Sukses

Miliarder Pertambangan Australia Sumbang Rp 391,7 T Bantu Rekonstruksi Ukraina

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder pertambangan asal Australia, Andrew Forrest akan menyumbangkan dana yang diperkirakan bernilai USD 25 miliar atau sekitar Rp 391,7 triliun, untuk membantu membangun kembali infrastruktur Ukraina yang rusak akibat perang.

Dilansir BBC, Kamis (17/11/2022) dana itu disalurkan oleh Forrest dan istrinya, Nicola melalui inisiatif Ukraine Green Growth Initiative, yang dibuat untuk mendukung investasi dalam infrastruktur utama Ukraina seperti energi dan jaringan telekomunikasi.

Keduanya bahkan menyuntikkan dana hingga USD 500 juta (Rp 7,8 triliun) untuk mendukung inisiatif tersebut, yang  juga bekerja sama dengan Larry Fink, ketua raksasa investasi BlackRock.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut baik langkah tersebut.

"Kami akan mengambil keuntungan dari fakta bahwa apa yang telah dihancurkan Rusia dapat dengan mudah diganti dengan infrastruktur hijau dan digital terbaru, paling modern," ujar Zelensky.

Sejak mulai mengerjakan dana investasi pada awal Maret 2022, Forrest mengatakan dia telah membahas rencana tersebut dengan sejumlah pemimpin dunia termasuk Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Inggris saat itu Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

"Presiden (Zelensky) melihat langkah itu sebagai peluang untuk sepenuhnya mengganti pembangkit listrik tenaga batu bara (dan) nuklir lama dengan energi hijau baru," kata Forrest kepada BBC.

"Modal itu akan tersedia segera setelah pasukan Rusia dipindahkan dari Ukraina," tambahnya.

Sebagai informasi, Forrest sebagian besar mengumpulkan kekayaannya dari pertambangan Australia. Dia adalah pendiri dan ketua eksekutif raksasa bijih besi Fortescue Metals.

Dalam beberapa tahun terakhir, sang miliarder telah mengalihkan perhatiannya ke teknologi berkelanjutan, dengan inisiatif untuk mendekarbonisasi operasi penambangannya dan menjadi produsen utama hidrogen hijau.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Deklarasi G20 Dirilis, Anggota G20 Minta Rusia Hentikan Perang di Ukraina

G20 Bali Leaders Declaration atau Deklarasi Para Pemimpin Dunia di KTT G20 sudah dirilis. Salah satu poin yang paling menarik adalah respons negara anggota G20 soal perang Rusia dan Ukraina.

Deklarasi yang ada di poin ketiga tersebut menyebutkan:

"Tahun ini, kita juga telah menyaksikan perang di Ukraina yang berdampak buruk pada perekonomian dunia. Ada diskusi tentang masalah ini. Kami menegaskan kembali posisi nasional dalam forum lain, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB, yang mana telah ada pada Keputusan No. ES-11/1 tanggal 2 Maret 2022 diambil berdasarkan suara terbanyak (141 suara mendukung, 5 menentang, 35 abstain, 12 tidak hadir.”

Dalam poin tersebut juga dijelaskan bahwa negara anggota G20 banyak yang menyesalkan tindakan Rusia.

"Banyak yang menyesalkan agresi Federasi Rusia melawan. Sebagian besar anggota sangat mengutuk perang di Ukraina dan menekankan hal itu telah menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk keadaan yang ada, termasuk kerentanan dalam ekonomi global, menghambat pertumbuhan, meningkatkan inflasi, mengganggu pasokan rantai, meningkatkan kerawanan energi dan pangan, serta meningkatkan risiko stabilitas keuangan”

“Menyadari itu G20 bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan, kami mengakui bahwa masalah keamanan dapat memiliki konsekuensi yang signifikan bagi perekonomian global."

3 dari 4 halaman

Zelensky Sebut 'G19' Harus Sepakat Akhiri Perang Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada para pemimpin dunia pada KTT G20 Bali -- melalui pidato virtualnya -- bahwa perang Rusia harus diakhiri sekarang.

