Sejarah Freedom Flotilla Coalition: Armada Solidaritas Global Melawan Blokade Gaza

Apa yang membawa Freedom Flotilla nekat menembus blokade Israel atas Gaza sekalipun taruhannya nyawa?

Diperbarui 03 Juni 2025, 12:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Aktivis iklim Greta Thunberg dan aktor asal Irlandia Liam Cunningham turut serta dalam misi kemanusiaan yang diinisiasi oleh organisasi nirlaba internasional Freedom Flotilla Coalition (FFC). Salah satu kapal mereka, Madleen, berlayar meninggalkan Pelabuhan Catania, Italia, pada Minggu (1/6/2025), menuju Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan.

Pelayaran ini dilakukan setelah upaya serupa sebelumnya gagal akibat serangan drone terhadap kapal lain milik FFC di Laut Mediterania.

Madleen membawa sejumlah relawan dan aktivis yang berkomitmen menembus blokade dan menyampaikan solidaritas kepada rakyat Palestina di Gaza.

Lantas apa itu Freedom Flotilla Coalition dan bagaimana sejarahnya?

Dikutip dari laman freedomflotilla.org, Selasa (3/6/2025) FFC adalah gerakan solidaritas global akar rumput yang dibentuk dari berbagai kampanye dan inisiatif masyarakat sipil di seluruh dunia. Sejak awal, tujuannya satu: mengakhiri blokade ilegal Israel terhadap Jalur Gaza yang telah berlangsung selama lebih dari 17 tahun.

Blokade ini telah menciptakan krisis kemanusiaan berkepanjangan, merampas hak dasar warga Palestina di Gaza, termasuk hak atas kesehatan, keselamatan, dan kebebasan bergerak. FFC lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap kondisi tidak manusiawi ini dan sebagai dukungan nyata terhadap perjuangan rakyat Gaza untuk mendapatkan kembali martabat dan kebebasan mereka.

Awal Mula: Menanggapi Seruan dari Gaza

Freedom Flotilla Coalition resmi terbentuk pada tahun 2010. Namun, semangat perlawanan terhadap blokade Gaza sudah tumbuh sejak jauh sebelumnya. Koalisi ini dibentuk sebagai respons terhadap seruan masyarakat dan organisasi sipil Palestina di Gaza yang mencari solidaritas global untuk melawan pengepungan yang mereka hadapi.

Sejak saat itu, FFC merancang aksi-aksi langsung yang bersifat damai dan non-kekerasan, dengan menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia. Mereka tidak terafiliasi dengan partai politik, faksi, atau pemerintah mana pun. Fokus mereka adalah pada kerja sama dengan organisasi sipil untuk mendukung kemanusiaan dan martabat rakyat Palestina.

 

Misi FFC: Edukasi, Aksi dan Solidaritas

Selain menembus blokade secara simbolis lewat pengiriman armada bantuan, FFC juga memiliki misi penting untuk mendidik masyarakat dunia. Mereka mengangkat fakta bahwa penderitaan di Gaza bukanlah akibat bencana alam, melainkan hasil dari keputusan politik dan militer yang disengaja.

FFC juga secara terbuka mengkritisi peran negara-negara lain yang turut mendukung kelangsungan blokade ini, terutama Amerika Serikat. Dukungan militer AS kepada Israel mencapai sekitar 4 miliar dolar setiap tahun, dan veto-veto yang diberikan di Dewan Keamanan PBB telah lama menjadi tameng Israel dari kecaman internasional atas pelanggaran hak asasi manusia.

Komitmen Terhadap Kemanusiaan

Dalam setiap misinya, Freedom Flotilla Coalition menegaskan komitmennya terhadap keadilan dan hak asasi manusia universal, tanpa memandang ras, agama, etnis, gender, atau latar belakang lainnya. Mereka percaya bahwa solidaritas bukan hanya soal bantuan materi, tetapi juga tentang menunjukkan bahwa dunia tidak menutup mata terhadap penderitaan Gaza.