangkut ancaman langsung terhadap tatanan berbasis aturan. Dalam konteks ini, AS dinilai tetap menjadi satu-satunya kekuatan global yang mampu menawarkan perlindungan dan dukungan teknologi militer tingkat tinggi, mulai dari sistem pertahanan rudal, pengawasan, hingga kemampuan intelijen yang tidak ditawarkan Tiongkok.

Era Ketergantungan Sepihak Sudah Berakhir

Collins menilai bahwa tidak disinggahinya Tokyo dan Seoul dalam lawatan awal Rubio ke Asia adalah pesan tersendiri: era lama ketergantungan yang tidak seimbang kepada AS sudah selesai. Washington kini menuntut komitmen dan kontribusi yang lebih besar dari para mitra regionalnya. “AS tidak lagi dapat dijadikan tumpuan tanpa kontribusi setimpal,” ujarnya.

Ia memprediksi bahwa pembahasan dalam pertemuan ASEAN kali ini akan berfokus pada penguatan rantai pasok strategis, peningkatan kerja sama di bidang mineral penting, serta reformasi kebijakan perdagangan yang lebih adil. Semua ini, menurut Collins, adalah bagian dari upaya untuk menahan laju pengaruh Tiongkok yang semakin dalam di kawasan.

 

 

Melawan Narasi dan Manuver Beijing

Collins juga mengkritik upaya Tiongkok dalam membentuk blok kekuatan baru melalui BRICS, serta inisiatif dedolarisasi. Meskipun upaya itu ada, menurutnya, AS tetap unggul dalam hampir semua indikator strategis: dari kekuatan militer, dominasi dolar, hingga investasi langsung asing (FDI). Ia mencatat bahwa perusahaan-perusahaan besar AS kini secara aktif mengalihkan basis produksi dari Tiongkok ke negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand—tanda bahwa AS masih memegang peranan vital dalam rantai nilai global.

Menurut Collins, langkah-langkah ekonomi dan pertahanan oleh negara-negara ASEAN untuk mendekati blok non-Barat belum mampu memberikan hasil konkret dan justru berisiko menambah ketegangan serta kerentanan ekonomi kawasan.

ASEAN Harus Keluar dari Zona Aman

Collins menyebut bahwa waktu sudah sangat mendesak, terutama menjelang tenggat 1 Agustus yang menurutnya menjadi momen kunci untuk menunjukkan kepada Washington bahwa kawasan ini serius merespons kekhawatiran strategis AS—mulai dari tarif perdagangan hingga orientasi keamanan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan "main aman" yang selama ini dianut ASEAN tak lagi relevan. Ketika Washington melihat kawasan ini sebagai mitra yang lemah atau tidak responsif, maka potensi kerentanan akan meningkat tajam, terutama dalam aspek pencegahan militer dan pengaruh strategis.

 

 

AS Tetap Jadi Pilar Utama di Asia Tenggara

Dari sisi kekuatan militer, Collins menekankan bahwa hanya AS yang memiliki kapasitas angkatan laut untuk menandingi kehadiran militer Tiongkok di Laut Cina Selatan. Negara-negara penggugat ASEAN, katanya, masih sangat bergantung pada keberadaan militer AS di kawasan untuk menjaga stabilitas dan keamanan.

Selain itu, dari sisi ekonomi dan norma internasional, AS masih menjadi simbol perdagangan bebas, supremasi hukum, dan inovasi teknologi yang menarik bagi investor dan talenta di kawasan. Ia menyebut bahwa ekosistem teknologi seperti Silicon Valley dan jaringan modal ventura di AS belum ada tandingannya dari Tiongkok.

Peluang untuk Merajut Kembali Hubungan Strategis

Collins menutup analisanya dengan peringatan dan ajakan. Ia menyebut bahwa kehadiran Rubio adalah peluang strategis yang terlalu berharga untuk diabaikan. Malaysia dan negara-negara ASEAN lainnya perlu segera merumuskan ulang pendekatan mereka terhadap AS, bukan hanya dengan retorika diplomatik, tapi melalui kebijakan nyata dan komitmen bersama dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan pertahanan.

“Jika kawasan ini kembali terlena oleh janji jangka pendek dari kekuatan baru, maka kita akan kehilangan satu-satunya mitra yang selama ini menjamin stabilitas dan kemajuan kawasan. AS tetap tak tergantikan—baik sebagai pelindung maupun sebagai mitra ekonomi,” tegas Collins Chong Yew Keat.