Dikutip dari laman BBC, Selasa (15/11/2022), dia juga memohon perpanjangan kesepakatan ekspor biji-bijian yang signifikan yang akan segera berakhir.

Zelensky muncul dalam video pidatonya kepada para pemimpin yang berkumpul di Pulau Bali, Indonesia.

Vladimir Putin, pemimpin Rusia -- anggota G20 -- menolak untuk hadir dan mengirim menteri luar negerinya Sergei Lavrov sebagai gantinya.

Dalam videonya yang pertama kali dilaporkan oleh AFP, Zelensky mengatakan: "Saya yakin sekaranglah saatnya perang destruktif Rusia harus dan dapat dihentikan."

Dia menguraikan sejumlah strategi, termasuk memastikan keamanan nuklir dan pangan, mengakhiri permusuhan, dan mencegah eskalasi.

Dia berulang kali menyebut para pemimpin dalam forum itu sebagai "G19" -- dengan tegas mengecualikan Rusia.

Yang paling utama di antara permintaannya adalah perpanjangan kesepakatan biji-bijian Laut Hitam yang dibuat pada Juli antara Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Rusia.

Kesepakatan itu telah memastikan bahwa ekspor makanan yang diblokir di pelabuhan Ukraina oleh kapal perang Rusia dapat dikirim keluar.

PBB mengatakan sejak kesepakatan dimulai, 10 juta ton biji-bijian dan makanan lainnya telah berhasil diekspor, membantu mencegah krisis pangan global.

Namun kesepakatan itu akan segera berakhir pada 19 November. Berbicara pada hari Selasa di sesi G20 tentang ketahanan pangan, Zelensky mengatakan kesepakatan itu harus diperpanjang tanpa batas waktu, "tidak peduli kapan perang berakhir".

"Hak atas pangan adalah hak fundamental setiap orang di dunia," katanya, mengusulkan untuk memperluas kesepakatan ke pelabuhan lain di wilayah Mykolaiv.

4 dari 4 halaman

Senator AS di Ukraina Janjikan Bantuan Menjelang Musim Dingin

Beberapa waktu sebelumnya, dua senator Amerika Serikat bertemu dengan keluarga Ukraina di ibu kota Kyiv dan menjanjikan dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan untuk negara yang dilanda perang itu, saat musim dingin semakin dekat.

Chris Coons dari Demokrat dan Rob Portman Republik menekankan janji mereka kepada rakyat Ukraina ketika berbicara kepada beberapa keluarga Ukraina yang bersiap menghadapi musim dingin yang gelap dengan pemanas dan listrik yang tidak memadai.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan, serangan Rusia pada prasarana energi melumpuhkan 40% dari sistem energi negara itu, sehingga memutus aliran listrik untuk puluhan ribu orang. Perjalanan Coons dan Portman yang dilakukan pada Kamis itu terjadi kurang dari seminggu sebelum pemilu paruh waktu yang penting bagi Amerika Serikat. Coons mengatakan, pemilu apa pun hasilnya, tidak akan mempengaruhi dukungan masa depan untuk Ukraina.

“Rusia membalas keberhasilan Ukraina di medan perang itu dengan sekali lagi menyerang bukan di medan perang, namun menyerang warga sipil Ukraina, dengan berupaya mematikan lampu, pemanas, dan aliran air, dikutip dari VOA Indonesia, Sabtu (5/11/2022).

Sejak invasi Rusia ke Ukraina Februari lalu, pemerintah AS telah memberi bantuan kemanusiaan US$ 1,5 miliar kepada jutaan orang di Ukraina dan negara-negara tetangga, menurut Badan Pembangunan Internasional AS.

Bulan lalu, AS mengumumkan investasi lima tahun bernilai US$ 55 juta dalam prasarana pemanas Ukraina untuk mendukung perbaikan dan pemeliharaan pipa serta peralatan lain yang diperlukan untuk memanaskan perumahan, rumah sakit, sekolah, dan bisnis.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS