Mengenal Aquafade, Inovasi Ramah Lingkungan untuk Kurangi Limbah Elektronik

Limbah elektronik global terus meningkat, namun inovasi plastik larut air bernama Aquafade menawarkan solusi baru.

Diterbitkan 10 April 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Seiring meningkatnya konsumsi global terhadap komputer, ponsel pintar, dan perangkat elektronik lainnya, sisi gelap dari kemajuan teknologi—limbah elektronik atau e-waste—kian memprihatinkan.

Mengutip CNN, Kamis (10/4/2025), laporan PBB yang dirilis tahun lalu mencatat bahwa pada 2022, dunia menghasilkan 62 juta ton limbah elektronik. Jumlah itu setara dengan 1,5 juta truk yang jika disusun berjejer, bisa mengelilingi khatulistiwa.

Sebagian besar e-waste dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar, berisiko mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia karena kandungan zat beracun seperti merkuri dan timbal.

Selain dampak lingkungan, kerugian ekonomi pun sangat besar.

Sekitar USD 62 miliar potensi sumber daya yang bisa didaur ulang—termasuk elemen tanah jarang—hilang setiap tahun. Padahal, elemen-elemen tersebut sangat penting bagi perangkat elektronik modern. Saat ini, hanya 1 persen dari kebutuhan global akan elemen tanah jarang yang dipenuhi melalui daur ulang e-waste.

Dengan volume e-waste yang tumbuh lima kali lebih cepat dibandingkan tingkat daur ulangnya, solusi inovatif sangat dibutuhkan.

Salah satunya adalah Aquafade, plastik yang larut sepenuhnya dalam air dalam waktu sekitar enam jam. Bahan ini dapat digunakan sebagai casing perangkat elektronik seperti komputer atau keyboard, lalu dilarutkan ketika perangkat tidak lagi digunakan. Ini akan memudahkan proses daur ulang dan pemulihan komponen bernilai tinggi, serta mengurangi jumlah limbah elektronik.

"Masalah terbesar dalam mendaur ulang produk elektronik adalah proses pembongkaran, yang sangat rumit dan memakan banyak tenaga kerja," kata Samuel Wangsaputra, salah satu pencipta Aquafade.

"Yang menarik dari Aquafade adalah proses itu bisa dilakukan secara terdesentralisasi, bahkan di rumah."

 

Berawal Ide Sederhana

Inspirasi Aquafade datang dari hal sederhana: saat Wangsaputra sedang mencuci piring dan memperhatikan pod mesin pencuci piring yang terbungkus film larut air. Dari situ, ia mulai bereksperimen dan mendapati bahwa bahan tersebut benar-benar larut.

Bersama Joon Sang Lee, rekannya di startup asal Inggris bernama Pentaform, mereka bekerja sama dengan ilmuwan material dari Imperial College London, Enrico Manfredi-Haylock dan Meryem Lamari. Mereka menemukan bahwa PVOH (polyvinyl alcohol)—bahan seperti lem stik—bisa menjadi kunci. Selain aman jika tertelan, PVOH juga dapat terurai dalam sistem limbah.

Wangsaputra menyadari bahwa pengangkutan limbah elektronik merupakan hambatan besar dalam proses daur ulang, baik dari sisi biaya maupun emisi karbon. Jika casing plastik bisa dihilangkan di rumah, proses daur ulang menjadi lebih efisien.

 

Didukung Pemerintah Inggris

Proyek Aquafade didukung pendanaan dari pemerintah Inggris dan kini tengah dikembangkan di Royal College of Arts, London.

Tantangan utama adalah menciptakan pelapis luar yang tahan air namun tetap dapat terurai. Lapisan ini memungkinkan perangkat tahan air hingga kedalaman lima meter selama 30 menit—cukup untuk menahan tumpahan air atau kondisi lembap. Namun, cukup dengan membuka satu sekrup, casing akan mulai bocor dan larut jika direndam air. Setelah lima hingga enam jam, hanya tersisa air keruh dan komponen elektronik bernilai tinggi.

Air larutan tersebut dapat langsung dibuang ke wastafel atau toilet dan akan terurai lebih lanjut di sistem pembuangan.

Aplikasi komersial pertama Aquafade kemungkinan besar akan digunakan sebagai casing gelang LED yang biasa dipakai di konser.

"Setelah satu kali pakai, ribuan gelang langsung dibuang. Produk ini sederhana dan kami sedang menjajaki kerja sama dengan salah satu penyedia gelang terbesar," ujar Joon Sang Lee.

Â