, Berlin - Pertanyaan seputar metode belajar yang lebih efektif, menulis dengan tangan atau mengetik, seringkali muncul, terutama di era digital saat ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menulis tangan memberikan keunggulan signifikan dalam proses belajar, khususnya dalam hal pemahaman dan mengingat informasi. Mengapa demikian?
Jawaban singkatnya, merangkum sejumlah sumber, menulis tangan memaksa otak untuk memproses informasi secara lebih aktif dibandingkan mengetik. Proses menulis tangan, mulai dari merangkum, memilah, hingga menyusun ide menjadi kalimat yang ringkas, melibatkan elaborasi yang mendalam. Hal ini memperkuat pemahaman dan retensi informasi dalam jangka panjang. Sebaliknya, mengetik, terutama dengan kecepatan tinggi, cenderung bersifat pasif dan hanya mencatat informasi secara verbatim tanpa pengolahan mendalam.
Selain itu, menulis tangan juga terbukti meningkatkan pemahaman karena kita cenderung meringkas informasi penting, bukan sekadar menyalin. Proses seleksi dan penyaringan informasi inilah yang mendorong pemahaman konseptual yang lebih baik. Ini berbeda dengan mengetik yang memungkinkan penyalinan informasi secara langsung tanpa proses kognitif yang mendalam.
Advertisement
Meskipun tulisan tangan lebih lambat daripada mengetik, hal ini tidak selalu merugikan. Kelambatan alamiah memaksa kita untuk memproses informasi secara lebih intensif.
Kita meringkas apa yang telah kita dengar atau pikirkan dengan yang lebih jelas, kita menyoroti kata-kata kunci atau kutipan ringkas, terkadang kita pun membuat penghubung dengan panah atau tanda lainnya, kita pun terlibat lebih intensif dengan isin tulisan kita. Dengan demikian, kita dapat mengingat isi tulisan tersebut lebih lama.
Laporan DW Indonesia, yang dikutip Rabu (30/4/2025), menyebut selama bertahun-tahun, Asosiasi Pendidikan dan Pelatihan Jerman telah mengeluh tentang menurunnya keterampilan menulis dan meningkatnya defisit motorik di antara anak-anak sekolah. Menurut "Studi tentang perkembangan, masalah, dan intervensi dalam tulisan tangan” (STEP 2022), semakin banyak anak yang mengalami masalah untuk menulis dengan jelas dan cepat. Pembatasan sosial dan homeschool selama pandemi virus corona telah memperburuk tren ini.
Dengan bertambahnya usia, pada masa remaja dan dewasa muda, tulisan tangan menjadi semakin tidak terbaca bagi banyak orang - sebagian karena kurangnya rutinitas dankerapihan dalam menulis.
Tulisan Tangan Bantu Berpikir dan Belajar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2714576/original/034313800_1548655054-writing-1209121_960_720.jpg)
Salah satu alasan utama mengapa menulis tangan lebih efektif adalah karena ia memperkuat memori. Proses menulis secara manual melibatkan lebih banyak area otak, sehingga informasi terukir lebih kuat dalam ingatan. Ini berbeda dengan mengetik yang cenderung lebih mekanis dan kurang melibatkan proses kognitif yang mendalam. Dengan menulis tangan, kita dipaksa untuk memproses informasi secara lebih aktif, sehingga pemahaman konseptual pun meningkat.
Lebih lanjut, menulis tangan juga meningkatkan kemampuan mengingat informasi. Proses menulis secara manual menciptakan 'kait' ingatan di otak melalui pengalaman sensorik yang lebih kaya, meliputi sentuhan, penglihatan, dan pendengaran (suara pena di atas kertas). 'Kait' ingatan ini memudahkan pengambilan kembali informasi saat dibutuhkan.
Tidak hanya itu, menulis tangan juga melatih keterampilan motorik halus yang penting untuk perkembangan kognitif, terutama pada anak-anak. Keterampilan ini ternyata berkaitan erat dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi.
Mengetik pada papan ketik memang memudahkan, terutama untuk teks yang panjang, karena struktur teks dapat diubah sesuka hati. Koreksi otomatis menghapus kesalahan sederhana, membuat penulisan lebih cepat, mudah dibaca, dan kurang melelahkan.
Sebuah penelitian di Norwegia pada tahun 2024 menemukan bahwa menulis dengan tangan meningkatkan aktivitas otak terutama di bagian otak yang berperan penting dalam proses belajar.
Interaksi yang lebih kuat dapat diukur pada area otak yang mengatur kinerja memori dan pemrosesan informasi motorik dan visual.
Selain itu, saat menulis, otak membandingkan tulisan yang dihasilkan dengan model huruf dan kata yang telah dipelajari serta secara responsif menyesuaikan posisi jari. Mata dan otak secara konstan memantau apakah jari-jari mengarahkan pena dengan benar, memberikan tekanan yang tepat, dan membuat garis yang jelas saat menulis. Hal ini memerlukan koordinasi yang sangat tepat antara proses visual dan motorik. Kombinasi informasi visual dan pemrosesan informasi inilah yang mendorong pembelajaran, menurut penelitian tersebut.
Advertisement
Keterampilan Menulis yang Berusia Ribuan Tahun Dilupakan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4993492/original/087315800_1730893073-pexels-fotios-photos-851213.jpg)
Menulis dengan tangan adalah salah satu teknik budaya yang paling penting. Ribuan tahun yang lalu, orang sudah mengukir informasi di tanah liat atau batu atau menuliskannya dengan tinta di atas daun lontar, perkamen, atau papirus. Sebelum ditemukannya mesin cetak, tulisan tangan adalah satu-satunya cara merekam bahasa pada sebuah media.
Aksara tertua berusia sekitar 5.000 hingga 6.000 tahun: Bangsa Sumer mengembangkan aksara paku di daerah yang sekarang dikenal sebagai Irak, untuk mengatur perdagangan mereka. Aksara pada gambar terdiri dari sekitar 900 piktogram dan ideogram, yaitu simbol dan tanda yang digoreskan pada lempengan tanah liat yang lembab dengan tongkat kayu. Seiring berjalannya waktu, "tulisan tangan” ini berkembang menjadi berbagai jenis tulisan dan alfabet modern.
Lain halnya dengan berbicara, menulis dulunya adalah kemapuan yang hanya dimiliki kaum minoritas, yaitu kaum bangsawan, intelektual, dan pedagang. Semakin banyak orang yang dapat membaca dan menulis saat ini, perubahan ini dikarenakan adanya pendidikan wajib yang mulai diperkenalkan pada abad ke-20.
Pada tahun 1820, hanya 12 persen dari populasi dunia yang bisa membaca dan menulis. Saat ini, proporsinya telah berbalik: menurut UNESCO, hanya sekitar 13 persen orang di seluruh dunia yang tidak dapat membaca atau menulis. Setengah dari sekitar 765 juta orang yang buta huruf tinggal di Asia Selatan, lebih dari seperempatnya tinggal di sub-Sahara Afrika. Dua pertiga dari orang yang buta huruf di seluruh dunia adalah perempuan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414164/original/000004000_1782298740-Cek_fakta_-_rumor_ukraina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1638552/original/012829900_1654749408-DW_logo_100x100.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2756618/original/092355700_1553080558-composition-1837242_960_720.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/42/original/030046100_1469523349-Tanti_Edit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263365/original/096832600_1781914237-063_2282418040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258625/original/008972500_1781391455-000_B6Z46X3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262510/original/043477700_1781827837-AP26169828495121-Kanada_Piala_Dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542959/original/069384900_1775008055-Italia_vs_Bosnia-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264262/original/083963700_1782102827-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263474/original/094364200_1781931705-paraguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8415599/original/012053300_1782300444-turki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263847/original/059626700_1782021744-000_B7RA6W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263738/original/072928200_1781986742-Crysencio_Summerville.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259148/original/073901100_1781485988-diallo.jpg)